Peran Parpol Di Negara-Negara Kawasan Asia Pasifik Tetap Penting : Harian Berita Sore

Peran Parpol Di Negara-Negara Kawasan Asia Pasifik Tetap Penting

31 Januari 2008 | 12:05 WIB

Jakarta ( Berita ) :  Berkumpulnya para politikus 14 partai beraliran moderat tengah dari negara-negara Asia Pasifik, menunjukkan peran parpol untuk politik domestik tetap penting di kawasan ini.

“Tetapi, tentang terpilihnya Ketua Umum DPP Partai Golkar, Jusuf Kalla sebagai Presiden Partai-partai Moderat se-Asia Pasifik itu, tidak serta merta berpengaruh, baik secara domestik dalam kaitan eksistensi Partai Golkar menyongsong Pemilu 2009, atau secara eksternal, dalam memainkan peran strategis partai ini ke luar,” kata pengamat politik dari Universitas Gajah Mada (UGM), Dr Cornelis Lay, di Jakarta, Rabu [30/01] .

Ia mengatakan itu menjawab pertanyaan ANTARA tentang apakah terpilihnya Jusuf Kalla sebagai Presiden ‘Centrist Democrat International’ (CDI) atau Parpol Moderat Tengah se-Asia Pasifik, dalam suatu forum yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (26/1) akhir pekan lalu, karena didorong oleh adanya pengakuan atas partai yang dipimpinnya sebagai parpol beraliran moderat terbesar di kawasan ini. “Saya kira ‘nggak’ ada hubungan. Partai tidak merupakan institusi di kawasan Asia Pasifik, sekalipun pada masing-masing negara, peran Partai Politik (Parpol) untuk politik domestik, tetap penting,” katanya. Mengenai apakah dengan kepemimpinan Partai Golkar di regional Asia Pasifik, dapat memiliki pengaruh signifikan terhadap peran Indonesia di kawasan ini, Cornelis Lay menampiknya dengan mengatakan, partai bukanlah kekuatan ‘intermediary’ penting. “Fakta mengatakan begitu. Yakni, partai politik bukanklah suatu kekuatan ‘intermediary’ penting dalam menghubungkan masing-masing sistem politik di kawasan ini,” katanya. Cornelis Lay menjelaskan pula, basis hubungan masih eksekutif dan individual figur.

 

Menarik Investor Asing

Pendapat lainnya menanggapi terpilihnya Ketua Umum DPP Partai Golkar, HM Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI) sebagai Presiden ‘Centrist Democrat International’ atau Parpol Moderat se-Asia Pasifik, datang dari peneliti dan pakar politik LIPI, Dr Hermawan Sulistio. “Pada level internasional seperti itu, jabatan memang hanya untuk ‘image’, bukan kekuasaan riil. Tetapi, kalau Jusuf Kalla bisa memanfaatkannya, dapat dipakai untuk menarik ‘grant’ negara-negara besar dan investor dari luar,” katanya dalam kesempatan terpisah.

Ditanya apakah terpilihnya Jusuf Kalla sebagai Presiden Parpol Moderat Tengah se-Asia Pasifik karena masih kuatnya peran Partai Golkar sebagai partai moderat terbesar di kawasan ini, Hermawan Sulistio tidak melihatnya demikian. “Sebetulnya tidak ada dampaknya karena itu. Hanya berdampak pada citra moderat di dunia internasional,” ujar Mr QQ, demikian panggilan akrab Hermawan Sulistio di lingkungan kerabatnya.

Mengenai posisi tersebut bakal membawa pengaruh bagi peran RI di kawasan ini, atau berdampak pada eksistensi Partai Golkar pada Pemilu 2009, Hermawan Sulistio juga memberi jawaban lain. “Seperti saya katakan tadi, pada level internasional seperti itu, jabatan hanya untuk ‘image’, bukan kekuasaan riil. Tetapi, jika Jusuf Kalla bisa memanfaatkan posisi dan peranannya itu, dapat dipakai secara optimal untuk menarik ‘grant’ negara-negara besar dan investor dari luar,” katanya.

Secara domestik, Mr QQ memperkirakan tidak ada pengaruh signifikan posisi Partai Golkar dengan jadi pemimpin Parpol Moderat Tengah se-Asia Pasifik tersebut berkaitan dengan menghadapi pesta demokrasi Indonesia per 2009 mendatang.

 

Bersatu Dalam Kemajemukan

Sebagaimana diberitakan sejumlah media internasional, konsolidasi Parpol Moderat se-Asia Pasifik itu berlangsung di sebuah hotel di Jakarta Selatan, Sabtu (26/1) akhir pekan lalu. Ketika itu, Partai Golkar urun rembuk bersama 14 parpol berhaluan moderat dalam pertemuan yang bertajuk ‘Centrist Democrat International’ (CDI) se-Asia Pasifik.

Di saat itulah Jusuf Kalla terpilih sebagai Presiden CDI Asia Pasific, menggantikan Jose de Venecia dari Filipina yang masih menjabat Ketua DPR di sana.

Pertemuan yang dihadiri 14 parpol dari 14 negara, antara lain dari Meksiko, juga Belgia, termasuk dari kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia serta Thailand tersebut berakhir dengan penandatanganan ‘Deklarasi Jakarta’. Deklarasi berisi 17 poin komitmen parpol berhaluan sentris atau moderat tersebut, antara lain menyangkut upaya menjaga stabilitas, bersatu dalam kemajukan, kuat dalam pemerintahan, mendukung dialog antar agama, menentang terorisme dan saling bekerjasama. ( ant )

Comments

Got something to say?

You must be logged in to post a comment.