Ulama Tafsir Prof. Ya’kub Matondang, MA: Banyak Ulama Terkontaminasi
29 Februari 2008 | 11:20 WIB
Medan ( Berita ) : Ulama Tafsir Al Quran, Prof Dr HA Ya’kub Matondang, MA menilai, saat ini telah terjadi krisis kualitas dan kuantitas ulama, sehingga yang banyak muncul adalah ulama assyuk yakni ulama yang sudah terkontaminasi dengan kedudukan, uang, rayuan, dan masalah keduniaan.
“Yang dikatakan ulama adalah mereka yang berprofesi sebagai pewaris nabi dan bukan hanya memiliki intelektual yang tinggi tetapi juga punya moral yang baik,” kata Matondang di Kampus UMA Jalan Kolam Medan Estate, Kamis (28/2) menanggapi ungkapan Ketua MUI Sumut Dr. H Ramli Abdul Wahid, MA yang menyebutkan Sumut alami krisis ulama pada hal mayoritas penduduknya umat Islam (Waspada, 28/2).
Menurut Matondang, salah satu penyebab terjadinya krisis kualitas dan kuantitas ulama, karena sekarang ini orang menuntut ilmu agama semata-mata untuk mencari atau untuk menjadikannya sebagai pekerjaan, sedangkan dulu semata mencari ilmu untuk memahami dan mendalami ajaran.
Soal pekerjaannya memang sudah ada seperti menjadi pedagang, petani, dan sebagainya. Dengan demikian para ulama dahulu bisa mencari dan menuntut ilmu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain guna mendalami dan mempertajam suatu persoalan ilmu pengetahuan seperti yang dilakukan Imam Syafii.
Yang banyak sekarang ini adalah para ustadz dan mualim sekampung yang menyampaikan pesan-pesan agama dengan mengharapkan imbalan amplop dan kedudukan. “Kalau begitu, tidak ideal disebut sebagai seorang ulama,” tegas Matondang.
Guru Besar IAIN Sumut ini juga mengakui bahwa saat ini telah banyak bermunculan pendidikan agama seperti pondok pesantren, madrasah, tetapi perhatian pendalaman keilmuan di institusi pendidikan itu sudah terbagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Kondisi lembaga pendidikan Islam seperti itu tidak lagi mampu melahirkan para ulama yang dapat dibanggakan. Sedang pada masa lalu, institusi pendidikan agama fokus kepada pendidikan agama, sehingga mampu melahirkan ulama kharismatik.
Memang, kata Matondang, kebijakan itu dilakukan agar para santri bisa memahami ilmu modern, tidak hanya ilmu agama. Namun, risikonya keberadaan ulama menjadi barang langka.
Karena itu kalau di perguruan tinggi di Malaysia pengetahuan umum dan agama digabung seperti ilmu hukum, tetapi ada juga syariahnya, begitu juga Fakultas Ekonomi digabung dengan muamalah.
Dalam kaitan ini, Matondang menekankan perlu adanya kerjasama ulama berbagai kepakaran untuk membangun ijtihad karena saat ini tidak ditemukan ulama yang memiliki ilmu pengetahuan secara luas tetapi bidang perbidang saja. Karena itu kita mengalami kesukaran mencari ijtihad Fardi (perorangan).
Mantan Rektor IAIN Sumut ini menilai bahwa krisis ulama terjadi pada pertengahan abad ke 13 sejak jatuhnya Baghdad dan hancurnya perpustakaan Darul Hikmah. Dan Islam terus mengalami kemunduran, walaupun di bidang politik masih kuat seperti di Turki, tetapi di bidang ilmu pengetahuan Islam sudah lemah. (m14/WSP)




Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.