Pertemuan Perubahan Iklim “Kyoto II ” Dibuka Di Bangkok
31 Maret 2008 | 16:24 WIB
Bangkok ( Berita ) : Pertemuan formal pertama dalam proses yang panjang guna merumuskan pengganti kesepakatan perubahan iklim protokol Kyoto II telah dibuka di Bangkok, Senin [31/03] dengan himbauan bagi manusia untuk mengalahkan pemanasan global.
Dunia menantikan jalan keluar dalam jangka panjang dan memiliki ekonomis yang tida terlalu memberatkan semua pihak,” kata Sekertaris Jendral Perserikatan Bangsa-Banghsa Ban Ki Moon mengatakan dalam kata sambutannya yang disamapaikan dalam rekaman video didepan 1000 peserta yang mewakili 190 negara yang berkumpul di ibukota Thaliand, Bangkok.
Pertemuan internasional itu yang akan berlangsung selama sepekan berpijak pada hasil pertemuan sebelumnya di Bali, Indonesia tahun lalu untuk memulai negosiasi guna mencapai satu kesepakatan yang akan mengganti protokol Kyoto yang hanya menekankan kepada 37 negara maju untuk menguirangi emisi gas rumah kaca pada tingkatan rata-rata 5 persen dari tingkat emisi karbon pada tahun 1990 di saat menjelang tahun 2012.
Ahli iklim PBB menginginkan kesepakatan baru yang akan dikenakan kepada semua negara, walaupun ada jarak besar perbedaan mengenai kewajiban yang akan ditimpakan kep[ada negara maju (kaya) dengan negara berkembang, yang dip[impin oleh Amerika Serikat pada kelompok negara kaya, sementara China dan India akan memimpin negara-negara berkembang.
Sejauh ini belum ada keputusan besar yang diperkirakan akan dihasilkan dari pertemuan Bangkok, yang bertujuan terutama untuk menetapkan jadwal dari sejumnlah pertemuan yang akan mencapai puncaknya pada konferensi perubahan iklim PBB di Copenhagen pada akhir tahun depan.
“Kami melihat pertemuan ini sebagai pertemuan dalam rangkaian proses untuk pertemyan selanjutnya ,” kata Wakil delegasi Amerika Serikat Harland Watson kepada para wartawan sebelum upacara pembukaan dilakulan.
Namun kelompok pencinta lingkungan mengamati dengan seksama selama pertemuan di Bangkok akan adanya tanda=tanda kesinambungan komitmen negara-negara kaya ataupun berkembang untuk memperkecil pemanasan global dengan mengurangi emisi gas rumah kaca antara lain karbon dioksida.
“Hal itu merupakan uji kasus apakah dan berepa besarnya niat baik dan keionginan yang telah ada disampaikan di pertemuan Bali apakah masih ada hingga saat pembahasan mencapai ke masalah yang paling berta nanti,” kata Angela Anderson.
Perdebatan sengit.
Walaupun negosiasi diperkirakan akan berlangsung sengit dan cukup berat namundari laporan PBB mengenai perubahan iklim yang dipublikasi tahun lalu mengaskan pentingan untuk menangani masalah pemanasan global.
Didalam laporan PBB dikatakan sebanyak 90 persen pemanasan global terjadi akibat perilaku manusia – terutama telah membakar bahan bakar fosil – yang dikatakan menjadi penyebab utama adanya perubahan iklim yang berdampak kepada sistem iklim yang akan lebih banyak menyebabkan terjadinya gelombang panas, kemarau panjang dengan kekeringan, badai dan nainya permukaan air laut. ( ant/rtr )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.