Waspadai Masuknya Ajaran Sesat Ke Sumut
30 Oktober 2007 | 14:54 WIB
Informasi dari Ketua MUI Medan Prof Dr H Muhammad Hatta, sejak empat bulan lalu sudah ada informasi masuknya aliran sesat Al-Qiyadah Islamiyah ke Sumut, khususnya kota Medan, namun keberadaannya masih belum terdeteksi, karena kelompok ini melakukan kegiatan secara sembunyi-sembunyi.
Masuknya dari Batam. Oleh karena itu pihaknya akan terus mencari tahu dan berusaha untuk menumpas aliran sesat dari mana pun datangnya. Sebab, tidak sesuai dengan ajaran Islam. Apalagi ajaran sesat Al-Qiyadah Islamiyah tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai Rasulullah atau Nabi terakhir sampai akhir zaman.
Maraknya perkembangan ajaran sesat belakangan ini, menurut hemat kita bisa disebabkan beberapa faktor. Pertama, kebebasan yang disalahgunakan sehingga orang seenaknya membentuk aliran.
Kedua, unsur politik untuk kepentingan kelompok atau individu tertentu. Ketiga, karena kelompok-kelompok Islam itu sendiri selalu berbeda pendapat sehingga membingungkan dan menumbuhkan ajaran sesat yang baru dengan alasan untuk mencari kebenaran. Ini akibat sulitnya kelompok Islam menyatukan diri dan merasa pendapatnya yang paling benar.
Ajaran yang dikembangkan Al-Qiyadah Islamiyah sudah jauh sekali menyimpang dari ajaran Al-Quran dan Hadits Nabi, sehingga sudah semestinya pemerintah dan MUI tegas mengeluarkan fatwa bahwa ajaran seperti itu tidak boleh diikuti oleh umat Islam di Indonesia.
Ajaran Al-Qiyadah Islamiyah menyimpang dari ajaran Islam. Ajaran tersebut tidak mewajibkan shalat lima waktu, berpuasa, mengingkari Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, tidak mengenal haji, kalimat syahadat diganti “Asyhadu Allah Ilahaillallah, Waasyhaduaanna Almasih Alma’ud Rasul Allah”. Tentunya syahadat tersebut sangat menyimpang dari ajaran Islam.
Islam menyakini bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi terakhir sampai akhir zaman. ’’Innaddinna Indhallahi Islam’’, di mana Islam merupakan agama yang benar dengan Al-Quran sebagai kitabnya.
Kalau hanya masalah khilafiyah, sepertinya kapan harus berhari raya, seperti Idul Fitri 1428 H lalu tidak begitu menyimpang. Terdapat empat kelompok yang merayakan Idul Fitri, mulai hari Kamis, Jumat, Sabtu, bahkan Minggu. Masing-maisng dengan keyakinannya berdasarkan kajian dan tuntunan Al-Quran dan hadits Nabi Muhamamd SAW.
Siapakah yang benar, pastilah satu di antara empat kelompok tersebut. Walaupun masalah penentuan hari raya Idul Fitri dimasukkan dalam kategori ringan sehingga diimbau tidak perlu dipermasalahkan, dipersilahan mau ikut mana saja, namun dalam masalah yang esensial kita tidak dapat membiarkannya berlarut-larut.
Makin lama dibiarkan akan semakin menjadi masalah nantinya, apalagi kalau pengikutnya sudah banyak. Mereka pasti akan melawan, sehingga terjadilah hal-hal yang tak diingini, seperti main kekerasan. Padahal, Islam mengajarkan kesantunan, mengajarkan kesabaran, mengajarkan keikhlasan, saling tolong-menolong. Yang salah wajib dibantu dengan ajaran yang benar sehingga bisa kembali kepada ajaran yang benar sesuai dengan Al-Quran dan hadits Nabi SAW.
Dalam konteks maraknya ajaran sesat di masyarakat belakangan ini diharapkan sekali peranan MUI Pusat di daerah-daerah agar benar-benar memperhatikan dan mengambil tindakan tegas, sebelum masalahnya kian berkembang dan meresahkan masyarakat luas.
Kalau MUI tidak bergerak, maka ajaran sesat bisa tumbuh subur di mana-mana. Tidak hanya masuk Sumut tetapi mengacaukan kerukunan antarumat beragama yang sudah terbina selama ini. Justru itu, harus diwaspadai dan dicegah.=


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.