Warga Asing “Obok-Obok” Hutan Dan Kawasan Konservasi Di Kalteng
Palangka Raya ( Berita ) : Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mensinyalir banyaknya kegiatan orang asing yang meneliti hutan dan kawasan konservasi setempat tanpa ijin resmi.
“Kami baru saja menghentikan kegiatan seorang warga Perancis di Pusat Reintroduksi Orangutan Nyarumenteng karena yang bersangkutan datang ke kawasan konservasi itu tanpa ijin,” kata Kepala BKSDA Kalteng, Mega Harianto, di Palangka Raya, Selasa [08/04] .
Ia mengatakan, warga negara Perancis bernama Pattrick diketahui datang atas sponsor Borneo Orangutan Survival, sebuah lembaga non-pemerintah dengan bantuan dana asing yang mengelola kawasan Nyarumenteng.
Mega menduga kegiatan serupa kerap terjadi di wilayah Kalteng. Ia mengaku khawatir akan kegiatan warga asing yang tak terpantau dan mengobok-obok hutan setempat karena rawan pencurian ilmu, aset, dan plasma nutfah setempat.
Meski datang atas undangan yayasan mitra Dephut, namun Pattrict tidak mampu menunjukkan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) kepada petugas saat berada di kawasan Nyarumenteng.
Sesuai aturan, tiap warga negara asing (WNA) yang masuk kawasan konservasi, harus mendapatkan Simaksi dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan. “Saat ini Pattrict telah kami minta menghentikan semua kegiatannya, sampai pengurusan izin resmi keluar dari Dephut. Sementara perizinan lain seperti dokumen visa lengkap,” tegas Mega.
Menurut informasi, Pattrick masuk ke Nyarumenteng untuk membantu melengkapi data dan foto di tempat sekolah orangutan itu. Tetapi, dia mengabaikan ketentuan terkait izin masuk kawasan konservasi.
Mega mengaku akan menegur keras lembaga-lembaga non pemerintah yang sengaja mendatangkan orang asing tanpa koordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan jajaran instansi teknis terkait.
Dalam data BKSDA Kalteng, sedikitnya terdapat 153 warga asing yang datang ke kawasan konservasi Nyarumenteng sejak tahun 2007. Sebagian besar datang sebagai turis dan sementara peneliti hanya sekitar 10 orang per tahun. ( ant )