Ekonomi Kita 2008

MENJELANG pergantian tahun media menyorot keadaan ekonomi Indonesia dan memberikan penilaian. Majalah Tempo ( 23 Desember 2007) pada sampul kulitnya menerakan: Prospek ekonomi 2008 optimisme dalam ancaman.

Ekonomi membaik tapi kenaikan harga minyak bisa jadi sandungan. Menurut Business News (17 Desember ), seharusnya Indonesia bertambah kaya dengan lonjakan harga berbagai komoditas mineral dan pertanian di pasar dunia belakangan ini.

Sebetulnya bahkan ekonomi kita bisa booming (berkembang subur) jika tingkat produksi minyak seperti sebelum  tahun 2000 bisa dipertahankan. Sayangya Indonesia justru  menjadi negara pengimpor minyak saat harga berkisar USD 98 per barel sekarang ini.

Untungnya kehilangan kita di minyak dapat sedikit tertolong oleh melonjaknya harga minyak sawit (CPO) dan batubara, dua komoditas yang menajdi promadona di pasar global dan Indonesia adalah salah satu suplier terbesar di dunia, demikian Business News. Pakar ekonomi Faisal Basri dalam Kompas (17 Desember) memilih berbicara tentang : Tantangan baru perangi kemiskinan. Mengingat suara pelbagai media tadi saya ingin menaruh di sini versi pemerintah SBY mengenai keadaan ekonomi kita sebagaimana diutarakan dalam iklan satu halaman yang disiarkan dalam pers luarnegeri, di antaranya International Herald Tribune ( 3 Desember 2007) berjudul: The Indonesia Advantage (Keuntungan Indonesia), disusul dengan penjelasan : Pertumbuhan ekonomi kuat memikat para investor (penanam modal). Dengan begitu kita beroleh gambaran dari kedua bielah pihak yaitu yang menyorot dan yang disorot, media  massa dan pemerintah.

Pemerintah menyatakan : Seraya ekonomi Indonesia sebesar 364 miliar dolar AS yaitu yang terbesar di Asia Tenggara terus bertambah, maka negeri itu mencatat kemajuan keras dalam mereposisi dirinya  sebagai sebuah lokasi sangat atraktif (menarik) bagi investasi asing.

Ekonomi tumbuh dengan 6,5 persen dalam truwulan ketiga tahun 2007, lahu triwulan tercepat dalam  lebih dari 10 tahun. Ini menyusul pada perluasan lebih tinggi daripada yang diharapkan 6,3 persen di triwulan sebelumnya.

Inflasi dan suku bunga yang lebih rendah,pengeluaran yang lebih tinggi dan rencana -rencana pemerintah untuk mengeluarkan uang lebih banyak bagi perkembangan prasarana (infrastruktur ) akan  menciptakan kesempatan kerja yang sangat dibutuhkan, semua itu telah membantu mengilhami kepercayaan.

Kendati demikian ekonomi harus memulihkan diri dari sejumlah kejutan termasuk beberapa bencana alam (tsunami, gempa bumi) dan barga-harga minyak yang membubung tinggi yang pada akhirnya membawa pada pengurangan sangat besar dalam subsidi BBM pada tahun 2005 yang merupakan terbesar dalam sejarah Indonesia, kendati para penganalisa memuji putusan pemerintah tadi sebagai suatu prestasi besar ekonomi dari pemerintah, namun kenaikan menyusul dalam harga minyak telah menyusutkan pengeluaran konsumen dan memperlambnat pertumbuhan ekonomi. Inflasi tinggi, suku bunga tinggi dan pengeluaran konsumen yang lemah berlanjut memasuki parohan pertama tahun 2006.

 

Akan tetapi pada akhir tahun itu ekonomi kembali ke atas rel yang sehat dengan didukung oleh stabilitas politik yang berlanjut.

 

Pencapaian (prestasi) ini disokong dengan diterbitkannya laporan  Bank Dunia akhir Juli berjudul Peninjauan kembali pengeluaran publik Indonesia 2007″. Laporan itu mencatat menyusul hampir 10 tahun manajemen makroekonomi yang sukses, akhirnya negeri berada dalam posisi kekuatan fiskal.

 

Suatu posisi cadangan devisa yang sehat, berkat kenaikan -kenaikan kuat harga komoditas, menggarisba-wahi landasan 9 pondamen) fiskal yang kuat itu. Cadangan devisa naik menjadi 54,1 miliar dolar AS pada akhir bulan Oktober, meningkat dari 52,88 miliar bulan sebelumnya dan diproyeksikan akan naik jadi 66,9 miliar dolar AS pada akhir tahun 2007.

 

Dalam pada itu Sofyan Djalil Menteri BUMN berencana mendirikan sebuah badan investasi yang berdaulat yang akan mengelola dan mengontrol sekitar 17,35 miliar dolar AS dalam aset-aset milik negara dari 139 badan usaha milik negara.

 

Begitu juga di sektor pricat (swasta) kepercayaan yang bertumbuh terhadap masa depan telah membawa kepada peningkatan dalam transaksi-transaksi restrukturisasi korporat yang banyak melibatkan aset-aset yang dipegang  pengelolaan  aset perusahaan milik negara. Misalnya, Recapital Advisors berbasis di Jakarta, salah satu bankir  investasi terkemuka di negeri telah dengan sukses memperbaiki beberapa aset demikian dengan menghimpun modal dan merestrukturisasi utang, dibarengi dengan perubahan-perubahan dalam manaje-men perusahaan. Rekornya yang mengesankan tampaknya dengan sempurna memosisikan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan terhadap lebih banyak  transaksi demikian di tengab pertumbuhan berkelanjutan yang  diharapkan dalam ekonomi.

 

Dibidang eksternal pertumbuhan ekspor yang sehat dan kuat telah berlanjut sepanjang tahun. Pada akhir September ekspor total mencapai 83 miliar dolar AS, mewakili suatu kenaikan 12,88 persen, dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2006. Ini menyusul suatu rekor 100,7 miliar dolar AS dalam total ekspor selama tahun 2006, demikian versi pemerintah mengenai situasi ekonomi kita sebagaimana diiklankannya dalam media luar negeri. (***)