Figur Lebih Dominan
Harian WASPADA Sabtu (2/2) sukses menggelar debat bakal kandidat Gubsu 2008-2013. Meskipun dihadiri empat Cagubsu, satu calon RE Siahaan tidak ikut serta, namun acara debat berlangsung sangat menarik.
Dan yang paling penting dari acara itu, para kandidat mampu melewati sesi debat dengan elegan dengan menjawab tuntas setiap pertanyaan yang diajukan para panelis dari berbagai disiplin ilmu dan profesi itu.
Berdasarkan pengalaman dalam pemilihan Presiden dan Pilkada di berbagai daerah, ada tiga kunci sukses bagi setiap calon untuk bisa meraih suara terbanyak. Ketiga hal itu adalah figurnya cukup dikenal masyarakat, penyampaikan visi dan misinya yang baik dalam arti menyentuh dan baik bagi masyarakat, dan yang terakhir adalah dukungan mesin politik (partai)nya.
Kalau ada yang menyebut, kunci sukses bagi kelima pasangan Cagubsu nanti terletak pada kemampuan dalam menawarkan program-program pembangunan masyarakat. Bukan yang muluk-muluk, hal itu sah-sah saja. Tapi, sosok orangnya diyakini jauh lebih besar, bahkan lebih dominan dibandingkan visi dan misi maupun dukungan mesin partai.
Contohnya, SBY bisa mengalahkan Megawati dalam Pilpres lalu. SBY hanya menang figurnya bersih, menarik, ganteng. Padahal, dia hanya didukung partai kecil (Demokrat) dan visi maupun misinya juga biasa-biasa saja, tidak jauh beda dengan Megawati. Kenyataan dia bisa mengalahkan Mega dengan angka yang cukup signifikan.
Justru itu, kemenangan dalam Pilkada Gubsu nanti diprediksi akan diraih oleh pasangan calon yang lebih familiar dengan rakyat, dan yang lebih serius dalam memanfaatkan waktu yang tersisa sekitar 2,5 bulan lagi.
Tak pelak lagi, segala cara diperkirakan akan mereka lakukan untuk berkampanye, bahkan melakukan curi start. Di sini pula kita harapkan KPU dan Panwas bekerja ekstra keras menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sehingga jalannya Pilkada nanti tidak berubah menjadi anarkis.
Hemat kita, banyak hal yang bisa ’’dijual’’ para kandidat Gubsu untuk menarik simpatik publik, khususnya calon pemilih yang beragam. Tentu saja mendekati kantong-kantong pemilihnya dengan mengadakan berbagai kegiatan sosial, agama, maupun olahraga.
Pada umumnya masyarakat kita msih senang dan cenderung memilih sosok atau figur sang calon. Kalau penampilannya menarik, ganteng, santun, dekat dengan masyarakat/dirinya, pastilah bakal banyak pemilih yang jatuh hati padanya. Selain itu, visi dan misi yang benar-benar teruji, logis, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas juga dapat memberikan kontribusi besar. Oleh karena itu, sosialisasi visi dan misi ini menjadi penting diprioritaskan. Dan masih ada satu hal lagi yang mempunyai pengaruh signifikan bagi kemenangan calon, yaitu dukungan mesin politik.
Kalau Parpolnya besar maka peluang menangnya pun besar. Kalau koalisi Parpol pendukungnya banyak maka peluang menangnya pun semakin besar.
Dalam sejumlah Pilkada, ketiga halnya itulah yang menentukan atau kunci sukses para calon kepala daerah di tingkat walikota, bupati, gubernur. Bahlan juga di tingkat presiden. Presiden SBY terpilih dengan selisih suara cukup mencolok dibandingkan suara Megawati (incumbent) karena sosoknya yang ganteng disenangi publik dan sedikit terzalimi. Rano Karno, bintang film dan sinetron menang telak di Tangerang.
Nah, kalau melihat kelima pasangan Cagubsu 2008 masing-masing: H. Syamsul Arifin/Gatot Pudjo Nugroho, HM Ali Umri/H. Maratua Simanjuntak, H. Abdul Wahab Dalimunthe/H. Raden Muhammad Syafi’i, RE Siahaan/Suherdi dan Tri Tamtomo/Benny Pasaribu, selain faktor figir, visi-misi dan mesin partai, maka kans terbesar ada pada pasangan yang mampu menarik simpati kalangan umat Islam. Menyusul pasangan yang didukung kalangan non-Muslim dan pasangan nasionalis plus keluarga besar TNI. =