Tiga Korban Bentrokan TNI- POLRI Dirawat Di RSU Masohi

Ambon ( Berita ) : Sebanyak tiga korban bentrokan personil TNI dari kesatuan Yonif 731/Kabaressy dan Polres Maluku Tengah di Masohi sejak Sabtu subuh, sekitar pukul 04:15 WIT, kini dirawat intensif di RSU setempat.

ANTARA Ambon, Sabtu [02/02] petang, melaporkan ketiga korban tersebut berasal dari Polisi itu teridentifikasi S.Baram, Andi Marula dan Stenli Timisela karena mengalami luka-luka serius akibat rentetan tembakan senjata organik, granat dan mortir yang dipakai “perang” oleh dua institusi keamanan tersebut.

Sementara yang meninggal adalah Bripka Michael Wattimena (36) anggota Satuan Intel Polres Maluku Tengah dan Bripda Musri Siomlibona, sedangkan dari Yonif 731/Kabaressy, Prada Remon Tuda.

Para korban dijenguk Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI.Rasyid Qurnaen Aquary, Kapolda Maluku, Brigjen Pol.Mohammad Guntur Ariyadi dan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu. Pangdam Qurnaen, Kapolda Guntur dan Gubernur Ralahalu mengarahkan pembinaan terhadap masing-masing kesatuan sambil proses penyidikan maupun hukum ditegakkan.

Bentrokan yang menimbulkan trauma bagi warga Masohi dan sekitarnya berawal pada Sabtu (2/2) pagi sekelompok oknum Yonif 731/Kabaressy menyerang Markas Polres Maluku Tengah yang mengakibatkan rumah dinas Kapolres Maluku Tengah AKBP Jacub Parjogo terbakar. Begitu un  40 rumah pada asrama Polres Malteng serta ruang Reskrim Polres Malteng rusak dan hancur.

Bentrokan ini dipicu masalah asmara antara kakak beradik perempuan yang masing-masing menjalin kasih dengan anggota Yonif 731/Kabaressy Prada Eko dan anggota Polres Maluku Tengah. Sang kakak menjalin kasih dengan anggota Polres Malteng, dan sang adik pacar anggota Yonif 731. Keributan terjadi, saat sang adik bersama pacarnya ingin menggunakan kamar sang kakak yang juga tengah bersama pacarnya yang anggota Polres Malteng.  Karena ditolak oleh pacar kakaknya yang berpangkat lebih tinggi, sang adik dan pacarnya pergi.

Namun, sejak tanggal 30 Januari pacar adiknya yang anggota batalyon 731 tidak pernah pulang. Karena itu, sang adik melaporkan ke Batalyon 731/Kabaressi dan muncullah insiden bentrokan itu.

 

 

Warga Trauma

Warga Kota Masohi, Ibukota Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) masih merasa trauma untuk keluar rumah pasca bentrokan antara personil Batalyon Infanteri (Yonif) 731/Kabaressy dengan Polres Malteng, sejak Sabtu subuh, sekitar pukul 04:15 WIT.

ANTARA Ambon, Sabtu petang, melaporkan kendati suasana dan kondisi keamanan di Masohi sudah kondusif, tetapi masyarakat masih merasa trauma dan takut untuk beraktivitas jauh dari rumahnya. “Kami belum berani  beraktivitas jauh dari rumah karena khawatir suasana dapat berubah tiba-tiba, apalagi ruas-ruas jalan tertentu masih dikuasai personil TNI dan polisi yang berjaga-jaga dengan persenjataan lengkap,” ujar sejumlah warga yang dikonfirmasi ANTARA.

Warga mengaku trauma karena bentrokan antara dua kesatuan itu berlangsung hampir delapan jam, karena terdengar rentetan tembakan serta ledakan granat dan mortir.

Beberapa warga juga mengaku, Sabtu siang mendapat perlakuan tidak wajar dari oknum-oknum personil Yonif 731/Kabaressy yang bertindak merampas dan merusak handphone milik mereka saat berjalan di jalan, tanpa alasan yang jelas.

Warga meminta Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Rasyid Qurnuen Aquary untuk mengambil tindakan tegas tanpa pandang bulu terhadap oknum-oknum Yonif 731/Kabaressy yang terlibat bentrokan itu maupun melakukan tindakan semena-mena terhadap warga.

Begitu pun Kapolda Maluku, Brigjen Pol M. Guntur Ariyadi juga harus mengambil tindakan tegas terhadap personilnya yang juga terlibat bentrokan yang mengakibatkan dua anggota Polres Malteng tewas yakni Bripka Michael Wattimena (36) anggota Satuan Intel Polres Maluku Tengah dan Bripda Musri Siomlibona dan seorang personil Yonif 731/Kabaressy meninggal Prada Remon Tude juga tewas.

Situasi dan kondisi keamanan di Masohi dilaporkan telah terkendali setelah Pangdam Qurnuen dan Kapolda Ariyadi serta Gubernur Maluku Karel albert Ralahalu, turun langsung langsung untuk mengamankan situasi, sekaligus melakukan pertemuan secara terpisah dengan personil Yonif 731/Kabaressy dan Polres Maluku Tengah.

Insiden penyerangan ke markas Polres Malteng ini dipicu kesalahpahaman antara seorang anggota Polres Malteng Bripka M. Rumata dan anggota TNI dari Yonif 731 bernama Eko karena masalah asmara mereka dengan dua orang perempuan kakak-beradik. Namun kemudian berkembang isu bahwa Eko menghilang dan diculik, sehingga menyulut kemarahan personil Yonif 731/Kabaressy yang akhirnya melakukan penyerangan ke Markas Polres Malteng, Sabtu dunihari. Aksi penyerangan itu mengakibatkan, rumah dinas Kapolres Malteng AKBP Jacub Parjogo terbakar, 40 rumah pada asrama Polres Malteng serta ruang Reskrim Polres Malteng rusak dan hancur, di samping dua anggota Polres dan satu personil Yonif 731/Kabaressy tewas. ( ant )