Penyelesaian Kasus Munir Titik Awal Reformasi BIN
31 Agustus 2007 | 10:48 WIB
Jakarta ( Berita ) : Pengungkapan kasus Munir diharapkan menjadi titik awal bagi reformasi di Badan Intelijen Nasional (BIN), demikian dinyatakan gabungan LSM dalam Simpul Aliansi Nasional untuk Demokratisasi Intelijen (SANDI) dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Kamis [30/08].
“Kasus Munir merupakan satu momentum bagi reformasi institusi intelijen negara, khususnya BIN. Secara khusus, kasus ini menjadi ‘test of BIN history’,” demikian pernyataan SANDI.
Menurut Koordinator Kontras Usman Hamid, reformasi itu dibutuhkan, karena jika BIN tidak mau menyelidiki bukti-bukti baru yang muncul di sidang peninjauan kembali (PK) kasus Munir maka dapat meruntuhkan kewibawaan badan tersebut.
“Jika BIN berhasil mencabut dan menyingkirkan ‘duri dalam daging’ tersebut, maka kredibilitas dan kewibawaan institusi intelijen ini akan terjaga, bahkan semakin menguat,” katanya.
Kasus pembunuhan Munir, menurut Usman menjadi titik awal yang bagus untuk BIN melakukan reformasi karena kejahatan tersebut tidak terlaksana tanpa adanya surat yang dilayangkan ke Presiden Direktur Garuda. “Tanpa surat itu rencana pembunuhan Munir tidak akan terjadi,” katanya.
Usman dalam kesempatan itu juga menekankan pentingnya penyidikan atas nama-nama baru yang muncul di sidang PK Munir seperti Wavi, Petruk dan Asmini. “Jangan sampai nama-nama ini cuma muncul sebagai pelengkap di
persidangan, tapi harus diungkap nama-nama tersebut,” ujarnya. ( ant )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.