Wanita Irak Rindukan Hidup Layak Di Masa Saddam
26 Maret 2008 | 15:58 WIB
Baghdad ( Berita ) : Para wanita Irak mengatakan kehidupan mereka kini lebih buruk dari masa pemerintahan Saddam Hussein dan keadaan mereka kian memburuk dari tahun ke tahun sejak invasi pimpinan AS pada Maret 2003.
Kini mereka tidak sekedar meminta persamaan hak, tapi yang mereka sangat perlukan adalah hak untuk hidup,” kata ketua lembaga swadaya masyarakat (LSM) Komite Wanita Irak, Shameran Marugi kepada wartawati AFp, Nafia Abdul Jabbar . “Hak untuk hidup adalah slogan yang mulai kami menggunakannya karena kehidupan wanita di Irak sedang tercancam di semua sisi. Hukum tidak dipatuhi dan masyarakat menyalahkan wanita,” kata Shameran.
Menurut dia masa Saddam memungkinkan bagi seorang wanita melakukan aktivitas politik dan ekonomi lewat organisasi resmi Uni Wanita Irak. Shameran mengisahkan, ketika rezim berubah pada 2003, wanita, pria dan anak-anak turun ke jalan untuk merayakannya. Kami ketika itu sangat gembira.
“Sayangnya, tidak ada kepemimpinan yang handal untuk mengambil alih situasi, dan masyarakat pun ternyata belum siap menghadapi perubahan itu,” katanya. Uni Wanita Irak telah dibongkar setelah invasi karena organisasi tersebut ketika itu berafiliasi dengan Partai Baath pimpinan Saddam.
Dalam beberapa tahun lalu, kata Shameran, kekerasan terhadap wanita meningkat secara drastis. “Di rumah, seorang menghadapi kekerasa dari ayah, suami, saudara laki-laki, dan mungkin juga anak laki-lakinya,” kata pegiat hak perempuan itu.
Di luar rumah, wanita menghadapi pelecehan verbal di jalanan jika mereka tidak memakai kerudung, dan bahkan dalam kasus yang lebih ekstrim berupa penculikan oleh para pria tak dikenal, yang melakukan pelecehan seksual kemudian membunuh mereka. “Sudah menjadi hal biasa bagi seorang wanita menerima ancaman kematian demi bekerja, seperti sebagai pemangkas rambut atau penjahit, agar tidak menggunakan jilbab atau agar tidak memakai cadar, kata Shameran. “Dalam ihwal persamaan haki, kami kini menuntuk “hak untuk hidup.”
Kendati tidak ada data resmi, para pegiat hak asasi manusia (HAM) melaporkan bahwa di sana terdapat jumlah kasus yang disebut “pembunuhan bayaran” di kota Basra, kawasan Kurdi di utara Irak dan di ibu kota Baghdad. Suatu laporan PBB menyebutkan polisi di Basra mencatat 44 kasus pada 2007 di mana para wanita dibunuh dengan luka tembak di sekujur tubuh setelah dituduh melakukan “kejahatan bayaran.”
Di Baghdad, laporan itu mengatakan sejumlah wanita guru ditembak mati oleh kelompok pria bersenjata, beberapa di antara mereka ditembak di depan murid-muridnya. “Irak saat berada dalam situaasi ketidakamanan, buruknya infrastruktur, dan kepemimpinan kontroversial, dan bagi para wanita mengalami transformasi dari kemandirian dan keamanan yang lebih baik sebelum perang menjadi krisis nasional,” kata laporan itu.
Disebutkan 64 persen wanita yang sisurvei mengeluh bahwa kekerasan terhadap mereka kian meningkat. “Ketika ditanya mengapa demikian, umumnya responden menjawab bahwa penghormatan terhadap hak wanita di sana lebih buruk dari sebelumnya,” kata laporan itu.
Ditemukan pula bahwa 76 persen wanita yang diwawancarai mengatakan bahwa anak-anak gadis di rumah mereka dilarang bersekolah. Selma Jabu, konsultan Presiden Jalal Talabani untuk urusan wanita mengatakan di samping disisihkan secara politik, wanita Irak juga mengalami pelecehan dan intimidasi di jalanan dan menghadapi kekerasan seksual. “Di sana terdapat sejumlah kekerasan teroris termasuk bom yang dihadapi rakyat Irak di jalanan. Tapi juga kekerasan secara khusus terhadap wanita diculik untuk kebutuhan seks dan sejumlah kejahatan lain Selma.
“Konstitusi Irak melindungi dan mendukung wanita dalam beberapa masalah, namun dalam beberapa hal lainnya kami tidak menyetujuinya, oleh karena itu kami berupaya keras untuk memasukkannya ke dalam konstitusi,” paparnya.
Seorang wanita lainnya, Iqbal Ali yang berusia 40-an mengatakan ancaman kematian telah memaksa dia untuk menutup usaha salon pemangkasan rambut miliknya di Karada, pusat kota Baghdad. “Pada awalnya, segala sesuatunya berjalan lancar, tapi setelah situasi keamanan negara memburuk, salon wanita itu mulai terancam. Pekerjaan saya pun terkena dampaknya dan terpaksa saya menutup salon itu. Iqbal kini membuka sebuah toko kosmetik dan parfum yang ia beri nama Alwarda Albaidhaa (mawar putih).
Suad Mohammed, pegawai di kantor walikota Adhamiyah, bagian timurlaut Baghdad, selalu membawa pistol di tas tentengannya bila keluar rumah. “Sebagai wanita Irak saya kira tidak aman ketika kelua dari rumah saya. Makanya, kapan pun saya keluar rumah, saya selalu membawa pistol untuk melindungi diri saya,” ujarnya wanita setengah baya itu.
Ia mengatakan tahun silam, dia pergi ke sebuah bank untuk mengambil gaji seorang wanita lanjut usia yang tidak sanggup ke sana, dan saat kembali, pengemudi taksi berbalik arah dan mulai menuju ke perkampungan Syi’ah di Kota Sadr. “Pengemudi itu menolak berhenti dan saya pun mulai berteriak. dan kemudian saya ingat bahwa saya membawa sebuah senjata, lalu saya putuskan untuk membentengi saya. Satu-satunya di benak saya adalah bahwa saya membawa gaji sang wanita tua.”
“Saya pun mengambil senjata saya dari tentengan dan menghantamkannya ke leher dan tangan si pengemudi. Ia mulai berdarah tapi tetap tidak menghentikan mobilnya. Akhirnya, taksi itu dihentikan oleh pasukan militer yang sedang lewat, dan pengemudi itu ditangkap,” wanita itu mengisahkan. Sejak itu, katanya, “Setiap kali saya keluar dari rumah, saya harus pastikan bahwa saya bahwa senjata. ( ant/afp )




Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.