Kartini Dan Kebangkitan Nasional Jadi Momentum Pemberdayaan Perempuan

Jakarta ( Berita ) :  Peringatan Hari Kartini pada 21 April tahun ini yang juga berbarengan dengan rangkaian peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, sudah selayaknya menjadi momentum untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan terutama di bidang ekonomi.

Dengan berdaya secara ekonomi, kaum perempuan akan menikmati dampaknya yaitu peningkatan di bidang pendidikan, layanan kesehatan dan bahkan bisa mandiri, kata Nurhayati Ali Assegaf, staf khusus Ibu Negara, Ani Yudhoyono, dalam wawancara di Jakarta, Senin [21/04] .

Hari Kartini menurut Nurhayati selalu diperingati untuk mengenang jasa RA Kartini, seorang pejuang emansipasi yang gigih mengupayakan pendidikan bagi perempuan di Indonesia.

Meskipun saat ini sudah banyak kemajuan yang diperoleh perempuan Indonesia khususnya mereka yang dapat mengenyam pendidikan, sehingga banyak perempuan yang menjadi tenaga profesional di lembaga legislatif, dan eksekutif, namun dalam kenyataannya masih banyak pula perempuan yang masih terpinggirkan.

Kaum perempuan yang tinggal di daerah pinggir dan daerah terpencil masih banyak yang tidak berpendidikan selayaknya, bahkan masih ada yang buta huruf.

Nurhayati juga mengingatkan, kaum perempuan juga harus mampu merebut kesempatan dan bukan sekedar menunggu mendapat “hadiah” untuk meningkatkan perannya dalam bermasyarakat dan bernegara. “Khususnya perempuan yang sudah memiliki kemampuan, harus mau terlibat aktif dalam posisi sebagai pengambil keputusan dan membuat kebijakan, termasuk memperjuangkan sesamanya,”ujarnya. “Perempuan jangan sekedar menjadi penonton,” kata Nurhayati yang aktif sebagai anggota Dewan Pembina Partai Demokrat itu.

Ia berharap pada peringatan hari Kartini tahun depan, perempuan Indonesia dapat memenuhi kuota 30 persen di bidang politik. Selain memperjuangkan kepentingan sendiri, Nurhayati juga mengharapkan peran serta masyarakat untuk memajukan perempuan, mengingat posisi strategis perempuan sesuai kodratnya yaitu sebagai ibu, yang harus mendidik dan menyiapkan generasi berikutnya. “Jika para ibu mempunyai kemampuan mendidik dan mengasuh anak dengan baik, maka ia akan menumbuhkan orang-orang dewasa yang berkualitas pula,” tegasnya.

Nurhayati merasa prihatin dengan sikap dan pandangan sebagian orang yang masih “salah kaprah” mengenai emansipasi dan kesetaraan gender, dalam arti masih dilihat dari sudut fisik semata.

salah pengertian masih banyak terjadi, misalnya pandangan sempit yang salah mengartikan cara berpakaian perempuan sebagai bentuk emansipasi. “Cara berpakaian itu adalah kepribadian, bukan cermin emansipasi,” katanya ketika menanggapi komentar seorang laki-laki bahwa perempuan Indonesia harus berpakaian sopan agar dihargai kesetaraannya.

 

Nobat”Kan

Ibu Negara Ani Yudhoyono mengapresiasi kemajuan perempuan Indonesia yang kini menduduki beragam jabatan  profesional maupun berbagai posisi di bidang legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

Sebagai tanda kemajuan perempuan Indonesia, Ani dalam pidatonya pada pencanangan program nasional deteksi dini kanker di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, Senin, juga menyebutkan empat perempuan yang menjabat menteri di Kabinet Indonesia Bersatu.

Namun, Ani memberi apresiasi khusus kepada Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang dinilai terus gigih dan bersemangat tanpa mengenal menyerah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. “Doktor Siti Fadilah Supari pantas untuk disebut Kartini masa kini,” ujar Ibu Negara yang diiringi tepuk tangan para hadirin.

Selain Siti Fadilah, tiga perempuan lain yang menjabat menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Pemerintah mencanangkan

program nasional deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara, yang merupakan dua jenis kanker terbanyak yang diderita perempuan Indonesia.

Dengan deteksi dini kanker, diharapkan terjadi penurunan angka penderita kanker leher rahim dan kanker payudara.

Dalam pencanangan itu, Depkes meluncurkan metode baru deteksi dini kanker leher rahim yang dinamakan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Metode IVA itu berbiaya murah, hanya Rp5.000 per pasien, dan juga  relatif cepat dan sederhana sehingga diharapkan dapat menjangkau kaum perempuan di daerah terpencil.

Dalam pidatonya, Ibu Negara menyatakan penghargaannya atas terobosan inovatif Depkes yang menemukan metode murah dan cepat untuk mendeteksi kanker leher rahim dan kanker payudara sehingga perempuan di wilayah pelosok pun akan mudah mendapatkan pelayanan.  “Mudah-mudahan yang ditemukan Depkes ini menjadi alat sangat praktis di seluruh tanah air dan dapat menyelamatkan kaum perempuan,” kata Ibu Negara.

Dalam pidatonya, Ibu Negara juga mengklaim pelayanan kesehatan dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat yang diupayakan oleh pemerintah sudah lebih baik dibanding kondisi terdahulu. ( ant  )

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.