Perusahaan Multinasional Pemicu Pembabatan Hutan
23 April 2008 | 17:20 WIB
Perubahan iklim sedang menghantui bumi, bukan saja akibat pembakaran bahan bakar fosil, tapi juga degradasi dan terbakarnya hutan gambut
Saat ini
Selama 50 tahun terakhir, 74 juta hektare hutan Indonesia seluas tiga kali wilayah Inggris dihancurkan, diambil kayunya, diambil bubur kertasnya kemudian produknya dikapalkan ke seluruh dunia.
Kerusakan hutan
Sedangkan lahan gambut, lebih jauh lagi, adalah tempat penyimpanan karbon terpenting, karena meski hanya meliputi tiga persen saja dari permukaan tanah dunia, gambut menyimpan seperlima hingga sepertiga dari total karbon yang ada di biosfer.
Menurut Wetland International simpanan itu besarnya 528 miliar ton karbon. Dengan demikian, menurut catatan pakar lingkungan M Silvius Hooijer, jika seluruh gambut dibakar atau dirusak, maka akan dilepas 1.935 miliar ton CO2 atau 190 kali emisi tahunan global dari pembangkit listrik tenaga fosil dunia saat ini.
Gambut tropis sangat kaya karbon.
Di Asia Tenggara, gambut menyimpan rata-rata 60 kg karbon setiap meter kubik, sehingga secara total menyimpan 42 miliar ton karbon atau setara dengan 15 tahun emisi global dari pembangkit listrik fosil saat ini.
Dari 27,1 juta hektare lahan gambut di Asia Tenggara, 83 persen berada di Indonesia. Sejauh ini, 10 juta dari 22,5 juta ha lahan gambut di Indonesia telah dibabat dan dikeringkan untuk keperluan perkebunan, bukan saja untuk memperoleh kayu dan kertasnya, tetapi yang juga sedang “booming”, untuk memenuhi kebutuhan minyak kelapa sawit dunia. Karena itu, ekspansi perkebunan kelapa sawit diperkirakan tak akan pandang bulu bakal merambah ke lahan gambut yang merupakan tempat penyimpanan karbon tertinggi konsentrasinya di dunia.
Terlibat
Berhubung permintaan dunia akan kelapa sawit melonjak pesat, selain enam juta ha lahan kelapa sawit yang telah ada saat ini pemerintah berencana menambah lagi empat juta ha pada 2015.
Pemerintah provinsi bahkan lebih ambisius lagi dalam perluasan perkebunan kelapa sawit dan berencana menambah 20 juta ha, dan 80 persen dari rencana itu ada di Sumatera dan Kalimantan, sisanya tiga juta ha di Papua. Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Hapsoro menyatakan prihatin atas hal tersebut.
Menurut dia, saat ini lebih dari seperempat perkebunan kelapa sawit Indonesia sudah berada di lahan gambut. Karena itu deforestasi yang lebih luas ke lahan gambut harus dicegat.
Dalam laporan terakhirnya berjudul “Burning up Borneo”, Greenpeace membeberkan bukti yang menunjukkan pemasok minyak sawit Unilever, perusahaan multinasional kosmetik, adalah perusak hutan lahan gambut.
Unilever menggunakan 1,3 mega ton minyak sawit dan turunannya setiap tahun, tiga persen dari produksi global separuhnya dipasok dari Indonesia, katanya. “Analisis pemetaan, data satelit dan investigasi lapangan kami antara Februari-April 2008 di perkebunan sawit Kalimantan Tengah menunjukkan bagaimana ekspansi yang dipimpin oleh perusahaan-perusahaan pemasok Unilever dalam merusak lahan gambut sekaligus habitat orangutan di sana,” katanya.
Sebagai inisiator Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), asosiasi perusahaan yang mengimplementasikan produksi minyak sawit berkelanjutan, menurut dia, Unilever telah gagal. Kelompok yang memiliki 200 anggota ini secara keseluruhan juga telah mengabaikan perluasan industri ke hutan tropis dan lahan gambut, dan membiarkan terjadinya perubahan iklim besar-besaran di bumi dengan caranya itu, ujarnya.
Selain Unilever, pedagang komoditi global ADM-Kuok-Wilmar yang juga anggota RSPO, juga memiliki seluruh mata rantai kendali minyak sawit, mulai dari perkebunannya sampai dengan pengolahan minyaknya. ADM-Kuok-Wilmar yang memiliki sejarah pembabatan hutan sejak dua dekade terakhir, ujarnya, memiliki banyak aliansi dalam memasok sawit dan memiliki banyak area konsesi di lahan gambut Indonesia.
Perdagangan minyak sawit yang dilakukannya itu, semakin disayangkan, mencampur minyak sawit dari pembalakan hutan gambut, sehingga pasokan tidak bisa lagi diidentifikasikan di pasar global, dan “embelian betanggung jawab” tidak mungkin dilakukan.
Sementara itu, dokumen Greenpeace mengindikasikan Sinar Mas, yang juga anggota RSPO, memiliki rencana jauh ke depan dengan menargetkan penguasaan hingga 2,8 juta ha hutan tropis di Papua unuk dikonversi ke kelapa sawit, lengkap dengan rencana pembangunan pabrik biodiesel.
Karena hukum Indonesia satu perusahaan tidak dapat menguasai lebih dari 200 ribu ha di Papua, maka Sinar Mas telah membentuk 14 anak perusahaan. Hapsoro mengatakan, pedagang komoditi dan pemain besar lain yang merupakan pengguna minyak sawit menggunakan keanggotaannya di RSPO untuk menghindari kepedulian atas krisis sebenarnya, yakni rusaknya hutan tropis dan lahan gambut.
Karena itu, greenpeace secara resmi mengimbau kepada perusahaan-perusahaan pengguna bahan baku minyak sawit agar lebih selektif dengan menciptakan suatu mekanisme yang memungkinkan para pemasok kotor berhenti melibatkan diri dalam konversi hutan.
Perusakan hutan, lanjut dia, bertanggung jawab atas seperlima emisi global gas rumah kaca (GRK). Bahkan, perusakan lahan gambut Indonesia mewakili empat persen dari GRK tahunan global. Untuk lebih rinci, Wetland International menyebut, produksi satu ton minyak sawit dari lahan gambut menghasilkan emisi rata-rata 10 ton-30 ton CO2. Emisi CO2 lahan gambut ini akan meningkat sedikitnya 50 persen pada 2030 jika perluasan terus berlanjut. ( ant/ Dewanti Lestari )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.