Soeharto Diulas LN
28 Maret 2008 | 10:50 WIB
Setelah mantan Presiden Soeharto meninggal dunia, maka media dalam negeri seperti koran/majalah dan televisi memberitakannya secara berlebih-lebih. Komentator dalam negeri sampai berbicara tentang: ‘overdosis’.
Kini sebagai bahan perbandingan mari kita baca ulasan pers luar negeri (LN) sebagaimana a.l ditulis oleh wartawan Philip Bowring dalam Internasional Herald Tirbune (30-1-2008) dengan judul: Balancing Suharto’s record (Menimbang jejak rekam Soeharto).Philip Bowring menulis dari Hong Kong.
Terdapat suatu kontras yang mengganggu ketenangan antara obituari Indonesia dan Asia lain mengenai Soeharto dengan obituari yang disiarkan oleh media Barat. Bila obituari Indonesia dan Asia lainnya seringkali rupanya terlalu memaafkan dosa-doa seorang kuat yang telah memerintah 32 tahun lamanya, obituari media Barat memperlihatkan tanda-tanda menggurai secara akhlak (moralizing) dan sebuah pandangan hitam dan putih mengenai dunia.
Bahkan surat kabar ini yaitu International Herald Tribune, tulis Bowring memulai liputannya dengan melukiskan Soeharto sebagai ‘salah seorang yang paling brutal (kejam) dan korup dari abad ke 20’.
Ini merupakan sungguh suatu klaim bagi sebuah abad yang telah memberikan kepada dunia Hitler, Stalin, Mao Zedong, Pol Pot, Saddam Hussein dan belasan bajingan pembu-nuh lain yang lebih kurang sifatnya yang telah membruta-lisir bangsa-bangsa di Eropa, Asia, Amerika Latin dan Afrika.
Sebagai seorang wartawan yang secara berkala memberitakan tentang Indonesia selama seluruh pemerin-tahan Soeharto, kecuali awalnya, pelukisan tadi tampak-nya sangat dibesar-besarkan.
Soeharto tidak diragukan adalah otoriter, kadang-kadang kejam zalim (ruthless), pasti korup sejauh mengenai keuntungan-keuntungan kepada keluarganya, tapi tidak satu pun dari semua itu membikinnya orang jahat yang haus darah sebagai-mana digambarkan di Barat.
Dalam realitas (kenyataan), Soeharto adalah lebih banyk dalam kumpulan Ferdinand Marcos dari Filipina, Tito dari Yugoslavia, Pibul Songkram dari Thailand, Nasser dari Mesir, Salazar dari Portugal atau Kemal ataturk dari Turki.
Banyak penulis obituari Soeharto di media Barat melupakan kalaulah mereka pernah tahu, bahwa dasawarsa terakhir kira-kira dari pemerintah Soeharto menyaksikan kemajuan dalam pluralisme (kemajemukan) politik dan kebebasan media massa yang menyediakan suatu basis (dasar) bagi sebuah peralihan (transfer) kekuasaaan yang relatif mulus sifatnya.
Sungguh media massa Indonesia pada kurun zaman tersebut adalah lebih bebas ketimbang media di Malaysia dan Singapura dewasa ini. Liputan mengenai pilih kasih komersial yang diberikan kepada anak-anak Soeharto membantu merongrong Soeharto.
Di Idonesia fokus obituari (di koran dan televisi) kebanyakan adalah mengenai memaafkan dosa-dosa Soeharto seraya mengakui capaian-capaiannya. Adalah berguna mengingat bahwa karier para pemimpin kesohor lain seperti misalnya Winston Churchill dan Lyndin Johnson juga mengandung banyak hal yang bersifat negatif, beberapa di antaranya mengakibakan kehilangan nyawa orang yang besar jumlahnya.
Akan tetapi kematian mereka bukanlah saatnya mengemukakan kesalahan-kesalahan mereka semata-mata. Di Indonesia naluri memaafkan memperoleh bobot tambahan oleh kemudahan (golongan remaja) penduduknya, yang banyak di antara mereka tidak ingat pemerintahan Soeharto, apa lagi kekacauan pertumpahan darah pada tahun 1965 dari mana Soeharto muncul sebagai pemimpin.
Namun media massa Barat seringkali lebih menyukai tidak mengutip pendapat orang-orang Indonesia, melainkan akademis asing di Eropa dan Amerika Utara yang menuntut, agar Indonesia menulis kembali sejarahnya agar cocok dengan pendapat-pendapat mereka mengenai Soeharto.
Banyak akademis luar negeri frustrasi bahwa Soeharto tidak pernah diajukan ke sidang pengadilan negeri. Namun hal seperti itu sama tidak mengandung akal sehat ketimbang Kongres AS yang akan datang mengadili Presiden George W. Bush atas peristiwa invasi (penyerbuan) ke Irak.
Belajar dari kesalahan-kesalahan adalah lebih penting dari pada menghukum orang-orang atas kesa-lahan-kesalahan, khususnya sebagaimana dalam kasus-kasus Aceh dan Papua, ketika keputusan-keputusan diambil, betapa pun salahnya, demi persatuan nasional.
Philip Bowring selanjutnya menyinggung peristiwa G-30-S/PKI tahun 1965 peristiwa penyerbuan ke Timtim 1975 peristiwa DOM di Aceh dan represi di Papua. Pasti bahwa soal Timtim merupakan suatu kekeliruan besar kata Bowring, akan tetapi negara-negara Barat dan media Barat kebanyakan menggalakkan Soeharto waktu itu, sehingga tidak masuk akal untuk menggambarkan dia setan.
Bahkan banyak orang Timor Timur sekarang setuju untuk melupakan kejadian masalampau itu. Seraya Timtim dan Papua mendapat perhatian sangat besar dalam media Barat, sedikit sekali ada rujukan dalam obituari mengenai Soeharto bahwa Soeharto yang mengakhiri politik Soeharto ganyang Malaysia dan peran Soeharto dan Indonesia dalam melakukan stabilitasi dalam Asia yang terkeping-keping paca zaman kolonialisme.
Kebanyakan orang Indonesia mengingat hal-hal bagus yang terjadi di bawah Soeharto, khsususnya pertumbuhan ekonomi selama 25 tahun. Selama satu dasawarsa yang lampu ini orang-orang Indonesia telah mengoreksi banyak dari kesalahan Soeharto, termasuk sola Timtim, Aceh, sentralisasi berlebih-lebihan, sistim otoriter. Memang pasti korupsi adalah jelek sebagimana sediakala, tapi korupsi terdapat hampir di setiap ekonomi Asia Tenggara.




Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.