PLN Memang Jago, Tidak Mau Tau Suara Orang Lain : Harian Berita Sore

PLN Memang Jago, Tidak Mau Tau Suara Orang Lain

6 Juli 2007 | 16:44 WIB

PT PLN Sumut boleh dikatakan sungguh jago. Pengelolanya tidak mau tau terhadap suara masyarakat yang menjerit karena pemadaman arus listrik ke rumah penduduk, perusahaan dan lain sebagainya. Pengelola arus listrik itu,tetap menjalankan tugas dan tata cara kerja mereka, yakni memadamkan arus listrik sesuai dengan kemauan mereka.

Memang begitulah kemampuan manajemen PT PLN di Sumut dan Pusat. Menteri BUMN pun tidak pula mau bicara dan mengatasi krisis listrik di Sumut/Medan khususnya.

Satu masalah, berbulan dan bertahun, jika tidak selesai, berarti tidak ada keinginan untuk menyelesaikan masalah itu. Ingat pemberontakan PRRI/Permesta dan OSM yang menyebar di seluruh Indonesia, dapat diselesaikan lebih cepat.

Satu sebab karena ada keinginan yang baik  dari pemerintah untuk menyelesaikannya. GAM di Aceh, lambat karena tidak ada kesungguhan untuk menyelesaikannya. Demikian juga persoalan Poso dan Papua. Kata orang tua, banyak cara atau jalan yang dapat ditempuh,. jika ada keinginan yang baik.

Tapi seribu alasan dapat dicari jika keinginan tidak ada. Kata orang pasaran, ada yang beruntung dalam kekacauan, namun lebih banyak yang rugi karena kekacauan itu.

Mengatasi krisis listrik di Indonesia terlebih di Sumut, sudah cukup lama. Ini pertanda tidak ada keinginan untuk baik. Mengapa? Tentu pimpinan PT PLN di pusat maupun di Medan, yang dapat menjawabnya dengan jelas. Yang sering dikumandangkan adalah akibat krisis listrik/pemadaman ini pihak PLN mengalami kerugian. Dari mana jalannya?  Untuk menggaji pegawai? Tapi kalau katanya tidak banyak lagi untung, boleh-boleh saja.

Di banyak perusahaan yang diambil alih dari perusahaan asing,  manajemennya tidak begitu jelas. Apalagi keuntungannya tidak diumumkan dan kemana uang itu distor. Yang muncul adalah pengumuman kerugian dan akhirnya ditutup.  Kata mereka banyak pejabat yang harus diladeni.

Meladeni pejabat merupakan kebanggaan di Indonesia. Pejabat pun tidak merasa malu menerima ladenan ini dengan menerima amplop seperti yang terjadi dari DKP. Setelah dibuka pejabat yang sempat bangga menerima amplop itu jadi kaget.  Semua perusahaan dan jabatan melakukan hal demikian, hanya tidak terungkap. Sudah merupakan  kejahatan  terselubung.

Dari banyak keuntungan yang selama ini diperoleh PT PLN apakah tidak dipersiapkan untuk membeli mesin baru? Atau dana perawatan tidak disisihkan  dari keuntungan? Atau diatur pembukuan tidak banyak untung. Jika perlu dibuat rugi sesekali dengan alasan banyak pencurian arus. Sebab pencurian arus, tidak bayar rekening, selalu jadi masalah di PLN. Pencuri jadi kambing hitam, padahal penjahat orang dalam yang bermain.

Saya selaku rakyat meminta kepada Menteri BUMN dan terlebih  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  supaya ikut serta menanggulangi krisis listrik di Sumut/kususnya Medan.  Penduduk Medan sudah balik memakai penerangan pakai teplok. Jangan di lihat orang kaya yang mampu beli gencet. Apalagi pejabat tetap terang karena ada genset besar yang mampu menggantikan arus dari PLN.  Direktur PLN Pusat dan Sumut harus dicopot dan digantikan dengan orang mampu dan jujur. Lempar tomat,suara berteriak dan demo sejuta orang pun mereka tidak peduli. Jika perlu panggil saja polisi dan keamanan lain.

Di negara maju dan berpikir maju, dilempari tomat, sudah malu dan rela mundur dari jabatannya. Di Indonesia, sudah jelas sesuai dengan pemeriksaan pihak yang berwenang dia penjahat keuangan negara, masih mampu mempertahankan jabatannya. Moralitas sudah benar-benar luntur disebagian warga negara terlebih yang berpendidikan dan berjabatan tinggi. Bukti nyata boleh dilihat. [ Marihot Siagian di Glugur Medan ]

Comments

Got something to say?

You must be logged in to post a comment.