Konferensi Annapolis Berpeluang Perlebar Perpecahan Arab : Harian Berita Sore

Konferensi Annapolis Berpeluang Perlebar Perpecahan Arab

30 Nopember 2007 | 11:09 WIB

Konferensi perdamaian Arab-Israel di Annapolis Maryland, AS, yang diprakarsai AS akhirnya berlangsung sesuai target tuan rumah dan dihadiri oleh utusan dari 40 negara.

Konferensi Annapolis yang dibuka Selasa (27/11) itu juga menandakan dimulainya perundingan resmi Israel-Palestina setelah tujuh tahun berhenti akibat kunjungan provokatif mantan PM Israel, Ariel Sharon ke areal Masjid Al-Aqsha tahun 2000. Kunjungan itu menimbulkan intifada (aksi massa) Palestina yang dibalas negeri zionis itu dengan beberapa kali invasi ke wilayah otoritas Palestina yang menimbulkan ribuan korban jiwa warga sipil di pihak bangsa Palestina.

Suasana akrab antara Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan PM Israel, Ehud Olmert, pada saat pembukaan konferensi tersebut tidak jauh berbeda dengan suasana serupa saat penandatangan Persetujuan Oslo di halaman Gedung Putih pada 1993.

Karena itu tidak bisa disalahkan bila sebagian besar publik Arab tidak begitu antusias menyaksikan jalannya konferensi itu, karena mereka masih teringat dengan suasana penandatangan Persetujuan Oslo antara Presiden Yasser Arafat dan PM Israel Yitzak Rabin kala itu. Media massa Arab baik yang pro maupun yang kontra dengan pelaksanaan konferensi itu sependapat bahwa yang terpenting adalah “maaza ba`da Annabolis“ (apa setelah Annapolis).

Sebagian besar media massa cetak Arab terkemuka yang terbit pada Rabu (28/11) menfokuskan tajuknya pada “maaza ba`da Annabolis“ mengingat pengalaman Persetujuan Oslo sekitar 14 tahun yang lalu yang tidak menghasilkan apa-apa. “Tanpa dilakukan tekanan yang serius dari AS, Israel tidak akan pernah konsisten dengan persetujuan yang telah dicapai. Kita sulit melupakan keberpihakan mutlak AS kepada Israel,” demikian antara lain kesimpulan sejumlah media Arab.

Karena itu, tidak berlebihan apabila janji tuan rumah yang disampaikan Presiden Bush pada pembukaan konferensi agar akhir tahun 2008 sudah bisa tercapai kesepakatan final antara Israel-Palestina disambut dingin.

Sikap dingin tersebut agaknya beralasan mengingat para pemimpin negeri Yahudi itu sering ingkar janji apalagi bila tampuk pimpinan silih berganti dan posisi dalam negeri Olmert saat ini lemah.

Makanya, Olmert yang sadar akan posisinya di dalam negeri, beberapa jam setelah pembukaan konferensi “meralat“ bahwa batas 2008 untuk mencapai kesepakatan final kemungkinan sulit tercapai.

 

Khawatir

Terlepas dari sikap Olmert itu, yang jelas, pandangannya pada sambutan pembukaan konferensi yang perlu dicatat adalah, “hanya  negara-negara Arab moderat yang bisa membantu melancarkan kesepakatan damai antara Israel dan otoritas Palestina.” Pernyataan itu secara jelas memojokkan negara-negara Arab dan faksi-faksi Palestina yang ia cap radikal, terutama Hammas yang menguasai mayoritas kursi Parlemen Palestina.

Bila alur pikiran Olmer itu mendapat dukungan kuat Washington, maka dapat sebagai sarana untuk mengadu domba dunia Arab antara apa yang disebut Israel sebagai poros moderat dan poros radikal. Karena itu, tidak berlebihan bila terdapat kekhawatiran alur pikiran Olmert tersebut dapat mengadu domba antara negara-negara Arab dan juga makin memperlebar kesenjangan antara faksi-faksi Palestina.

Seorang tokoh rekonsiliasi Palestina Dr. Musthafa Al-Bargouthi dalam acara dengar pendapat antartokoh Palestina yang disiarkan langsung TV Aljazeera Qatar, saat pembukaan konferensi itu, mengakui bahwa pernyataan Olmert berbahaya. “Bila pandangan Olmert pada sambutan pembukaan itu diterima sama saja dengan mengadu domba Arab seolah-olah dalam proses damai ini Arab terbagi menjadi dua yakni moderat dan radikal,” katanya.

Karena itu, ia cepat-cepat mengingatkan para pemimpin Arab bahwa masalah sebenarnya adalah pendudukan. “Kita jangan sampai termakan pandangan Israel seolah-olah yang menjadi masalah adalah sikap sebagian negara Arab, dan melupakan pendudukan sebagai biang sebenarnya konflik berkepanjangan,” ujarnya.

Salah seorang mantan menteri pada kabinet yang dipimpin PM Ismail Hania yang dibubarkan Presiden Abbas itu juga mencatat fokus utama tuan rumah dan Olmert yang hanya mengajak dunia Arab dan Islam untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

Penasihat Presiden Palestina, Nabil Amr yang juga hadir dalam acara dengar pendapat yang ditayangkan langsung dari Washington itu mengakui beban sangat berat yang akan dipikul otoritas Palestina. “Tapi yakinlah kami tidak akan memberi konsesi atas isu-isu utama. Semua akan kami perjuangkan meskipun banyak yang pesimistis, namun kami tetap optimistis, apalagi konferensi ini dihadiri 40 negara, lebih afdal dari hanya perundingan bilateral (Israel-Palestina red.),” katanya.

 

Konflik intern

Yang sudah pasti lagi adalah konflik intern Palestina pascakonferensi Annapolis makin meluas karena bukan hanya Hammas saja yang menentang pelaksanaannya, akan tetapi sejumlah faksi Palestina akhirnya satu barisan dengan Hammas.

Tokoh-tokoh Hammas dan sejumlah faksi Palestina lainnya memimpin unjuk rasa dan melakukan orasi di Gaza pada saat pembukaan konferensi berlangsung. Mereka umumnya mengecam Abbas yang dianggap didekte Israel.

“Konferensi ini hanya akan menambah penderitaan bangsa Palestina,” demikian pernyataan Ismail Ridwan, seorang tokoh Hammas.

Bukan hanya konflik intern Palestina yang terkena dampak Annapolis. Libanon juga berpeluang terkena dampaknya meskipun dengan alasan yang berbeda yaitu kevakuman pucuk pimpinan (Presiden).

Kelompok oposisi Libanon sangat menentang keputusan pemerintah pimpinan PM Fuad Siniora yang ambil bagian dalam pertemuan tersebut, pada saat ketegangan seputar siapa pengganti Presiden Emil Lahoud belum terselesaikan.

Khawatir partisipasi itu dijadikan salah satu alasan bagi oposisi, Walid Jumblad yang menjadi salah satu tokoh pro pemerintah mengingatkan agar jangan sampai Annapolis menjadi penyebab makin lebarnya kesenjangan antara oposisi dengan pemerintah.

“Cukuplah perseteruan intern Libanon yang belum terselesaikan yang perlu dibahas bersama. Jangan sampai Annapolis dikaitkan lagi sebagai penyebab melebarnya kesenjangan kedua belah pihak” katanya.

Yang jelas konflik intern Palestina terutama antara Hammas-Fatah tetap akan berpengaruh pada sikap dunia Arab. Fatah mendapat dukungan sejumlah negara Arab terkemuka, sedangkan Hammas juga mendapat dukungan dari beberapa negara Arab lainnya.

Karena itu tidak berlebihan bila konferensi Annapolis yang masih diragukan hasilnya itu berpeluang untuk memperlebar perpecahan di kalangan dunia Arab, sehingga impian bangsa Palestina mewujudkan negara merdeka, masih sebatas mimpi. ( ant/ Musthafa Luthfi )

Comments

Got something to say?

You must be logged in to post a comment.