Boediono: Tak Perlu Latah Sikapi Penurunan Bunga Fed
31 Januari 2008 | 15:40 WIB
Jakarta ( Berita ) : Menko Perekonomian Boediono mengatakan, Indonesia tak perlu latah menyikapi kebijakan penurunan bunga dana Bank Sentral AS (The Fed). “Kita lihat posisi kita deh, kita jangan latah saja,” kata Boediono di Jakarta, Kamis [31/01] , menanggapi semakin tingginya perbedaan suku bunga acuan atau BI Rate dengan bunga The Fed.
Menurut Boediono, kebijakan suku bunga tidak hanya tergantung dari faktor eksternal tetapi juga faktor internal di dalam negeri terutama menyangkut inflasi. “Itu (suku bunga naik atau turun) tergantung inflasi kita, kita tunggu deh beberapa hari lagi diumumkan tingkat inflasinya,” kata Boediono.
Boediono menjelaskan, kasus subprime mortgage di AS menyebabkan adanya perlambatan ekonomi di AS yang berbuntut panjang menyebabkan likuiditas agak ketat. Oleh sebab itu, The Fed menunurunkan suku bunganya.
Sementara mengenai pengaruhnya ke Indonesia, Boediono mengatakan, hal itu tergantung apakah keputusan itu bisa mengurangi perlambatan atau tidak.
The Fed kembali menurunkan suku bunganya dari 3,50 persen menjadi 3,00 persen. Beberapa waktu sebelumnya The Fed menurunkan suku bunga cukup drastis dari 4,25 persen menjadi 3,5 persen. Sementara itu mengenai perlunya institusi penyangga pangan, Boediono mengatakan, pemerintah belum mengambil keputusan tentang hal itu. “Jadi pokoknya Bulog menjalankan apa yang sekarang sudah ditugaskan.Nanti jangka menengah kita lihat lagi peran Bulog untuk komoditas-komoditas yang lain,” katanya.
Cermati Tekanan Inflasi
Bank Indonesia menyatakan perubahan level bunga Federal Funds (the Fed) merupakan salah satu variabel yang dipantau untuk kebijakan moneternya, namun kini lebih mencermati tekanan inflasi dalam negeri yang masih tinggi dewasa ini. “Yang perlu lebih dicermati tekanan inflasi dalam negeri dewasa ini, sehingga sementara ini jangan ditambah lagi oleh perubahan BI rate,” kata Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Made Sukada di Jakarta, Kamis.
Bank Sentral AS (The US Federal Reserve) kembali memangkas suku bunga utama Federal Funds 50 basis poin, Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB), menjadi tiga persen. Penurunan itu dilakukan sepekan setelah tindakan penurunan suku bunga darurat 75 basis poin pada Selasa pekan sebelumnya, untuk meredakan gejolak pasar global di tengah kekhawatiran ekonomi AS yang sudah berada di ambang resesi. Made mengisyaratkan BI rate belum akan diturunkan dalam waktu dekat karena fokus kebijakan moneter pada pengendalian inflasi di dalam negeri.
Sementara itu Ekonom Lippobank Winang Budoyo mengatakan, penurunan suku bunga AS itu belum menjadi perhatian utama bagi para bankir di bank sentral Indonesia. Tekanan inflasi yang terus meningkat masih menjadi perhatian utama BI. “Jadi saya pikir BI rate tetap akan pada 8 persen,” katanya.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 8 Januari mempertahankan suku bunga acuan BI Rate pada level 8 persen karena melihat kondisi perekonomian yang terjadi saat ini. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi terhadap kondisi makro ekonomi Indonesia 2007, prospek ekonomi moneter ke depan dan berbagai faktor resiko yang dihadapi, serta pencapaian sasaran inflasi lima plus minus satu persen pada 2008, kata Gubernur BI. ( ant )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.