Aceh Miliki Politeknik Standar Internasional
23 April 2008 | 17:18 WIB
Banda Aceh ( Berita ) : Sebuah Politeknik berstandar internasional yang dibangun menghabiskan dana sekitar 10 juta dolar Amerika Serikat, di ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Banda Aceh diperkirakan selesai awal Agustus 2008.
Walikota Banda Aceh, Mawardy Nurdin, di Banda Aceh, Selasa [22/04], menjelaskan pembangunan gedung Politeknik bantuan sebuah perusahaan energi berbasis di Amerika Serikat, Cevron Corporation itu diharapkan dapat membantu mencetak sumber daya manusia (SDM) Aceh yang mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional. “Ini adalah proyek pendidikan berskala besar yang didanai Cevron Corporation, USAID dan sejumlah donatur lainnya. Kita berharap, bantuan ini dapat bermanfaat bagi peningkatan SDM dan tenaga kerja Aceh siap pakai di masa mendatang,” katanya di sela-sela pemasangan atap bangunan gedung tersebut.
Walikota juga berharap adanya bantuan tenaga pengajar dari pihak Amerika Serikat. Politeknik Aceh itu nantinya akan membuka jurusan Akuntansi, Elektronika, Informatika dan Mesin.
Ia juga mengharapkan pihak USAID (Lembaga Bantuan Internasional AS) bisa membantu dalam penyediaan peralatan lengkap seperti laboratorium Politeknik termegah di provinsi ujung paling barat Indonesia ini. “Sejauh ini, konstruksi yang dimulai sejak lima bulan itu sudah siap sekitar 75 persen dan kami berharap gedung Politeknik bisa selesai pada awal Agustus 2008, sehingga segera bisa menerima mahasiswa dari seluruh Aceh, termasuk juga putra-putri dari provinsi lain,” kata dia.
Gedung berkonstruksi antigempa dan berlantai empat dengan luas areal 5,7 hektare di Desa Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng itu menggunakan atap produk “Onduline”.
Bangunan gedung tersebut seluas 8.500 meter persegi itu terdiri dari 20 ruang kuliah, 20 ruang laboratorium, 20 ruang dosen, administrasi, auditorium, perpustakaan dan amphi theater. “Kenyamanan belajar dan mengajar sesuatu yang penting bagi Politeknik ini. Karenanya pemilihan kualitas bahan bangunan menjadi prioritas seperti penggunaan atap produk ‘onduline’ dan konstruksi baja ringan,” kata Konsultan pelaksana pembangunan, Didit Sosrowinarsidityo.
Ia juga menyatakan masalah kemudahan dan kecepatan pemasangan “Onduline” juga menjadi pertimbangan, karena durasi pembangunannya sangat singkat. “Karenanya kami memilih atap ‘Onduline’ yang konstruksi sangat mudah dan cepat,” kata Didit. ( ant )



Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.