Prof Ismail: Masyarakat Dan Pemerintah Amerika Beda Dalam Melihat Islam : Harian Berita Sore

Prof Ismail: Masyarakat Dan Pemerintah Amerika Beda Dalam Melihat Islam

28 September 2007 | 11:47 WIB

Jakarta ( Berita ) :  Ada perbedaan yang sangat mendasar antara masyarakat dan pemerintah Amerika Serikat (AS) dalam melihat Islam yang mungkin banyak masyarakat di luar AS tidak memahami hal ini, ujar Prof  Ismail K. Poonawala, Pd.D.

Berbicara pada forum dialog di Pusat Dialog dan Kerja sama antar  Civilisasi  atau peradaban (CDCC), Jakarta, Kamis [27/09] malam,  Prof Ismail, warga Amerika keturunan India yang mengajar di Universitas California, mengatakan bahwa masyarakat Amerika sangat toleran dan apresiatif dalam hal perbedaan terhadap agama atau keyakinan.

Sementara itu, kondisi  harmonis yang ditemui di tengah masyarakat Amerika sangat bertentangan sekali dengan kebijakan Pemerintah Amerika sendiri  dalam melihat Islam yang penuh dengan jargon-jargon hasutan, sehingga menimbulkan kesan bahwa Islam itu jahat, tidak toleran,  diskriminatif, dan lain-lain.

Politik Pemerintah AS  seperti ini akhirnya  menimbulkan kebencian  dari negara lain terhadap masyarakat Amerika sendiri. “Dalam konteks inilah, saya harus menyampaikan kepada masyarakat Indonesia, bahwa pada prinsipnya rakyat Amerika dan bukan pemerintahnya sangat toleran dan mempunyai pengertian terhadap sesama dan begitu juga sebaliknya.

Sejak peristiwa 11 September 2002 dulu dimana Islam disoroti dan dipublikasikan oleh berbagai media massa  di Amerika sebagai momok kejahatan, justru membuat masyarakat Amerika mau  mempelajari Islam. “Ada apa dengan Islam sehingga beberapa orang Muslim begitu  nekat membom gedung kembar pencakar langit World Trade Center di New York“.

Kenyataan membuktikan bahwa banyak buku-buku tentang  Islam di toko buku di Amerika laris terjual. Masyarakat Amerika ingin tahu kenapa hal seperti ini terjadi. Yang lebih mengherankan, malah ada beberapa orang Amerika yang masuk Islam setelah mempelajari Islam, ujar Ismail.

“Banyak masyarakat  AS  tidak melihat Islam sebagai ancaman dan bukan agama teroris,”  tegasnya.

Tapi ia juga tidak menolak fakta bahwa media massa yang dikuasai oleh kelompok Yahudi dan Kristen fanatik sempit telah melakukan penyimpangan dan menambah informasi sumir dan bias yang cenderung menyudutkan Islam. 

Media massa yang tunduk pada kebijakan pemerintah AS cenderung memutarbalikkan fakta untuk menumbuhkan kebencian terhadap Islam, ujarnya dan menambah bahwa media massa harus bertanggung jawab atas pemberitaan mereka yang sumir,  satu sisi/pihak (one-sided) dan bias.

“Anehnya berita yang sumir dan bias di media massa AS malah dianggap suatu yang benar oleh beberapa masyarakat di negara lain.  Disinilah terjadi ketimpangan dalam melihat pemberitaan Barat,” tegasnya.

Mengingat konstalasi jaringan pemberitaan dunia yang dikuasai oleh AS, praktis kelompok media massa yang disponsori oleh kaum yahudi dan kristen fanatik sempit ini berhasil merobah pola fikir negara lain untuk ikut dengan misi yang ingin dikembangkan yaitu menciptakan stigma negatif mengenai Islam.

Di sinilah letak perbedaan antara masyarakat dan pemerintahan AS dalam melihat Islam, tegasnya. Apa lagi kalau dikaitkan dengan masyarakat AS dalam melihat kebijakan negaranya terhadap Irak. ( ant )

Comments

Got something to say?

You must be logged in to post a comment.