Aung San Suu Kyi
17 Juli 2007 | 15:38 WIB
BEBERAPA tahun yang lalu sering saya lihat di tayangan televisi luar negeri munculnya Aung San Suu Kyi berdiri di pagar rumah kediamannya di Rangoon untuk bertemu muka dengan rakyat pengikutnya yang berkumpul di jalan depannya. Belakangan ini gambar demikian amat jarang sekali. Suu Kyi menjadi perempuan yang dilupakan orang.
Saya tak pernah membayangkan bagaimana keadaan fisik yang dialami oleh Suu Kyi di rumahnya yang oleh junta militer Myanmar (dulu Birma) dijadikan sebagai rumah tahanan bagi Suu Kyi. Sampai satu hari saya baca dalam koran Internationl Herald Tirbune (2-3 Juni 2007) tulisan dua pengacara Jared Genser dan Meghan Barron yang bekerja pada LSM Freedom New di Washington dan yang mewakili Suu Kyi untuk komunitas internasional.
Mereka menulis bahwa seorang wanita berusia 61 tahun duduk seorang diri dalam rumahnya sebagaimana dilakukannya sudah bertahun-tahun lamanya Tilpon sudah bisu buat selama-lamanya, lantaran kawatnya diputuskan. Lonceng pintu tidak pernah berbunyi, lantaran tamu-tamu dilarang datang. Tidak ada surat pos, tidak ada carta berita. Bagi Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar yang telah terpilih secara demokratis dan pemenang Hadiah Nobel untuk Perdamaian nyaris terdapat isolasi atau pengasingan komplit.
Selama lebih 11 dari 17 tahun terakhir, kediktatoran militer yang memerintah Birma melaksanakan tahanan rumah bagi Suu Kyi. Para jenderal mulanya bilang pengasingan itu untuk perlindungan Suu Kyi sendiri.
Kini mereka menegaskan penganut Budha yang pendamai dan pengabdi ini ’merupakan ancaman bagi perdamaian nasional dan ketenangan’. Ketika suami Suu Kyi yang sudah sekarat hendak mati memohon izin untuk mengunjungi Birma melihat isterinya penghabisan kali, maka permohonan itu ditolak oleh junta militer.
’Silahkan menggunakan kebebasan anda untuk mempromosikan kebebasan kami’ ujar Suu Kyi. Komunitas internasional telah memberikan sahutan dengan isyarat-isyarat goodwill atau muhibbah, dikokohkan kembali dalam pendapat keempat kelompok kerja PBB mengenai penahan sewenang-wenang bahwa Suu Kyi telah ditahan dengan melanggar hukum internasional.
Tapi sebegitu jauh, segala-galanya sudah gagal menghasilkan resultat.
Sebagimana dilakukannya tiap tahun sejak 2003 pemimpin junta yang memerintah Jenderal Than Shwe kembali memperpanjang hukuman Suu Kyi dengan masa satu tahun tambahan. Lebih banyak yang dipertaruhkan ketimbang nasib seorang wanita yang oleh rakyatnya dipanggil sebagai ’Bunda’, seraya Suu Kyi melewati hari demi hari dalam rumahnya, junta militer telah merusak negerinya dan menindas rakyatnya.
Lebih dari 3000 desa telah dihancurkan sejak tahun 1996 ketika rezim militer melakukan kampanye pembunuhan, penyiksaan dan pemerkosaan terdapat golongan etnik minoritas.
Satu juta pengungsi lari dari Birma. 600.000 orang yang jadi pelarian di dalam negeri berjuang untuk bertahan hidup di hutan-hutan. Lebih dari 800.000 orang digunakan sebagai buruh paksa dan Birma punya 70.000 serdadu kanak-kanak. Kemerosotan Birma merembes ke negeri-negeri jiran, mengancam keamanan regional. Birma dewasa ini eksportir nomor dua terbesar di dunia dari heroin dan candu (opium) dan produsen besar dari methamphetamines.
Kegagalan junta mengurusi krisis HIV/AIDS telah membawa kepada tersebarnya penyakit itu sepanjang rute drug ke arah negeri-negeri tetangga. Langkah internasional ialah menyelamatkan Suu Kyi yang parpolnya Lig Nasional untuk Demokrasi meraih kemenangan lebih dari 80 persen kursi parlemen dalam pemilu tahun 1990. Majelis Umum PBB dan Komisi HAM telah mensahkan 29 resolusi berturut-turut mengenai Myanmar, menghimbau untuk membebaskan Suu Kyi. Sekjen PBB dulu Kofi Annan dan sekarang Ban Ki Moon serta Uni Eropa telah mendesak pembebasan Suu Kyi. Bahkan ASEAN yang sebelum itu segan menekan salah satu anggotanya sudah menyerukan pembebasan Suu Kyi.
Pada awal Juni 2007 mantan PM Kjell Magne Bondevik dari Norwegia dan 58 mantan presiden dan perdana menteri lainnya, termasuk tokoh-tokoh terkemuka seperti Bill Clinton, Geogre H.W Bush, Jimmy Carter, Vaclav Haval, Lech Walesa, Kiam Dae Jung, Corazon Aquino, Megawati Soekarnoputri, dan Margaret Thatcher menyerukan dibebaskannya Suu Kyi.
Perempuan berani ini masih mencemaskan bagi junta militer Birma. Seruan internasional untuk pembebasan Suu Kyi dianggap sapi oleh junta. Taruhan terlalu tinggi bagi komunitas internasional untuk menjadi lunak.
’Perjuangan untuk demokrasi dan HAM di Birma adalah perjuangan untuk kehidupan dan kemartabatan. Ia adalah perjuangan yang cukup aspirasi-aspirasi politik, sosial dan ekonomi’, kata Suu Kyi.
Kendati komunitas internasional sebegitu jauh telah gagal di Birma kita harus bersikukuh. Ketidakadilan dari penahanan ’Bunda’ terus menerus dan penderitaan rakyatnya merupakan suatu noda pada hari nurani kolektif kita.



Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.