Mendiknas : Ajak Masyarakat Pedesaan Untuk Mengubah Nasib
7 April 2008 | 11:56 WIB
Boyolali, Jawa Tengah ( Berita ) - Menteri Pendidikkan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo, mengajak masyarakat di pedesaan untuk merubah nasib agar lebih baik dengan cara meningkatkan pendidikkan yang tersedia di daerahnya masing-masing.
Ia mengatakan hal tersebut dalam acara “Konggres Gema Desa se-Jawa Tengah” di Asrama Haji Donohudan Boyolali, Minggu [06/04] .
Menurut Mendiknas, pendidikan yang tersedia itu bisa diakses atau dijangkau oleh masyarakat pedesaan, yakni pendidikkan formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan formal diatur diregulasi secara ketat oleh Undang-Undang berbagai macam peraturan lain misal pendidikan melalui Madrasah, kalau di pedesaan wajib belajar sembilan tahun SD/MI dan SMP/MTS.
Pendidikan nonformal aturannya tidak ketat dan ditujukan untuk anggota masyarakat yang tidak bisa menjangkau pelayanan pendidikan formal seperti sekolah paket A, B, dan C.
Di samping itu, program pendidikan paket A,B, dan C ada juga program pendidikan ketrampilan dan kecakapan hidup. Hal ini, hanya mereka yang bisa membaca, menulis, dan menghitung sehingga harus lulus SD/MI. “Pendidikan ini, diajarkan bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan dari tingkat pedesaan di antaranya, menjahit, salon, memasak, dan pijat,” katanya.
Menurut Mendinas, bagi mereka yang masih buta aksara, karena di wilayah Jateng termasuk nomor dua terbanyak masyarakatnya masih buta aksara setelah Jawa Timur di Indonesia.
Hal tersebut merupakan tugas bersama bagaimana membuat buta aksara menjadi mampu membaca di pedesaan. Caranya memperdayakan mereka dengan memberikan pelajaran, pembelajaran, keaksaraan sehingga mereka bisa membaca, menulis, dan berhitung. “Kita bayangkan betapa tidak berdayanya orang yang tidak bisa membaca dan menulis dalam kondisi yang modern ini, sehingga mereka kalau bekerja diberi upah rendah. Mereka akan mudah diakali sesama anggota masyarakat,” katanya.
Oleh karena itu, pemerintah melalui pemerintah desa untuk mengidentifikasikan masyarakat buta aksara dan beri mereka belajaran keaksaraan setelah merasakan bebas. Mereka didorong untuk ikut paket A dan setelah bisa maca tulis mereka mulai diberikan pelajaran kecakapan hidup.
Mereka bisa lebih berdaya dan lebih mampu melakukan kegiatan berbagai macam ekonomi atau menjadi produktif, maka status sosialnya akan menjadi meningkat. “Jadi pendidikan buta aksara ini, untuk Jateng sangat penting. Bagi yang masih buta aksara supaya bisa menikmati berbagai macam pendidikan dengan pemberantasan buta aksara. Dengan demikian kita melakukan pemerataan ekonomi melalui pemerataan pendidikan,” katanya. ( ant )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.