Kayani Ganti Musharraf
26 Desember 2007 | 15:23 WIB
SAYA lihat di siaran televisi BBC dan CNN upacara serah terima Jenderal Pervez Musharraf selaku Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan kepada Jenderal Ashraq Parvez Kayani tanggal 28 Nobember 2007 di Rawalpindi, tidak jauh dari Kota Lahore.
Sebagaimana dimaklumi pihak oposisi seperti mantan PM Benazir Bhutto dan mantan PM Navaz Sharif, juga para pengacara dan mahasiswa menuntut, supaya Musharraf melepaskan pangkatnya sebagai jenderal dan pakaian seragam militernya, apabila dia mau menjabat sebagai Presiden Pakistan, tapi sebagai presiden sipil.
Jenderal Musharraf naik ke kekuasaan melalui kudeta tahun 1999 dan menggulingkan waktu itu PM Navaz Sharif. Antara Sharif dengan Musharraf tidak terdapat hubungan yang harmonis. Sharif dituduh oleh pihak militer melakukan korupsi. Sharif mau menangkap Musharraf dan tidak mengizinkan pesawat terbang yang ditompangi oleh Musharraf dalam perjalanan kembali dari Srilangka mendarat di bendara Karachi. Beberapa waktu lamanya pesawat berputar-putar terbang di ats Karachi sampai saatnya pihak tentara turun tangan dan memungkinkan Jenderal Musharraf mendarat. Tidak lama kemudian sebagaimana sering dilakukannya di masa lampau tentara merebut kekuasaan dan menaikkan Musharraf ke kursi kepresidenan. Sudah delapan tahun lamanya Musharraf menjadi presiden. Dia menjelma sebagai sekutu Presiden AS George W Bush setelah terjadi pemboman gedung World Tower di New York oleh para anggota AL Qaeda tanggal 11 September 2003. Dia ikut bersama Bush melakukan perang terhadap teroris Al Qaeda dan pemimpinnya Osama bin Laden. Dia menerima sudah 10 militer dolar AS berupa bantuan militer dari pihak Amerika untuk melancarkan perang terhadap kaum teroris yang berada di perbatasan Afghanistan dan Pakistan.
Di siaran televisi itu tampak Jenderal Musharraf menyerahkan baton alias tongkat komando kepada Jenderal Kayani (55) wakil kepala staf tentara. Suatu isyarat simbolis bahwa telah terjadi pergantian kepala staf tentara dan bahwa Musharraf sudah menjadi orang sipil. Dalam adegan berikut tampak Musharraf dalam busana sipil berjala ke tempat dia diterima sebagai presiden yang diambil sumpahya untuk masa jabatan lima tahun mendatang. Sebagai presiden sipil kekuasaan Musharraf akan sangat berkurang dibanding dengan waktu dia menjabat presiden merangkap kepada staf tentara.
Jenderal Kayani sebelumnya kepala intel tentara yang di Pakistan dikenal sebagai inter. Service Intelligence agency (ISI) yang besar pengaruhnya, dan antara lain bertanggung jawab atas pembentukan Taliban yang kemudian berhasil mengoper kekuasaan di Afghanistan dan memerintahkan negeri itu dengan ketentuan Syariat Islam yang ketat sekali.
Kayani adalah tamatan Command and General Staff College di Forty Leaven worth, Kansas, AS. Dia telah memainkan peran terkemuka dalam bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam perjuangan melawan terorisme di
Menurut wartawan Carlotta Gall dalam International Herald Tribune (
Musharraf yang mengumumkan pemerintahan darurat tanggal
’Saya sedih meninggalkan tentara yang merupakan bagaikan suatu keluarga bagi saya’ kata Musharraf dalam sebuah pidato emosional di depan para pejabat pemerintah dan militer dan para isteri mereka yang berkumpul di tempat parade tentara di kota tangsi militer Rawalpindi di sebelah selatan ibukota. ‘Walaupun saya menanggalkan pakaian seragam militer saya, tentara akan selalu berada dalam kalbu saya’, ujar Musharraf.
Lawan-lawan politiknya menjelaskan bahwa menanggalkan peran militernya mungkin tidaklah cukup adanya. Mantan PM Nawaz Sharif yang balik ke Pakistan setelah absen selama delapan tahun untuk memberikan tantangan dalam pemilihan parlemen tanggal 8 Januari 2008 mengatakan bawha dia tidak bakal mau jadi perdana menteri di bawah pemerintah Bush kepada Benazir Bhutto, juga mantan PM dan pemimpin oposisi yang disukai oleh Washington sebagai pemimpin politik sekuler ketimbang dengan Sharif. Bhutto juga adalah mitra yang lebih pasti untuk melawan kaum ekstremis Islam.
Seraya Bhutto dan Sharif benci kepada Jenderal Musharraf, mereka berdua juga saling membenci. Apakah mereka bisa membentuk suatu oposisi yang kokoh terhadap Musharraf sebelum pemilihan parlemen tanggal 8 Januari 2008 adalah sama sekali belum terang, demikian tulis wartawan Carlotta Call. Tapi siaran kemudian oleh televisi BBC menunjukkan bahwa Benazir Bhutto dan Nawaz Sharif telah bersepakat untuk tidak memboikot pemilu 8 Januari 2008.




Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.