Kampanye Pilgubsu Dingin Simanjuntak Nomor I
14 April 2008 | 11:45 WIB
Kampanye Pemilihan Gubernur Sumatera Utara dingin. Jauh beda dengan kampanye pada pemilihan legislatif setiap
Apakah karena rakyat sudah tau memang dirinya yang menentukan pilihannya nanti atau karena jenuh mengikuti kampanye berpanas terik dan bermandi hujan pengaruhnya pada dirinya hampir tidak ada.
Paling nasi bungkus dan transport. Selebihnya nanti siapa yang menang dan tim suksesnya yang gendut dan bertambah kaya.
Lima pasangan calon Gubsu dan wakilnya, sudah kampanye sesuai dengan ketentuan KPU dan sebelum masa kampanye sudah ada yang kampanye, hanya menurut penilaian Panwaslih hal itu bukan kampanye. Akibatnya peserta jadi berbuat semau gue tanpa diduga bersalah. Begitu mendaftar sudah pasang gambar lengkap dengan nomor peserta. Semua aman rakyat pun jadi pertanya-tanya kepada KPU dan Panwaslih.
Rakyat selaku pemilih tentu sudah ada menentukan pilihan apakah dia menilai secara simpatisan partai, anggota partai, kepercayaan, suku, marga dan lain sebagainya. Jika dilihat dari kekuatan partai dan simpatisannya, Partai Golkar punya andil besar dan nomor dua adalah Partai PDIP.
Kedua partai inilah yang tidak koalisi dalam menetapkan calonnya. Selain itu harus koalisi barulah dapat menentukan calon. Dukungan Partai Golkar adalah Ali Umri dan Maratua Simanjuntak,sementara dukungan PDIP adalah Tritamtomo dan Benny Pasaribu.Dilihat dari kekuatan Golkar, tentu yang didukungnya akan menjadi pemenang, walaupun sampai kepada putaran kedua.
Hanya satu putaran pun sudah mampu meraih kemanangan, jika anggota Partai Golkar dan simpatisannya bergiat keras ditambah pendukung wakilnya dari Marga Simanjuntak. Bagi kalangan orang Batak terkenal istilah” simanjuntak nasolot di ri”. Maksudnya begitu banyaknya ilalang(ri), disitulah marga itu ada.
Terlebih dengan pomparannya/turunannya yang sudah meresap ke marga lain. Seperti saya sendiri, mulai dari ibu, nenek, nenek bapak adalah dari marga Simanjuntak. Itulah turunan darah yang sampai pada saya. Tentu bagi saya nomor satu itu adalah Maratua Simanjuntak.
Satu yang penting dari harapan rakyat adalah jangan terpengaruh karena uang jika kerena terpengaruh karena keturunan, marga memang sulit dihempang. Tidak pun harus didekati atau dijanjikan, marga dengan turunan kapan pun akan dapat berbicara. Sementara uang hanya sesaat, begitu habis uang putus hubungan. Yang paling menyedihkan mereka yang memberikan uang berkata, kami kan sudah berikan uang untuk jasa memilih. Mau apa lagi ?
Semoga rakyat pemilih di Sumut, lebih jujur terlebih anggotaTPS, penerima laporan suara dan pengirim suara itu ke tingkat yang lebih tinggi yakni KPU Provinsi.
Panwaslih lebih gesit dan saksi di TPS, jeli melihat perhitungan suara dan pegirimannya. Jika perlu foto hasil perhitungan suara itu. Karena masa lalu pernah terjadi tidak sesuai hasil perhitungan suara di TPS dengan yang sampai di Kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi. [ Marihot Siagian di Glugur Medan ]




Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.