Mahasiswa Indonesia Sumbang Pendapatan 500 Juta Dolar Bagi Australia Setiap Tahun
31 Juli 2007 | 12:20 WIB
Canberra ( Berita ) : Indonesia masih mengalami defisit senilai 500 juta dolar Australia setiap tahunnya dari sektor pendidikan dengan Australia karena lebih dari 15.000 dari 16.500 mahasiswa Indonesia yang belajar di negara ini membiayai sendiri studi mereka, kata seorang pejabat KBRI Canberra.
“Karena itu, dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengimbau AusAID untuk menaikkan jumlah beasiswa bagi Indonesia,” kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus Sartono,MBA, saatberbicara dalam pertemuan delegasi Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri di kawasan timur Indonesia dengan pimpinan Universitas Canberra, Senin (30/07).
Agus mengatakan, defisit yang sangat besar itu juga disebabkan oleh terganjalnya para pelajar dan mahasiswa Australia yang ingin belajar di Indonesia oleh pemberlakuan “travel advisory” (imbauan perjalanan) Pemerintah Federal bagi para warganya untuk mengurungkan niatnya bepergian ke Indonesia karena alasan keamanan.
“Travel advisory itu kini merupakan tantangan terbesar bagi program kemitraan antar universitas kedua negara,” katanya.
Menyinggung tentang 5.000 beasiswa dari pemerintah RI bagi para dosen universitas negeri untuk melanjutkan studi di luar negeri untuk program magister dan doktoral pada 2008, Agus mengatakan, Universitas Canberra dan universitas-universitas lain di Australia termasuk di antara perguruan tinggi yang dituju.
Namun, yang perlu segera disiapkan berbagai perguruan tinggi di Tanah Air adalah para dosen muda yang berpotensi serta penyiapan kemampuan Bahasa Inggris yang baik dengan skor IELTS 6,5 sehingga mereka bisa diterima di berbagai universitas di Australia, katanya.
Bagi perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia, selain program studi manajemen perkotaan dan akuntansi, manajemen pelestarian sumber-sumber air juga perlu menjadi pertimbangan mengingat terbukanya ancaman kekeringan di kawasan itu, dan Australia cukup berpengalaman dalam masalah ini, katanya.
Delegasi Konsorsium PTN kawasan timur Indonesia yang bertemu Wakil Rektor Universitas Canberra, Prof.Deborah Ralston dipimpin oleh Prof.Ir.L.W.Sondakh,MEc, PhD.
Selain Prof.Sondakh yang juga rektor Universitas Sam Ratulangi, hadir pula dalam pertemuan tersebut wakil Universitas Negeri Gorontalo, Prof.Dr.H.Mansoer Pateda, Direktur Program Pascasarjana Universitas Tadulako, Prof.Dr.Hj.Sieng Daud Laratu,MS, serta wakil-wakil Universitas Hasanuddin Makassar , Universitas Udayana Denpasar , Universitas Palangkaraya, dan Universitas Cenderawasih, Jayapura.
Undang PTN Australia
Universitas Canberra dan Universitas Sydney termasuk di antara perguruan tinggi Australia yang diundang untuk mengirimkan pakarnya dalam Konferensi Kelautan Dunia (WOC) yang direncanakan berlangsung di Manado, Sulawesi Utara, 17 Mei 2009.
Anggota tim sosialisasi nasional WOC 2009 yang juga Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado, ProfesorA.B.G Ratu kepada ANTARA di Canberra, Selasa, mengatakan, undangan bagi universitas-universitas di Australia itu akan langsung disampaikan selama tiga hari kunjungannya di negara ini.
Ia mengatakan, kehadiran para wakil dari universitas-universitas di Australia bersama para anggota delegasi lainnya dalam konferensi yang akan dihadiri delegasi dari 40 negara itu akan membantu perumusansolusi atas beragam masalah kelautan global.
Menurut Rattu yang berada di Canberra sebagai bagian dari anggota delegasi Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri kawasan timur Indonesia untuk menjajaki kerja sama dengan universitas di Australia itu, beragam permasalahan kelautan global yang mengancam kehidupan saat ini akan dibahas.
Beberapa isu penting yang akan dibahas dalam konferensi yang penyelenggaraannya mendapat dukungan penuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta melibatkan para gubernur dari seluruh provinsi di Indonesia itu adalah polusi maritim yang mengancam masyarakat pantai, tsunami, mencairnya gunung es akibat pemanasan global, dan menurunnya sumberdaya kelautan.
Konferensi ini, kata Rattu, diharapkan menghasilkan Deklarasi Manado yang akan menjadi “poin awal” bagi percepatan pembangunan bidang kelautan dunia. (ant)


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.