Bos Perbudakan RRC
21 Agustus 2007 | 15:51 WIB
DUNIA sekarang kagum melihat perkembangan pesat pembangunan ekonomi dua negara yang berpenduduk di atas 1000 juta jiwa yakni Republik Rakyat Cina (RRC) dan
Di ibukota Baijing bermunculan gedung-gedung baru bertingkat. Begitu juga halnya pada kunjungannya ke
Namun di samping kemakmuran yang kentara di kota-kota besar tampak pula banyaknya rakyat biasa pencari pekerjan yang mengadu nasib meninggalkan daerah pedesaan.
Buah kemajuan pesat ekonomi barulah dinikmati oleh segelintir kecil elite, sedangkan mayoritas rakyat masih hidup dalam kemiskinan. Sebuah berita yang me-nyingkapkan fasilitas masyarakat Cina ialah ditangkapnya seorang bos perbudakan di RRC sebagaimana diberitakan oleh kantor berita Inggeris Reuters pertengahan Juni 2007.
Pers
Hong Tinghan (42) didakwa menahan secara paksa kaum buruh di sebuah pabrik pembuatan batu batu di propinsi sebelah utara Shanxi. Seorang pekerja mati dan polisi membebaskan 31 buruh lain yang tampak kurus dan ketakutan. Mungkin ratusan remaja dan pria dewasa dipaksa atau dipancing untuk bekerja di tempat pembuatan batu bata, di tambang-tambang dan di pengecuran logam di sentaro propinsi Shanxi dan propinsi Hanan.
Ketika Heng ditangkap dipropinsi Hubei, Hen meminta maaf atas perlakuan buruk terhadap kaum buruh, akan tetapi menyangkal bertanggung jawab atas kematian seorang buruh yang sinting. ’Saya rasa soalnya hanya kecil saja. Hanya memukul dan memaki-maki kaum buruh dan tidak memberi upah yang cukup kepada mereka ujar Heng.
Skandal tadi telah menodai janji-janji Partai Komunitas China yang memerintah untuk membangun sebuah ’masyarakat harmonis’ dengan hak-hak yang diperbaiki dan penempatan yang diperbaiki bagi ratusan juta kaum petani miskin. Koran resmi Harian Pemuda China menyebutkan paksaan sebuah ’aib yang sangat mengagetkan’ yang telah menyingkapkan kegagalan para pejabat untuk melaksanakan undang-undanga perburuhan.
’Apabila sebuah undang-undanga secara besar-besaran dirusak pelaksanaannya sehingga menjadi secarik kertas yang tidak berharga, maka adalah perlu meninjau kembali undang-undnag itu mandiri’ tulis koran tadi.
Stasiun televisi negara telah melaporkan bahwa para pemilik tempat-tempat primatif pembuatan batu bata itu telah mengoperasikannya bagaikan tempat penjara-penjara, dengan menggunakan anjing-anjing penjaga serta pemukulan-pemukulan untuk menangkal usaha-usaha pelarian diri dari kaum buruh.
Sebuah razia polisi di propinsi Shanxi dan Hanan sampai sekarang telah memerdekaan 568 orang dari tempat pembuatan batu bata dan tempat pekerjaan lain, termasuk 22 orang di bawah usia 18 tahun di Shanxi.
Wang Bingbing, pemilik pabrik batu bata yang disewa-kan oleh Hen telah ditahan pada akhir bulan Mei 2007.
Berita-berita lokal melaporkan bahwa Heng telah memaksa atau merayu kaum buruh ke tempat pekerjaan tadi sejak bulan Maret 2006, telah memaksa mereka bekerja selama 16 jam sehari dan hidup hanya terutama dengan roti yang dikukus.
Presiden RRC Hu Jintao dan PM Wen Jiabao telah mengeluarkan ’instruksi-instruksi’ mengenai skandal tadi, demikian diberitakan oleh media negara.
Ini bukanlah untuk pertama kali bahwa kebrutalan di industri batu bata di propinsi Shanxi telah menimbulkan keprihatinan kedua pembesar tersebut.
PM Wen menyerukan hukuman yang keras, setelah seorang pemuda remaja dipaksa bekerja di sebuah tempat pembuatan batu bata di Yongji, Shanxi, demikian diberitakan oleh media pada masa itu.
Pada tanggal 16 Juni 2007 polisi di propinsi Shanxi menahan 25 orang. Mereka dicurigai terlibat dalam suatu perdagangan budak, demikian kantor berita Xinhua. Akan tetapi seorang darmawan Henan yang membantu mengung-kapkan bisnis itu menuduh para pejabat telah mencegah para orang tua menemukan anak-anak yang hilang.
’Dalam pemberitaan kami, rintangan terbesar ialah kurangnya ada kerjasama dari beberapa pejabat Shanxi demikian kata Fu Zhenzong reporter televisi kepada Harian Pemuda China. ÒBeberapa dari pejabat itu masih datang dengan sembarang cara untuk mencegah para orang tua membebaskan anak-anak mereka’. Berita tentang pemburuan orang untuk menangkap seorang bos perbudakan di RRC telah menimbulkan heboh secara nasional.



Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.