Sekjen PBB Kecam Keras Film “Fitna”
29 Maret 2008 | 14:41 WIB
Brussels ( Berita ) : Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) Ban Ki-moon mengecam pemutaran film anti Islam yang berjudul ‘Fitna’ garapan anggota parlemen Belanda, Geert Wilders.
“Saya mengecam keras pemutaran film yang menyerang Islam tersebut. Ucapan-ucapan yang menimbulkan kebencian dan hasutan untuk melakukan kekerasan tidak bisa diterima,” kata Ban Ki-moon dalam pernyataan pers PBB yang dikeluarkan di New York, Jum’at [28/03] .
Ia mengakui upaya Pemerintah Belanda untuk menghentikan pemutaran film tersebut dan mengimbau mereka yang tersinggung karena film itu, untuk tenang.
“Kebebasan harus selalu diiringi dengan tanggungjawab sosial,” tegasnya. Menurutnya, masalah yang terjadi bukanlah antara kaum Muslim dan masyarakat Barat, tapi antara sejumlah kecil kelompok ekstremis dari pihak yang berbeda dengan kepentingan pribadi untuk memicu permusuhan dan konflik.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Organisasi Konperensi Islam (OKI) mengecam film anti-Islam ‘Fitna’ dan meminta Pemerintah Belanda untuk menghentikan pemutaran film yang dianggap memprovokasi umat Islam tersebut.
“Kita tidak boleh membiarkan alasan kebebasan berbicara digunakan untuk menghina agama,” ujar Prof. Ekmeleddin Ihsanoglu, Sekjen OKI, di Riyadh, Arab Saudi, seperti dikutip oleh IINA (organisasi kantor berita negara-negara Islam).
Film kontroversial yang melecehkan agama Islam yang dibuat anggota parlemen sayap-kanan Belanda menimbulkan kecaman luas dari umat Muslim di seluruh dunia dan kalangan internasional.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, mengatakan bahwa sikap itu tidak bisa dibenarkan karena akan mengundang aksi kekerasan. Slovenia, yang saat ini menjadi ketua bergilir Uni Eropa, mencela film yang ditayangkan di laman internet pada Kamis, dan mengatakan film itu tidak memiliki maksud lain kecuali menggelorakan kebencian.
Film berdurasi 16 menit tersebut, yang dibuat oleh anggota parlemen sayap-kanan Belanda, Geert Wilders, menghubungkan serangan di New York, Madrid, dan London dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan pernyataan keras para imam.
Film itu juga memperlihatkan gambar kartun yang melecehkan Nabi Muhammad SAW. Pada akhir film itu, sebuah tangan terlihat mencabik satu halaman kitab suci agama Islam itu dan terdengar suara cabikan. Suatu pernyataan tertulis muncul di layar, saat Wilders mengatakan bahwa bukan ia yang mencabik ayat-ayat Al-Qur’an itu, tapi umat Muslim sendiri lah yang melakukannya.
Kecaman Kian Keras
Kecaman dari dalam dan luar negeri terhadap film anti-Islam garapan anggota parlemen Belanda, Geert Wilders, semakin keras, Jumat, menyusul penampilan PM Jan Peter Balkenende di televisi untuk menjelaskan sikap pemerintah Belanda yang menyesalkan film itu.
Balkenende yang berbicara tak lama setelah film itu, “Fitna”, dimana Wilders mengaitkan aksi para teroris dengan para ekstremis Islam dan ayat-ayat Al-Qur’an, disiarkan pada situs internet www.liveleak.com pada Kamis malam.
Menjelang rilis film itu, Wilders melukiskan kitab suci umat Islam sebagai “buku fasis” yang menghasut orang untuk melakukan kekerasan.
PM Belanda mengemukakan kepada para wartawan dalam jumpa pers bahwa pemerintah Belanda menyesalkan keputusan Wilders mengedarkan film itu, sekalipun pemerintah telah memintanya agar ia menahan diri untuk tidak melepas film itu kepada publik.
Uni Eropa mengutuk film itu. “Kami meyakini bahwa berbagai tindakan, seperti film yang disebut di atas, tidak membawa manfaat apa-apa selain hanya mengobarkan kebencian,” kata pernyataan Presiden EU yang kini dipegang Slovenia, Jumat. “Uni Eropa dan negara anggotanya menerapkan prinsip kebebasan berpendapat yang merupakan bagian dari nilai-nilai dan tradisi kita.”
“Namun demikian, kebebasan ini hendaknya dilaksanakan dalam semangat menghormati agama dan kepercayaan pihak lain.”
Para menlu UE menggelar pertemuan tak resmi di Brdo, Slovenia, yang mengulangi seruan dalam bahasa yang lebih keras terhadap langkah Wilders.
“Pesan yang muncul dari Inggris adalah orang dapat dan hendaknya menggabungkan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai kebebasan berpendapat dan sekaligus menghormati keberagaman rasial dan keagamaan,” kata Menlu Inggris, David Miliband. “Kebebasan bukanlah kebebasan sejati jika melukai orang lain. Jadi marilah kita bertindak hati-hati dalam menggunakan kebebasan kita,” kata Menlu Slovenia, Dimitrij Rupel, yang menjadi tuan rumah pertemuan.
Kecaman Iran dan Indonesia
Negara-negara Islam segera menyampaikan tanggapan keras mereka. Teheran memperingatkan “konsekuensi dari langkah provokatif semacam ini,” dengan jurubicara Deplu Iran, Mohammad Ali Hosseini, mencap video tersebut “menghina dan anti-Islam” serta merupakan simbol dari “antagonisme yang mendalam” negara-negara Barat terhadap Islam dan umat Muslim.
Jurubicara Deplu Indonesia, Kristiarto Legowo, menyatakan isi film itu “menyesatkan dan penuh rasisme” dan menyebut produksi film itu sebagai “aksi tak bertanggungjawab yang dilakukan dengan tameng kebebasan pers.”
Ketua DPR Agung Laksono menyatakan pemerintah harus “mengambil tindakan” terhadap film itu, karena para pengguna internet dapat dengan mudah mengunduh (download) dan menyebarkannya, sehingga dapat memicu konflik agama. Agung berharap pemerintah Belanda dan juga produsen film yang berpotensi menimbulkan gesekan antaragama ini agar menarik peredaran “Fitna”.
Ditarik
Film kontroversial, yang dibuat oleh seorang anggota parlemen sayap-kanan Belanda dan dikecam keras dunia Islam, telah dicabut dari laman internet Inggris sejak Jumat petang. Dalam suatu pernyataan, laman internet itu mengatakan film itu dinon-aktifkan karena ancaman “sangat serius” terhadap staf.
“Ini merupakan hari menyedihkan untuk kebebasan berbicara di internet, namun kami harus mengutamakan keamanan dan melindungi staf kami di atas segalanya,” kata pernyataan itu.
Film garapan anggota parlemen Belanda, Geert Wilders, itu mengambil gambar serangan di New York, Madrid, dan London, dicampuradukkan dengan ayat-ayat Al-Quran dan pernyataan-pernyataan oleh para iman garis keras.
Pada akhir film itu, sebuah tangan terlihat mencabik satu halaman kitab suci umat Muslim itu dan terdengar suara cabikan. Suatu pernyataan tertulis muncul di layar, tatkala Wilders mengatakan bahwa bukan ia yang mencabik ayat-ayat Al-Qur’an itu, tapi umat Muslim sendiri lah yang melakukannya.
Film itu menimbulkan kemarahan dari dunia Islam dan kecaman luas dari seluruh dunia. PBB, Uni Eropa, dan negara-negara Muslim melontarkan kutukan terhadap film itu. Perdana Menteri Jan Peter Balkenende mengatakan pemerintahnya menyesalkan penayangan film itu dan meyakini hanya Wilders seorang yang ingin melukai perasaan masyarakat.
Ia mengatakan pemerintah Belanda sedang menyelidiki apakah anggota parlemen itu berkomitmen melakukan penyerangan. Satu kelompok Islam di Kota Eindhoven, Belanda, telah memutuskan untuk menuntut Wilders ke pengadilan. ( ant/dpa/xinhua )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.