Kematian Imam Garisbawahi Penganiayaan Di Thai Selatan
27 Maret 2008 | 11:44 WIB
Bangkok ( Berita ) : Kematian dalam tahanan imam di daerah bergolak Thailand selatan pada pekan lalu menggarisbawahi penyiksaan, yang dihadapi warga Melayu, di tangan yang berwenang, kata kelompok hak asasi pada Rabu [26/03] .
Pangawas Hak Asasi Manusia (HRW), yang berpusat di New York, menuduh tentara secara luas memperlakukan secara buruk tahanan Melayu di propinsi paling selatan Thailand, yang dilanda kekerasan perlawanan. “Warga Melayu di Thailand selatan hidup dalam ketakutan akan serangan tentara untuk mengambil laki-laki mereka untuk disiksa,” kata Brad Adams, direktur Asia kelompok itu.
Ia menyeru yang berwewenang dengan seksama menyelidiki perkara imam Yapa Koseng, pemimpin agama berumur 56 tahun, yang ditangkap bersama anggota keluarganya pada pekan lalu dan tewas di tahanan tentara.
Keluarganya memberitahu HRW bahwa jasadnya menunjukkan tanda penyiksaan, termasuk memar, luka bakar dan tulang rusuk patah.
Jurubicara tentara Kolonel Acar Tiproch menyatakan imam itu meninggal pada Jumat pagi sesudah diperiksa pada Kamis malam. “Tentara itu menyakiti Imam dan kembali menahannya. Akibat kesehatan buruknya, dia meninggal,” kata Acar kepada kantor berita Prancis AFP. “Tentara tidak akan melindungi yang bersalah,” katanya.
HRW dalam pernyataannya mengatakan bahwa banyak mantan tahanan Melayu di Thailand selatan mengadu ke kelompok itu atas penyiksaan, termasuk tendangan, pukulan, telanjang paksa, penyetruman, dan cekikan.
Sunai Phasuk, konsultan Thailand kelompok itu, menyatakan mereka sedang menyusun laporan menyeluruh, yang merinci temuan mereka.”Masalah penyiksaan dan perlakuan buruk tahanan tertata dan tersebar luas,” katanya kepada AFP. Tapi, Acar menyatakan tentara Thai tidak mempunyai kebijakan menyiksa tersangka.
Lebih dari 3.000 orang tewas akibat kekerasan perlawanan di selatan itu sejak Januari 2004. Daerah tersebut adalah kesultanan mandiri Melayu sampai Siam Thailand mencaploknya seabad lalu, yang memicu berdasawarsa ketegangan.
Korban tewas akibat kekacauan di selatan itu mencapai 3.000 orang pada Rabu, kata polisi, menyoroti kegagalan pemerintah mengatasi kerusuhan di sana setelah lebih dari empat tahun.
Gelombang serangan mematikan di selatan itu menewaskan lima orang pada Rabu saja, ketika pemerintah baru Thailand berusaha mengatasi kekerasan di wilayah berbatasan dengan Malaysia tersebut.
Perdana Menteri Samak Sundaravej mengadakan pertemuan darurat mengenai kekacauan itu pada Jumat, sementara Menteri Dalam Negeri Chalerm Yubamrung pada Selasa menyatakan “tidak memiliki gagasan” tentang cara menghentikan kerusuhan itu, yang mengakibatkan 3.004 orang tewas.
Srawut Aree, mahaguru kajian Melayu di universitas Chulalongkorn Bangkok, menyatakan pemerintah hanya membuat kemajuan kecil dalam meredakan kekerasan itu, karena gagal mengenali pemimpin pejuangnya.
Pemerintah tentara sebelumnya melancarkan sejumlah usaha membangun perdamaian, termasuk permintaan maaf pada suku Melayu akan kekejaman pada masa lalu, tapi penembakan dan serangan bam hampir tiap hari mengguncang wilayah itu.Samak pada Selasa berjanji memecahkan kerusuhan itu di puncak agenda politiknya.
Namun, perdana menteri itu cepat mengatakan pemerintahnya tidak akan mengadakan pembicaraan perdamaian dengan gerilyawan, yang melancarkan perlawanan, yang merupakan pembalikan dari pemerintah sebelumnya, yang menawarkan membuka pembicaraan dengan kelompok pejuang. ( ant /afp )



Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.