PDT Oke Asal Berkualitas : Harian Berita Sore

PDT Oke Asal Berkualitas

29 April 2008 | 15:20 WIB

Akankah dunia pariwisata Sumut akan lebih baik di era Gubsu terpilih H Syamsul Arifin ? Kita berpikiran positif sajalah, mudah-mudahan ya. Namun begitu, kalau kita mau membandingkan kinerja Bupati Langkat dua periode itu, harapan itu rada mengganjal, mengapa? Sebab, dunia pariwisata di Langkat saja kurang mendapat perhatian, sehingga jumlah turis ke Bukit Lawang misalnya bukannya semakin banyak tetapi semakin sedikit. Hanya turis berjiwa petualangan saja yang nekat ke Bahorok, melihat kondisi infrastrukturnya demikian parah, khususnya masalah jalan.

Kalau saja, sang Bupati mau, tentu tidaklah sulit untuk mengaspal jalan menuju Bahorok sana. Namanya saja daerah turis sehingga sarana dan prasarananya haruslah dibuat baik. Lewat anggaran belanja daerah hal itu bisa diupayakan oleh bupati, atau dengan mengundqng investor. Nyatanya, hal itu tidak terwujud. Malahan kondisi hutan di Langkat yang kelihatan  semakin hancur akibat mafia illegal logging.

Kalau demikian halnya, bagaimana nasib dunia pariwisata Sumut yang lebih kompleks? Hal inilah yang menjadi tanda tanya besar bagi dunia wisata Sumut. Apalagi dalam waktu dekat ini akan digelar Pesta Danau Toba.

Harapan orang-orang pariwisata, di bawah pemerintahan  H. Syamsul Arifin nanti  pembangunan di Sumut semakin berkembang, termasuk dunia pariwisatanya.  Sehingga harapan Ketua Badan Pariwisata Daerah (Bawisda) Sumut Henry Hutabarat akan mengembalikan citra dan kejayaan pariwisata Sumut era tahun 1990an bisa diraih kembali secara cepat dan Sumut masuk dalam VIY.

Memalukan sekali memang kalau Sumut sudah tidak tercantum lagi dalam kalender Visit Indonesian Year. Hal ini disebabkan objek wisata di Sumut terbilang unggulan dan sangat diminati para turis dalam dan luar negeri.

Dunia pariwisata Indonesia sangat dikenal di mancanegara, tetapi sayangnya pada umumnya sekarang ini mereka hanya kenal Bali sebagai ’’ikon’’ pariwisata utama, sedangkan ratusan objek  wisata lainnya tersebar di seluruh Indonesia tidak begitu dikenal, termasuk Danau Toba di Sumut yang  panoramanya sangat indah.

Lebih memprihatinkan lagi,  sejumlah objek wisata di Sumut yang sebelumnya masuk dalam kalender dan tujuan utama pariwisata Indonesia, kini tidak jadi andalan lagi.  Padahal, Sumut memiliki banyak objek wisata alam, sejarah dll seperti Danau Toba  (Parapat, Tuktuk), Berastagi, Istana Maimoon, Bukit Lawang dll.

Dulu, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) sangat banyak mengunjungi Sumut. Baik wisman maupun wisatawan lokal ramai mengunjungi Danau Toba dan objek wisata lainnya di berbagai kabupaten/kota. Apalagi saat Pesta Danau Toba (PDT) digelar tahun 1970-an.

Citra pariwisata Sumut benar-benar bersinar di mata dunia internasional. Namun kini, jumlah kunjungan wisata berkurang drastis, baik turis asing maupun lokal, sehingga  Parapat sepi, Tomok sepi, Bukit Lawang sepi, Istama Maimoon dan lain-lainnya ikut terkena imbas sepinya wisatawan asing, terutama dari Eropa dan  Amerika.

Kalau Pemerintah Provinsi Sumut  masih tetap mau menghidupkan Pesta Danau Toba 2008 yang  disebut-sebut bakal digelar 13 -16 Juni mendatang, hal itu positif. Tapi, panitianya harus profesional dan mau bekerja keras. Tidak hanya sekadar kerja  rodi, pokoknya PDT berlangsung.

Soal sepi pengunjung tidak menjadi soal. Kalau pikirannya seperti itu, maka sebaiknya PTD tersebut  ditiadakan atau ditunda saja. Sebab, dipastikan tidak bakal sukses. Yang ada nantinya penyesalan, uang habis, tujuan tidak tercapai.  Oleh karena itu kita oke-oke saja PDT digelar asalkan dengan konsep yang matang sehingga hasilnya benar-benar maksimal dan memuaskan.=

Comments

Got something to say?

You must be logged in to post a comment.