A A
RSS
Print This Post Print This Post
Share on Facebook

Menag: Umat Mesti Hapuskan Dikotomi Ilmu Umum – Agama

Kam, Jan 31, 2008

Nasional

Jakarta ( Berita ) :  Menteri Agama Maftuh Basyuni mengatakan umat mesti meniru masa kejayaan Islam pada era klasik (sekitar abad ke-8 hingga abad ke-13 M) yang tidak melakukan proses dikotomisasi antara ilmu pengetahuan umum dengan  ilmu agama.

“Lembaga keislaman harus melaksanakan paradigma baru yaitu menghapuskan dikotomi yang sekarang terjadi antara ilmu pengetahuan umum dengan ilmu agama,” kata Menag dalam acara pembukaan Semiloka Prototipe Islamic Centre di Jakarta, Kamis [31/01].

Menurut Maftuh Basyuni , peradaban Islam pada era klasik pernah berjaya selama lima abad silam antara lain karena tidak ada dikotomi antara ilmu umum dan agama. Maftuh memaparkan, proses dikotomisasi kedua jenis ilmu tersebut terjadi setelah kecemerlangan peradaban Islam meredup dan dilanjutkan oleh hegemoni peradaban Barat yang mementingkan sekularisasi.

Dengan adanya sekularisasi yang memisahkan paham agama dengan berbagai bidang kehidupan lainnya, ujar dia, maka terjadi pula proses dikotomisasi pula antara ilmu pengetahuan umum dengan  ilmu agama. “Hegemoni yang berpindah ke Barat itu menyebabkan terjadinya sekularisasi iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi),” kata Menag.

Maftuh juga mengatakan, sumber tradisi ilmiah dalam kejayaan peradaban Islam terletak pada Al Qur’an dan Al Hadits. Ia menuturkan, agama sebagai suatu sistem nilai yang mengatur kehidupan umat manusia tidak cukup menjadi obyek kajian semata tetapi juga harus dipahami dan diamalkan secara menyeluruh.

Bila tidak, lanjut Menag, maka dikhawatirkan dapat muncul beragam kerusakan moral yang dapat memunculkan sisi-sisi kehidupan yang tidak layak terdapat dalam suatu bangsa yang beradab. 

Hadir pula dalam acara tersebut antara lain Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Umar Shihab, Kepala Badan Pengelola Jakarta Islamic Centre dr Djailani, dan Kepala Kantor Mesjid Agung Al Azhar Amliwazir Saidi.

 

Islamic Center

Menteri Agama Maftuh Basyuni mengemukakan, Islamic Centre atau Pusat Pengkajian dan Pembinaan Islam merupakan suatu keharusan untuk melakukan pembinaan umat yang sifatnya menyeluruh.

“Islamic Centre merupakan suatu keharusan dan mesti menjadi perhatian setiap muslim yang peduli terhadap pembinaan umat melalui tarbiyah (pendidikan) dan ukhuwah (persaudaraan) serta dilandasi dengan semangat hijrah untuk aktualisasi perbaikan diri,” kata Menag dalam acara pembukaan Semiloka Prototipe Islamic Centre di Jakarta, Kamis.

Menag menuturkan, Islamic Centre bermanfaat dalam melakukan perubahan yang sifatnya mendasar dan menyeluruh bagi umat dari pengabdian kepada materi menjadi pengabdian kepada Illahi.

Selain itu, lanjutnya, Islamic Centre juga berguna agar sikap egosi atau mementingkan diri yang terdapat dalam diri setiap muslim dapat berlaih menjadi rasa empati dan peduli terhadap orang lain dan keadaan di sekitarnya.

Untuk itu, Maftuh mengimbau agar segala macam program yang dijalankan untuk mengembangkan suatu Islamic Centre harus memperhatikan sejumlah hal seperti kearifan lokal yang terdapat di daerah itu.

“Tradisi dan etika ulama setempat merupakan modal dasar yang dapat mengembangkan keunggulan di dalam sebuah masyarakat,” katanya.

Menag juga mengatakan agar pengelola Islamic Center memperhatikan dengan sungguh-sungguh tenaga SDM terutama dalam hal jumlah dan komitmen mereka.

Selain itu, ujar dia, pengelola juga harus mengembangkan strategi manajemen yang strategis dan bersifat komprehensif agar Islamic Centre dapat terbina dengan baik dan benar.

“Para pengelola Islamic Centre rasanya layak belajar dari berbagai pesantren di daerah yang masih bisa ’survive’ karena pengelola pesantren tersebut memiliki komitmen dan integritas yang tinggi terhadap pesantren yang dikelolanya,” kata Maftuh.

 

Belum Sempurna Tanpa Ada Lembaga Sosial

Islamic Centre atau Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam di suatu daerah tidak akan sempurna bila tidak dilengkapi dengan beragam lembaga sosial yang dapat memberdayakan dan bermanfaat bagi masyarakat di daerah itu.

“Markaz Islamiyah atau yang kerap disebut Islamic Centre tidak bisa sempurna tanpa memiliki lembaga sosial seperti lembaga pendidikan dan kesehatan yang bermanfaat bagi umat,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Umar Shihab dalam Semiloka Prototipe Islamic Centre di Jakarta, Kamis.

Dengan adanya lembaga sosial, ujar Umar, suatu Islamic Centre akan menjadi fondasi atau dasar yang baik bagi pembentukan dakwah Islam yang lebih mengajarkan kepada hikmah dan kebijakan yang Islami.

Ia mencemaskan bahwa terdapat sejumlah pendakwah yang kini lebih menekankan materi dakwahnya kepada hal-hal yang dapat menyebabkan perpecahan dan menimbulkan rasa permusuhan.

Untuk itu, Umar berharap agar semiloka tersebut dapat menghasilkan sebuah kesimpulan yang dapat menjadi kerangka acuan atau pedoman dasar dalam pembentukan dan pembinaan suatu Islamic Centre di masa-masa mendatang.

Mengenai mutu dari Islamic Centre yang terdapat di tanah air, ia menyayangkan karena kini masih terdapat sejumlah Islamic Center yang ternyata berkembang tidak sesuai dengan harapan umat pada awalnya.

Umar juga menuturkan, seminar pertama tentang Islamic Centre di Indonesia yang mengundang tamu-tamu internasional antara lain dari Mesir dan Tunisia diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 1991.

Seminar yang disponsori antara lain oleh Jendral (Purn) M Yusuf itu mengambil kesimpulan bahwa Islamic Centre seyogianya menjadi wadah yang menampung semua potensi umat yang dapat diberdayagunakan untuk memberi manfaat sosial kepada segenap kaum muslim.

 

Prioritaskan Pembangunan Wisma Haji

Kepala Kantor Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Amliwazir Saidi, meminta Departemen Agama selaku pihak yang mengelola ibadah haji untuk memprioritaskan pembangunan wisma haji khusus untuk jemaah haji Indonesia di Tanah Suci, Arab Saudi .

“Pemerintah seharusnya segera membuat tempat penginapan yang permanen untuk jemaah haji Indonesia agar setiap tahun tidak terus-menerus menyewa tempat yang lokasinya bisa berubah-ubah,” kata Amliwazir kepada ANTARA di Jakarta, Kamis [31/01] .

Menurut Amliwazir , pendanaan pembangunan wisma haji tersebut dapat berasal dari berbagai sumber terutama Dana Abadi Umat. Ia memaparkan, adanya tempat yang permanen sebenarnya telah dilakukan oleh sejumlah negara antara lain Malaysia yang mempunyai tempat penginapan sendiri di Mekkah yang berjarak sekitar setengah kilometer dari Masjidil Haram, Mekkah .

Amliwazir yang juga menunaikan ibadah haji pada tahun 2007 itu menyayangkan bahwa tempat jemaah haji Indonesia rata-rata masih berjarak lebih dari satu kilometer dari Masjidil Haram.

Selain itu, lanjutnya, terdapat pula permasalahan sejumlah kamar yang terasa sempit dan tidak memadai karena banyaknya jamaah yang ditempatkan dalam kamar tersebut.

Mengenai makanan, Amliwazir mengimbau agar terdapat petugas kloter di tempat prasmanan sehingga jemaah dapat berlaku lebih tertib dan rapi dalam mengambil makanan yang tersedia.

Sebelumnya, Menteri Agama Maftuh Basyuni pada Selasa (22/1) mengatakan, evaluasi pelaksanaan ibadah haji nasional 1428 H akan dilaksanakan pada Februari 2008 setelah seluruh pelaksanaan kegiatan haji di Tanah Suci selesai.

Menag mengakui, persoalan perumahan akan menjadi fokus pemerintah dalam evaluasi tersebut. Untuk soal tersebut, pihaknya telah berusaha mendapatkan perumahan di Mekkah secara permanen.

“Kita sudah membicarakan MoU (nota kesepahaman) untuk pendirian gedung yang akan kita sewa. Ini Insya Allah sekitar 50 ribu orang akan tertampung di situ,” kata Maftuh sambil mengatakan, sudah banyak pihak yang menawari pengadaan rumah.

Sementara itu, ujar dia, rumah-rumah yang kondisinya baik dan telah digunakan jemaah haji Indonesia selama ini akan kembali disewa untuk bisa mencukupi bagi 210 ribu jemaah dari Tanah Air. ( ant )

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.