Tiga Parpol Besar Sudah Punya Strategi, Untuk Pilpers 2009
31 Agustus 2007 | 20:11 WIB
Jakarta ( Berita) : Tiga Partai Politik ( Parpol) yakni Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP) mengakui sampai saat ini belum menentukan nama calon presiden yang akan diajukan pada pemilu presiden ( Pilpers) tahun 2009 mendatang.
Namun demikian, Untuk menghadapi Pilpers 2009 Partai Golkar telah menyiapkan dua opsi, yakni mempertahankan duet Susilo Bambang Yudhoyono- Jusuf Kala ( SBY-JK) atau memajukan calon sendiri, kata Ketua Fraksi Partai Golkar ( FPG ) DPR Priyo Budi Santoso pada diskusi dialektika demokrasi yang juga menghadirkan Wakil Sekjen DPP PDIP Sutradara Ginting, Anggota Dewan Pakar Partai Demokrat Sutan Bathoegana, dan pengamat politik UI Maswardi Rauf, di Persroom gedung Nusantara III DPR Jakarta, Jumat (31/8).
Sementara Sutradara Ginting,mengakui Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri belum menjawab permintaan kadernya untuk menjadi capres 2009. ” Jawabannya kemungkinan diberikan pada ultah PDIP pada 15 Januari 2008 nanti, katanya.
Sedang Partai Demokrat menurut Sutan kemungkinan Partai Demokrat akan mengajukan nama calon presiden pada awal 2008 nanti. ” Yang jelas Partai Demokrat akan bersikap legowo apabila pada pilpres 2009 nanti Partai Golkar menarik dukungannya terhadap SBY. ”Hari ini ditarik, sebentar lagi juga barsahabat,” ujarnya.
Walau masih mmenyembunyikan nama capres yang akan diusung, ketiga parpol itu mengaku sudah memiliki strategi untuk menghadapi pemilu presiden maupun pemilu legislative tahun 2009.
Priyo Budisantoso mengatakan Golkar belum menentukan nama calon presiden untuk pilpres 2009 mendatang, dikarenakan Golkar tidak ingin mengganggu konsentrasi duet SBY-JK.
Dia tidak menepis bahwa Golkar akan membuka pintu bagi calon-calon dari luar partai untuk diajukan sebagai pemimpin bangsa, yang jelas harus sama flatform nya.
Sutan Bathoegana berpendapat jika banyak capres pada pilpres mendatang merupakan tanda-tanda proses demokrasi yang lebih baik . Sutradara Ginting, mengakui Ke depan, PDIP akan membuka kerjasama politik dengan pihak-pihak lain selama untuk kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara.
PDIP akunya, tidak bisa meraih suara penuh dalam Pilpers presiden 2009. Untuk itu PDIP akan berkoalisi dengan partai-partai lain untuk meraih suara 50 persen plus satu.
“PDIP siap kerja sama dengan yang lain. Karena tidak mungkin ada mayoritas,” kata Sutradara. Dia mengingatkan demokrasi di Indonesia saat ini sudah berkembang. Tetapi bila demokrasi tanpa pemerintahan yang efektif akan menjadi bahan olok-olok saja. Sebaliknya, apabila pemerintahan yang efektif tanpa adanya demokrasi akan seperti monster.
Menurutmya presiden akan efekti apabila mendapat dukungan dari legislatif. Karena itu selain memiliki strategi untuk memenangi pilpres, parpol juga harus memiliki strategi bagaimana memenangkan pemilu legislatif.
Sedang Pengamat politik UI Maswardi Rauf mengatakan, sebaiknya pada awal 2008 partai-partai politik sudah memiliki calon presidennya agar masyarakat dapat menilai dan melihat secara langsung apakah calon-calon tersebut layak atau tidak untuk menjadi pemimpin bangsa nantinya.
Untuk itu dia mengharapkan setiap Parpol harus merekrut kadernya sendiri untuk dicalonkan sebagai pemimpin nasional. ” Jika partai mengambil calon dari luar akan mematikan kader partai dan ini mengingkari Parpol,” ujarnya
Maswadi juga mengkritik model sistem konvensi yang digunakan untuk menjaring capres-cawapres. Dipilihnya calon dari luar partai untuk menjadi capres-cawapres atau pun calon kepala daerah, justru memicu terjadinya politik uang. “Pada saat konvensi Golkar, pimpinan partai kok bisa dikalahkan oleh orang luar. Jadi itu tidak benar,” kata Maswadi Rauf (aya)


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.