350 Ribu HA Lahan Sawah Di Aceh Terapkan Teknologi PTT
29 April 2008 | 15:40 WIB
Banda Aceh ( Berita ) : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) akan menerapkan teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah di lahan seluas 350 ribu hektare yang tersebar di kabupaten/kota untuk meningkatkan produksi gabah di daerah itu.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Provinsi NAD Asrin di Banda Aceh, Selasa [29/04] mengatakan, hasil uji coba teknologi PTT padi sawah di Kabupaten Pidie Jaya ternyata hasilnya sangat memuaskan, yakni 10 ton/Ha, sehingga cara itu perlu diterapkan ke seluruh Aceh.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Aceh telah melakukan uji coba dengan teknologi PTT seluas 200 ha di Kecamatan Meurdueu, Pidie Jaya, dan ternyata produktivitasnya meningkat 100 persen lebih dibandingkan sebelumnya 4-5 ton/ha.
Aceh kini memiliki lahan sawah yang produktif seluas 350 ribu ha dengan produksi gabah kering panen sebanyak 1,5 juta ton/tahun. “Seandainya penerapan teknologi PTT dilakukan pada lahan seluas 350 ribu ha, maka produksi gabah mengalami peningkatan hingga 3 juta ton/tahun. Ini berarti Aceh memiliki andil besar untuk membantu ketahanan pangan di Indonesia,” katanya.
Asrin menjelaskan, teknologi tersebut sudah diterapkan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang lebih dikenal dengan padi “Acong” yang produktivitasnya mencapai 10 ton/ha. “Sebenarnya, Pemerintah Kabupaten Abdya menerapkan teknologi PTT, karena sistem penanamannya sama,” ujarnya.
Kepala BPTP Provinsi NAD, Ir T Iskandar MS menyatakan, sudah selayaknya petani di Aceh menggunakan teknologi PTT, karena disamping mampu meningkatkan produktivitas, juga menghemat biaya hampir 50 persen. Komponen yang perlu diterapkan pada teknologi PTT adalah benih muda yang berumur 15-17 hari dengan jumlah bibit 15 Kg/ha.
Selama ini yang diterapkan petani umum bibit sudah mencapai 30-40 hari dan bibit yang disemai mencapai 40 Kg/ha. “Jadi, pada teknologi PTT bibit yang ditanam tersebut cukup satu batang, tidak boleh lebih, karena pada umur tertentu satu batang tersebut akan menjadi banyak. Dan benih yang disemai cukup 15 Kg/ha, sehingga terjadi penghematan,” ujarnya.
Kemudian, pupuk yang digunakan hanya pupuk kandang atau kompos, sedangkan pupuk buatan, Urea, tetap digunakan tapi tidak banyak. “Saya kira untuk pupuk kandang tidak ada masalah, karena di Aceh banyak ternak sapi, sehingga kotorannya bisa dimanfaatkan,” katanya. ( ant )



Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.