Memindahkan Ibukota Negara
9 Februari 2008 | 15:01 WIB
Wacana pemindahan ibukota negara ke kawasan khusus yang berada di luar DKI Jakarta kembali mencuat menyusul bencana banjir yang melanda
Banjir yang melanda sebagian kawasan DKI Jakarta itu melumpuhkan jalan masuk dan keluar Bandara Internasional Soekarno-Hatta sehingga membuat pintu gerbang” bagi isatawan asing tu ditutup selama dua hari. Penutupan Bandara Soekarno-Hatta akibat banjir tersebut dinilai encoreng nama
Ketidakmampuan pemerintah, khususnya Pemprov DKI Jakarta, dalam menangani persoalan banjir kemudian banyak dipertanyakan, mengingat persoalan itu kini menjadi bencana tahunan bagi warga
Iring-iringan mobil kepresidenan yang baru tiba dari kunjungan kerja ke Kabupaten Karawang, Jabar, tidak bisa menembus Jalan MH Thamrin, Jumat (1/2), ketika mereka tiba di depan pertokoan Sarinah. Akibatnya, Presiden pun harus pindah dari mobil yang ditumpanginya ke mobil lainnya.
Mobil sedan yang sebelumnya ditumpangi Presiden itu pun akhirnya harus diderek ke istana karena tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kondisi seperti itu kemudian memunculkan banyak penilaian tentang kondisi
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR Tjahjo Kumolo mengatakan, kalau
Kalau kondisi Jakarta sudah sulit berubah secara drastis, kata Tjahjo, maka harus cepat dicari alternatif ibukota pemerintahan baru, yang setidaknya jauh dari masalah banjir “kronis” dan kemacetan “akut”.
Senada dengan itu, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal daerah pemilihan DKI Jakarta Sarwono Kusumaatmadja mengatakan, Jakarta sebagai ibukota negara harus dibedakan dengan Jakarta sebagai pusat pemerintahan.
Menurut Sarwono,
Kawasan khusus di luar
Pemerintah pusat juga perlu memikirkan perencanaan kawasan megapolitan yang meliputi
Argumentasi tersebut juga sejalan dengan pendapat Ketua Umum Lembaga Konsumen Jasa Konstruksi Bambang Pranoto yang menilai bahwa tata ruang
“Satu-satunya jalan keluar agar hubungan
Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa jika terjadi curah hujan tinggi, ibukota
Volume banjir yang terjadi di
Kemudian muncul pula disorientasi tata ruang ego wilayah yang mengakibatkan adanya istilah “banjir kiriman”. Di Jakarta, dua per tiga luasannya sudah menjadi obyek banjir, sementara laju pembangunan prasarana banjir sama sekali tak seimbang dengan usaha menghindari dan menanggulanginya. “Jakarta akan tenggelam dan itu bisa dihitung kapan terjadi,” kata Bambang.
Munculnya ide pemindahan Ibukota Jakarta berlanjut pada usulan tempat yang dianggap “pantas” menjadi Ibukota Republik Indonesia. Sejumlah tempat pun disebut-sebut layak menggantikan DKI Jakarta.
Usulan itu antara lain adalah wilayah Kalimantan Tengah yang pernah diusulkan Bung Karno pada 1953, serta Jonggol, Jawa Barat, yang pernah digagas pada masa Orde Baru.
Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Sugeng Sarjadi Syndicate, Sukardi Rinakit, mengusulkan ibukota RI dipindahkan ke Jayapura, Papua, dengan alasan pemikiran geo strategis dan geo politik, mengingat Jayapura merupakan sebuah kota di bibir Pasifik. “Jadi, langsung menghadap ke Samudera Pasifik. Ini secara geopolitik, posisinya langsung di Pasifik Barat (ke Asia Timur, Australia, New Zealand) dan tinggal ‘nyeberang jika mau ke Amerika Serikat,” katanya.
Usulan lainnya dilontarkan anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPR Al Muzzammil Yusuf yang menyebut kawasan Sumatera, khususnya Provinsi Lampung, layak dipertimbangkan menjadi ibukota negara karena kedekatan jarak dengan Jakarta dan relatif mudah dibenahi tata kotanya.
Muzzammil mengatakan, jika ide pembangunan jembatan Merak-Bakauheuni jadi direalisasikan maka hanya dibutuhkan waktu tempuh dua jam dari Jakarta menuju Lampung. Selain itu, jarak tempuh melalui jalur udara pun hanya sekitar 30 menit.
Pemindahan ibukota negara dari Jakarta sebenarnya bukanlah hal yang baru.
Ibukota Republik Indonesia pernah beberapa kali pindah antara tahun 1945-1950, yakni dari Jakarta ke DI Yogyakarta, lalu ke Bukittinggi, Sumatera Barat, sebelum dipindahkan lagi ke Jakarta.
Pada masa penjajahan Belanda dulu, Bogor juga pernah menjadi tempat gubernur jenderal dan Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat dagang.
Sejumlah negara pun pernah memindahkan ibukotanya dengan berbagai alasan.
Beberapa negara juga memisahkan pusat pemerintahan dengan pusat bisnis. Pusat pemerintahan AS berada di Washington, dengan pusat bisnis di New York, sedangkan pusat pemerintahan Malaysia berada di Putrajaya, dengan pusat bisnis di Kuala Lumpur. ( ant/ Arief Mujayatno )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.