Musharraf - Bhutto Ketemu
29 Agustus 2007 | 16:14 WIB
Sejak beberapa waktu lamanya saya perhatikan statement yang diucapkan oleh mantan PM Pakistan Benazir Bhutto yang sudah delapan tahun hidup dalam pengasingan.
Dalam penampilan di televisi tampak benar sikap percaya diri alias ‘pede’ pimpinan partai oposisi ini sangat besar. Saya simpulkan bahwa Benazir senang bekerja keras menyiapkan political comeback, kembali berperan di arena politik
Betul juga perkiraan saya, karena dikuatkan oleh berita kantor berita Inggris Reuter,
Benazir Bhutto yang tanggal 28 Juni berada di
Presiden Musharraf yang merebut kekuasaan dalam suatu kudeta tidak berdarah pada tahun 1999, dan Benazir Bhutto telah diberitakan secara luas sedang bekerja mengenai sebuah aliansi (persekutuan) yang dirancang untuk memperkokoh kedudukan Musharraf yang telah melemah, sembari membiarkan Benazir Bhutto kembali ke tanah airnya dan menjadi Perdana Mentri untuk ketiga kalinya.
Poin pertama yang menonjol ialah keseganan Musharraf untuk berhenti dari tentara yaitu sumber kekuatannya yang paling besar untuk memenuhi tuntutan pihak oposisi mengenai kembalinya kepada pemerintahan sipil.
‘Kami tidak menerima Presiden Musharraf dalam pakaian seragam (tentara),’ ujar Benazir Bhutto. ÒPendirian kami adalah itu dan saya perang teguh pendirian saya,’ tambah Bhutto. Aliansi demikian dengan Benazir Bhutto bisa memperkuat Musharraf dengan memasukkan ke dalam pemerintahan oposisi sekuler, liberal ditengah-tengah keprihatinan meningkat mengenai kebangkitan militansi Islam, sebuah gerak yang akan disambut baik oleh para sekutu Barat pihak
menteri Kereta Api Sheik Rashid Ahmad mengatakan bahwa Musharraf dan Bebazir Bhutto mengadakan suatu pertemuan yang berhasil di
Mushararraf diharapkan akan berusaha dipilih kembali sebagai presiden apabila masa jabatannya berakhir bulan OKtober 2007.
Golongan opisisi mendakwa bahwsa Pemilu tahun 2002 untuk wakil parlemen nasional (pusat) dan wakil parlemen daerah telah dicurangi. Oposisi bersitekan bahwa para anggota legislatif yang telah dipilih dalam pemilihan umum untuk parlemen yang bakal datang pada akhir tahun 2007 seharusnya memilih kepala negara yang berikut. Beberapa komentator mengatakan para anggota legislatif yang baru dipilih mungkin kurang cenderung untuk mendukung Musharraf.
Suatu perjanjian sangat boleh jadi mempersyaratkan Musharraf buat memimpin perubahan-perubahan dalam konstitusi untuk membatalkan larangan terhadap sembarang orang yang menjabat sebagai perdana menteri lebih daripada dua kali, dan membuat pasti bahwa tuduhan-tuduhan korupsi yang telah mengusik Benazir Bhutto bertahun-tahun lamanya menjadi lenyap. Kedua gerak akan mengizinkan Bhutto berusaha dipilih lagi sebagai perdana menteri, demikian menurut Reuter.
Benazir Bhutto yang parpolnya adalah partai paling liberal dari parpol-parpol arus utama di Pakistan mengatakan bahwa dia akan mengadakan suatuÕdealÕ (transaksi) untuk membantu, agar Musharraf dipilih kembali sebagai presiden, jika hal itu menjamin pemilihan jujur untuk parlemen diselenggarakan tepat waktu, demikian menurut koran Inggris; The Sunday Times.
Rupanya sudah berbulan-bulan secara rahasia diadakan pertemuan antara Musharraf dan Bhutto. Menurut Bhutto, Musharraf telah diperlemah oleh keputusan Mahkamah Agung memulihkan kedudukan ketua Mahkamah Agung yang sebelumnya tekah dipecat oleh Musharraf.
Maka bersekutu dengan MUsharraf bisa mengakibatkan Bhutto kehilangan suara dalam Pemilu nanti. ‘Nusharraf telah kehilangan wibawa moralnya. Rating popularitasnya telah merosot dan akan sangat tidak populer, apabila kita menyelamatkannya,’ ujar Bhutto kepada wartawan The Sunday Times.
Akan tetapi beberapa penganalisis percaya bahwa ucapan Bhutto tadi hanya sekadar akting saja. Dan sangat mungkin apabila terjadinya suatu ‘deal’ atau transaksi.
Benazir Bhutto telah mengatakan sebelumnya bahwa kombinasi Musharraf dan Buutto bisa membalikkan suatu kebangkitan arus Islami di Pakistan. Dia bilang kepada koran tadi bahwa dia dapat kembali ke



Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.