BI Perkirakan Inflasi Tahunan April Lebih Tinggi
29 April 2008 | 15:44 WIB
Jakarta ( Berita ): Bank Indonesia (BI) memperkirakan tingkat inflasi year on year (yoy) pada April 2008 akan lebih tinggi namun secara bulanan (month to month) akan lebih rendah.
“Inflasi April tampaknya akan lebih tinggi ya yoy-nya, kalau month of month lebih rendah dari bulan lalu,” kata Deputi Gubernur Senior Gubernur BI, Miranda S. Goeltom.
Miranda mengatakan hal itu usai pertemuan di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Selasa [29/04] . Hadir pula dalam pertemuan yang hanya berlangsung sekitar 15 menit itu, Deputi Gubernur BI, Hartadi A. Sarwono. Menurut Miranda, penyumbang utama inflasi pada April 2008 masih sama dengan penyebab bulan sebelumnya yaitu faktor makanan.
Mengenai BI Rate, Miranda mengatakan, belum ada keputusan dan baru akan diputuskan pada 8 Mei 2008 nanti. Sementara itu Hartadi mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat BI rate. “Nanti kita lihat minggu depan, kita kan ada RDG, sekarang kita kumpuLkan dulu data-datanya, nanti akan kita coba announce, kita pertimbangkan itu, harga minyak, inflasi, dan ekspor,” katanya.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, laju inflasi selama bulan Maret 2008 mencapai 0,95 persen, tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Maret 2008) mencapai 3,41 persen, dan inflasi year on year sebesar 8,17 persen. Sebelumnya BPS mencatat tingkat inflasi pada Februari 2008 mencapai 0,65 persen, tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Februari 2008) sebesar 2,44 persen, dan tingkat inflasi tahunan (year on year) atau Februari 2008 terhadap Februari 2007 sebesar 7,40 persen.
Inflasi April
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan laju inflasi pada bulan April akan lebih didorong oleh kelompok non makanan mengingat kelompok makanan yang telah “menjinak”
“Untuk pertama kalinya pada tahun ini, laju inflasi kelompok non makanan akan menjadi pendorong utama inflasi April,” kata Kepala BPS, Rusman Heriawan kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Dia juga memperkirakan hingga akhir tahun nanti laju inflasi tahunan akan tetap didominasi oleh kelompok non makanan, mengingat upaya keras pemerintah untuk menjamin ketersediaan bahan pangan dan bahan pendukung pangan. “Kelompok non makanan yang dimaksud seperti pakaian dan properti,” katanya.
Meski relatif lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya, Rusman menyatakan, inflasi April, yang akan diumumkan pada Jumat, 2 Mei mendatang, tidak akan menyamai catatan tahun sebelumnya, dimana Indonesia mengalami deflasi 0,16 persen. “Memang ada penurunan inflasi, tetapi tidak bisa menjadi deflasi seperti tahun lalu,” katanya.
Menurut Survei Biaya Hidup (SBH) 2002, bobot kelompok bahan makanan pada perhitungan baki inflasi sendiri mencapai 28,68 persen, dengan bobot kelompok makanan keseluruhan mencapai sekitar 42 persen. Pada Januari 2008, sumbangan kelompok bahan makanan pada inflasi mencapai 2,77 persen; serta di kelompok makanan jadi, minuman dan rokok sebesar 2,02 persen.
Sedangkan pada Februari, sumbangan kelompok bahan makanan 1,59 persen; serta makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,88 persen. Pada Maret, kelompok bahan makanan menyumbang inflasi 0,38persen; serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,19 persen. ( ant )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.