Unesco: Indonesia Sukses Percepat Pengentasan Buta Aksara
31 Juli 2007 | 16:14 WIB
Beijing ( Berita ) : Direktur Jenderal UNESCO Koichiro Matsuura mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara yang berhasil mempercepat pemberantasan buta aksara di tengah masih besarnya angka buta aksara di sejumlah negara.
“Indonesia, China dan Papua Nugini merupakan negara yang berhasil menjalankan program pengurangan buta aksara, dan menjadi pelopor di kasawan Asia Pacific,” kata Koichiro Matsuura dalam pidatonya pada UNESCO Regional Conferences in Support of Global Literacy, di Beijing, Selasa [31/07].
Di depan sekitar 150 orang delegasi konferensi dari 22 negara di Asia Pasifik, Koichiro berpidato mengenai perlunya menciptakan lingkungan kondusif untuk memberantas buta aksara termasuk mendorong peningkatan dana pendidikan.
Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono pada konferensi tersebut menjadi salah satu peserta yang memberikan pidato selain juga Ibu Negara Mongolia Onon Onon Enkhbayar Tsolmon, dan Ibu Negara Amerika Serikat Laura Bush melalui video konferensi.
Menurut Koichiro, UNESCO memberikan perhatian khusus untuk Indonesia, karena telah menyediakan berbagai program pemberantasan buta aksara sebagai tanggung jawab moral yang harus dilakukan setiap pemerintahan.
“Setiap negara tentunya harus juga meningkatkan kualitas pendidikan, dan mengadopsi cara-cara pembelajaran yang baik untuk mengembangkan lingkungan yang melek huruf, termasuk kerja sama dengan lembaga internasional,” ujar Koichiro.
Sementara itu, Ibu Ani Yudhoyono dalam pidatonya mengatakan pemberantasan buta aksara di Indonesia berlangsung sejak tahun 1945, yang ketika itu tingkat buta aksara mencapai 97 persen dari jumlah penduduk.
“Pada 2006 tingkat buta huruf telah menurun drastis menjadi sekitar 8,07 persen atau sekitar 12,8 juta dari populasi penduduk saat ini,” ujar Ibu Negara. Salah satu pendorong keberhasilan penurunan angka buta aksara, adalah Program Wajib Belajar Sembilan Tahun yang merupakan Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2006, dan juga menjadi “Tahun Mengatasi Buta Aksara” di Tanah Air.
Sementara itu, Mendiknas Bambang Sudibyo usai mengikuti konferensi tersebut menjelaskan, sesungguhnya Indonesia telah melakukan upaya-upaya komprehensif dalam memberantas buta aksara.
Jumlah penyandang buta aksara di Indonesia, diutarakan Bambang, dalam dua setengah tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencatat penurunan signifikan dari 10,20 persen akhir 2004 menjadi hanya 8,07 persen pada 2006, dan diproyeksikan pada 2009 menjadi 5,01 persen.
Terkait pesan UNESCO agar anggaran pendidikan ditingkatkan di tiap-tiap negara, Bambang menjelaskan, Indonesia pada 2008 belum bisa menenuhi alokasi 20 persen dari APBN sesuai dengan amanat Undang-undang, karena alokasi dana subsidi pemerintah masih tinggi.
Meski begitu, ujarnya, anggaran pendidikan pada 2008 yang diproyeksikan mencapai Rp48 triliun, meningkat sekitar tiga kali lipat dibanding tahun 2004 yang hanya mencapai Rp16 triliun. ( ant )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.