Tokoh Dunia Akan Berbicara di IAPC Bali, Indonesia Berpotensi Jadi Kiblat Demokrasi di Asia

      Tidak ada Komentar

Denpasar ( Berita ) :  Sejumlah tokoh dunia akan tampil sebagai pembicara dalam konferensi tahunan Asosiasi International Konsultan Politik (IAPC) Ke-40 di kawasan Nusa Dua, Bali, selama lima hari, 11-15 Nopember 2007.

“Selain Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dijadualkan membuka kegiatan tersebut, juga tampil sebagai pembicara Ketua DPR Agung Laksono,” kata Ketua Asosiasi Konsultan Politik Asia Pasifik (APAPC), Pri Sulisto, dalam penjelasan yang diterima di Denpasar, Jumat [09/11] .

Ia mengatakan tokoh nasional lainnya yang tidak kalah penting adalah Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita, mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim dan sejumlah tokoh dunia lainnya.

Mereka antara lain Datuk Seri Anwar Ibrahim, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdewi, tokoh demokrasi Hongkong Martin Lee serta tokoh Pers Amerika Serikat Tom Plete.

IAPC ke-40 merupakan kegiatan besar yang bertujuan untuk menjadi wadah bagi semua anggota guna bertukar pikiran tentang proses politik, tambahnya.

Konferensi tahunan ini akan memungkinkan para profesional politik untuk membahas berbagai permasalahan politik internasional.

Selain itu membicarakan dan menganalisa pelaksanaan pemilihan umum di seluruh dunia, meninjau kembali sejumlah strategi kampanye dengan sejarah berbagai kasus.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah meningkatkan teknik jajak pendapat dan riset, mendengarkan masukan dari para pakar mengenai sejumlah perkembangan dalam media komunikasi dan teknologi baru, ujarnya.

 

Kiblat Demokrasi Di Kawasan Asia

Indonesia sangat berpotensi menjadi kiblat demokrasi di kawasan Asia, berkat keberhasilan mengembangkan dan melaksanakan sistem demokrasi.

“Potensi dan keberhasilan Indonesia melaksanakan demokrasi diakui dan dipuji para pakar politik mengenai Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi International Konsultan Politik (IAPC),” kata Ketua Asosiasi Konsultan Politik Asia Pasifik (APAPC) Pri Sulisto dalam penjelasan yang  di Denpasar, Jumat [09/11].

Ia mengatakan keberhasilan Indonesia dalam bidang demokrasi bisa menjadi contoh bagi negara-negara di kawasan Asia yang hingga saat ini beberapa di antaranya masih diperintah dengan “tangan besi”. Indonesia bisa menjadi contoh, bahwa pembangunan sistem demokrasi dapat berjalan seiring dengan upaya pembangunan ekonomi.

“Di dalam alam demokrasi semua menjadi serba transparan, karena setiap orang bebas berbicara, mengritik dan menyoroti jalannya proses pemerintahan, termasuk proses pengambilan keputusan bisnis dan ekonomi,” kata Pri Sulisto.

Menjelang berlangsungnya konferensi tahunan IAPC ke-40 yang akan digelar di Nusa Dua, Bali, mulai Minggu, 11 Nopember, ia menilai keberhasilan Indonesia dalam bidang demokrasi yang tidak banyak disadari itu, membuat pihak luar termasuk IAPC, membuka mata bangsa Indonesia, bahwa keberhasilan tersebut merupakan sebuah prestasi yang luar biasa.

Sementara Ketua Bersama Komite Konferensi IAPC ke-40 di Bali, Robert Murdoch menambahkan prestasi itu menjadikan Indonesia sangat berpotensi mengantar datangnya suatu era baru di Asia yang demokratis dan makmur.

Itu salah satu alasan mengapa IAPC memilih Indonesia sebagai tempat konferensi ke-40 yang mengusung tema “Dimulainya Abad Asia”.

Selain sebagai penghargaan, dipilihnya Indonesia menjadi tempat pertemuan juga merupakan perwujudan perjuangan IAPC untuk mempromosikan demokrasi di seluruh dunia, ujar Robert.

Konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, 11-15 Nopember 2008, akan membahas sejumlah topik yang sedang hangat, antara lain sekularisme, Islam dan demokrasi serta demokrasi pengalaman Indonesia. ( ant )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>