Persoalan Guru Kompleks : Harian Berita Sore

Persoalan Guru Kompleks

31 Oktober 2007 | 15:01 WIB

Dunia pendidikan kita suram, tidak pernah jelas arahnya, termasuk kontroversi masalah Ujian Nasional (UN) dan adanya upaya memaksanakan anak SD pun harus ikut UN. Semakin banyak yang ikut UN maka biayanya semakin besar. Padahal, manfaat UN bisa dibilang kecil sekali. Wajar jika banyak pihak menolaknya.

Penolakan kalangan guru, biasanya datang menjelang UN, khususnya mereka yang berada di luar kota dan biasanya pula  dianggap angin lalu. Pemerintah tetap menyelenggarakan UN meskipun manfaatnya tidak jelas dan menghabiskan anggaran negara cukup besar.

Kalau melihat konsep pendidikan dan penjabarannya lewat kurikulum semestinya dunia pendidikan kita sudah maju dan berkembang pesat. Faktanya, bukan prestasi yang dicapai melainkan kemerosotan, peringkat Indonesia   di luar 100 besar dunia,  sangat jauh di bawah Malaysia yang dulu belajar di Indonesia, tetapi kita dosen kita belajar S2 dan S3 di Malaysia..

Hemat kita, sebenarnya bukan konsep dan kurikulumnya yang salah. Apalagi sebelum membuat kurikulum kajiannya sudah mendalam. Lantas, di mana kelemahan dunia pendidikan kita sebenarnya?

Persoalan guru sangat kompleks. Itu pasti. Sayangnya, benang kusut masalah pendidikan bukannya semakin mengecil, melainkan semakin parah. Hal ini perlu  menjadi perhatian dari pihak terkait untuk mencarikan solusi pemecahannya sehingga masa depan pendidikan kita bisa lebih baik.

Kalau dulu Malaysia belajar banyak dari kita, maka tidak ada salahnya kita sekarang yang belajar  ke Malaysia. Jangan gengsi jika ingin dunia pendidikan kita maju.

Anggota dewan dan tokoh pendidikan Adi Munasip pernah mengungkapkan salah satu persoalan utama dunia pendidikan di Kota Medan dan juga di sebagian besar daerah lain di tanah air adalah pendapatan tenaga pendidik yang relatif kecil.

Gaji yang kecil membuat tenaga pendidik kesulitan mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga tidak jarang di antara mereka mencari pekerjaan sampingan. Pekerjaan sampingan itu sendiri cenderung menyita waktu sehingga tugas mengajar yang merupakan tugas utama menjadi terabaikan.

Apa yang dikatakan Adi Munasip itu ada benarnya, namun bukan berarti kalau gaji guru dinaikkan dua kali lipat misalnya,  berarti atau otomatis dunia pendidikan kita bakal maju.

Tidak ada jaminan ke arah itu. Sebab, gaji kecil hanya salah satu faktor, sementara faktor lainnya masih sangat banyak, bisa puluhan, di antaranya mental pendidik (guru) yang buruk.

Jadi, masalah mental karena banyak pendidik yang sebanrnya  tidak siap menjadi guru yang baik  di depan kelas. Hal ini patut diperhatikan. Sebab, kalau gaji dinaikkan bukannya para pendidik mengubah pola mengajarnya lebih baik, menyisakan sebagian dari gajinya untuk menambah wawasan dan pengetahuannya. Sedbab, kualitas guru jika sudah lama mengajar biasanya bukannya semakin baik, tetapi semakin menurun. Oleh karena itu kemampuan guru perlu diuji dengan sertifikasi.  Bisa-bisa  bila gaji naik kebutuhannya  pun ikut  meningkat.

Biasanya dia naik sepedamotor  kini mengangsur mobil. Biasa hidup dengan pengeluaran Rp1 juta nantinya hidup dengan  penbgeluaran Rp2 juta, atau sebelumnya puas dengan TV21 inci setelah gaji naik malahan membeli barang-barang konsumtif. Dengan demikian kemampuan mengajar tetap rendah.

Guru tidak konsentrasi mengajar karena harus mencari uang tambahan dengan mengojek atau kerja sampingan lainnya memang ban yak dan perlu diatasi. Kondisi seperti itu memang menyebabkan  banyak guru itu tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan bahan pengajaran sekaligus mendidik para anak didik di dalam kelas.

Dampaknya, proses belajar-mengajar dilaksanakan seadanya saja. Masalah ini sudah menjadi rahasia umum. Semakin hari dunia pendidikan kita khususnya guru semakin kompleks saja. =

 

Comments

Got something to say?

You must be logged in to post a comment.