Jangan Salahkan Media
31 Juli 2007 | 12:18 WIB
Berita-berita yang dimuat di media massa seputar isu pribadi Presiden SBY di masa muda sumbernya tentu saja dari Zaenal Ma’arif. Lantas, media memberitakannya, apakah media patut disalahkan?
Memang seharusnya media memberitakan masalah pribadi orang dengan hati-hati. Kalau benar dan menyangkut kepentingan publik media boleh-boleh saja memberitakannya, tetapi kalau tidak benar maka media haruslah bertindak arif untuk tidak memberitakannya.
Nah, kalau ingin membuktikannya memerlukan waktu panjang, apakah media menunggu proses hukumnya misalnya sampai dua tahun? Tentu saja tidak. Media boleh memberitakannya tentu dengan melakukan tahapan yang benar, di antaranya langsung ke lapangan dan melakukan konformasi kepada pihak yang terkait.
Justru itu, dalam kaitan berita yang bersumber dari Zaenal Ma’arif media sudah benar mengonfirmasikan kepada juru bicara Presiden. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menggugat media massa walaupun beritanya kelak tidak terbukti di mata hukum. Kalaupun akhirnya Zaenal harus dihukum oleh pengadilan.
Zaenal menyebutkan dia punya bukti bahwa SBY sudah menikah di masa muda, sebelum memasuki AMN (Akabri) maka itu informasi bernilai berita sehingga banyak media pun memberitakannya. Apalagi dalam berita itu ada kata-kata: ’’diduga’’ dan ’’disebut-sebut’’ sehingga tidak ada vonis bahwa SBY benar melakukannya. Lagi pula juru bicara Presiden Andi Malarangeng sudah dikonfirmasi dan membantah berita tersebut tidak benar. Berita tersebut menjadi pegangan bagi publik yang semula ragu-ragu.
Kalau SBY juga mengadukan pers hal itu merupakan hak dia. Sudah ada mekanismenya. Sebab, semua orang dapat menggunakan hak jawab jika diberitakan salah, dan semua orang juga dapat menggunakan hak koreksinya jika mengetahui sebuah media memberitakan informasi salah. Semua itu diatur dalam Undang-Undang Pers No 40 tahun 1999 serta kode etik wartawan.
Walaupun tuntutan hukumannya di bawah satu tahun jika Zaenal Ma’arif dinyatakan bersalah memfitnah dan mencemarkan nama baik, namun ke depan manfaatnya akan baik buat para pemimpin kita jika kasus ini tuntas. Menjadi pemimpin, apalagi Presiden, jangan cepat emosi, mudah dipancing dan terpancing. Apalagi, masih banyak kasus menyangkut rakyat miskin belum dapat teratasi. Yang menyangkut kepentingan rakyat semestinya diprioritaskan.
Kita harapkan kasus pribadi Presiden SBY kali ini tuntas di pengadilan dan tidak mengalihkan masalah rakyat. Jangan seperti kasus sebelumnya, seperti Amien Vs SBY, eh.. tiba-tiba selesai begitu saja. Keduanya bertemu di Bandara. Padahal, masalahnya menyangkut kepentingan hukum. Publik mengharapkan kasus selesai di depan hukum sehingga tahu siapa yang benar di antara keduanya.
Sebelum kasus pribadi Presiden SBY mencuat, kepala negara kita terdahulu juga tidak luput dari berita miring dan dimuat di sejumlah media massa.
Kasusnya pun hanya menjadi isu konsumsi media, tidak pernah jelas apakah benar atau tidak. Seperti kasus yang pernah menimpa Presiden Soekarno menyangkut pernikahannya, menyangkut isu Soeharto yang pernah diberitakan anak haram, Gus Dur yang terkait dengan fotonya dengan seorang wanita lagi pakai celana pendek, maupun Megawati dengan perkawinannya terdahulu. Semuanya tidak jelas juntrungannya. Pers kesulitan menembusnya karena dihalangi secara berlapis dan publik pun tidak mendapatkan haknya. Oleh karena itu, jangan salahkan media!=


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.