Dewi Nepal
1 Agustus 2007 | 15:50 WIB
Di Kerajaan Nepal sebelah utara India kebiasaan memilih dan memuja dewi-dewi kecil yaitu gadis berusia sepuluh tahun yang dianggap merupakan titisan (rainkar-nasi) dewi Hindu Kali. Jumlahnya kurang lebih selusin orang. Mereka dipilih pada waktu berumur dua tahun dari sebuah kasta Budahist, kendati kali adalah dewi Hindu.
Para pemimpin agama Budahist Hindu memilih dewi-dewi yang hidup itu, sesudah berkonsultasi dengan horas-kop, lalu mencari seorang gadis yang memenuhi syarat ’32’ kesempurnaan’, mulai dari kulit’ berwarna emas’ hingga tubuh bagaikan ’pohon beringin’.
Para pemeluk agama yang taat percaya bahwa dewi-dewi kecil itu dimasuki dewi Kali, walaupun gadis-gadis tersebut tidak menunjukkan kelakuan yang tak lazim. Tatkala gadis-gadis itu mencapai usia remaja (puberitas), mka dewi Kali meninggalkan raga mereka. Sesudah itu gadis-gadis itu mengundurkan diri dengan mendapat tunjangan ’pensiun’ kecil. Mereka bebas bekerja dan menikah.
Pada semua itu berlaku gagasan mengabdi kepada kemurnian.
Rakyat pergi mengunjungi dewi-dewi kecil untuk menyentuh kaki mereka selagi mereka diangkat dengan tandu di jalanan. Rakyat memberikan kepda mereka uang sebagai sesembahan atau sumbangan.
Mereka mengunjungi dewi kecil itu saat berada di rumah dewi dimana dia duduk di kursi tahta kecil. Rakyat lalu meminta dicarikan pekerjaan yang lebih baik, kesehatan yang lebih baik, suatu tingakt kebahagian. Gadis-gadis itu tidak diharapkan memberikan kearifan dan nasehat kebijaksanaan. Yang diharapkan dari mereka hanyalah pemberian restu (pengestu).
Soalnya bukanlah mengenai ajaran asas atau aturan-aturan. Rakyat berhubungan dengan dewi itu sebagai suatu makhluk ÒlangitanÓ, tapi juga sebagai kanak-kanak.
Rakyat mendoa kepada anak kecil itu, tapi sesudah itu rakyat duduk bersama-sama dengan dewi dan bercakap-cakap tentang hal-hal yang lucu. Ada sesuatu yang sangat menyenangkan mengenai pemujaan terhadap seorang kanak-kanak, sesuatu mengenai siklus kehidupan, menge-nai pembaharuan kembali.
Dewi-dewi cilik itu sangat sibuk pada akhir musim gugur, selama pesta dasain.
Dewi kerajaan di Katmandu (ibukota Nepal) dan dewi yang lain di kokta Patan hidup dalam serta keterasingan yang berbeda-beda tingkatannya. Salah satu di antara dewi-dewi Nepal itu adalah Sajani Shaknya, usia 10 tahun yang belum lama berselang menjunjungi kota Washington.
Sajani tiba di kota itu tanggal 11 Juni 2007 untuk membantu mempromosikan sebuah film dokumentar Inggeris mengenai dewi-dewi yang hidup di Lembah Katmandu dan untuk melihat Washington. Sajani adalah dewi Nepal yang hidup yunag pertama datang ke Amerika Serikat.
Sebab gadis-gadis yang jadi dewi tersebut kebanyakan hidup dalam pengasingan atau khalwat. Neela Bannerjaee dari Washington menulis dalam harian The Intenational Herald Tribune (15-6-2007) bahan Rajani Shakya yang menjadi dewi sebagai titisan dewi Kali mengunjungi sekolah dasar Lafayatta yang terletak sebelah utara dari gedung putih.
Rajani tidak punya rencan untuk meminta kepda seseorang tentang sesuatu apapaun. Didam-pingi oleh seorang juru bahasa dia akan dibawa pada kunjungan istimewa ke Gedung Putih.
Dia berharap mengunjungi kebun binatang, mungkin naik kendaraan roller coaster. Dia mungkin akan mengunjungi sebuah candi Hindu.
Di sekolah dasar lafayattu dia akan mendapat tahu bagaimana kanak-kanak lain hidup dan mungkin memperhatikan kepada murid-murid Amerika itu tentang dunianya di Nepal yang sedikit sekali diketa-hui oleh orang luar.
Tidak ada satu apa pun yang tidka disenangi oleh Sajani dengan menjadi seorang dewi.
Dengan perantaran juru bahasa, dia memparkan kehidupannya sehari-hari. Dia harus bangun pagi untuk keluarganya dan orang-orang lain yang akan berdoa buat dia. Sajani tidak pernah mengalami kesulitan. Apabila hatinya memang gundah gulana, maka hal itu menimbulkan drama dasar, lantaran itu dianggap sebagai sesuatu yang santa sial celaka.
Raja Nepal secara rtradisionil meminta restu dari tiga dewi utama yang tinggal di Katmandu, Batan dan Dektapur, di mana Sajani tinggal. Sajani mempunyai kehidupan yang paling normal.
Di memberikan restu kepada orang-orang yang menjunginya. Di samping itu ia juga bermain dengan teman-temannya. Dia pergi sekolah dimana dia diperlakukan dengan hormat, walaupun tidak dijamin angka-angka bagus dari pembelajaran.
Sajani ditanya oleh seorang murid sekolah dasar di Washington, apakah yag dikerjakannya untuk bersenang-senang diri ? dijawabnya main umpet-umpetan, bermian computer games, menonton film-film Hindi, bermain-main dengna tilpon mainan di kala duduk di kursi takhtanya.
Seorang murid laki-laki bertanya ;Apakah ada dewi pria?;. Dijelaskannya ada, tapi dewa-dewa pria cilik itu tidaklah dipuja seperti halnya dengan dewi-dewi perempuan.
Sajani paham ada hanya menjalani beberapa tahun lagi sebagai dewi, sebelum mengundurkan diri. ’Bila saya tidak lagi dewi, tidak ada orang memperlakukan saya sebagus seperti sekarang’ kata Sajani. Inilah kisah seorang dewi cilik Nepal.



Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.