Tebang Haram Di Kamboja
4 Juli 2007 | 15:22 WIB
ILLEGAL logging atau tebang pohon kayu secara haram alias tidak sah sudah merupakan menu hidangan media di negeri kita. Diberitakan bagaimana terjadi tebang haram di berbagai daerah, bagaimana pejabat-pejabat sipil dan militer jadi pelaku, bagaimana perkara yang tertangkap basah disidangkan di pengadilan negeri, bagaimana koruptor yang divonis lalu masuk penjara, bagaimana selanjutnya hidup berjalan terus seperti biasa, bagaimana tebang haram dikerjakan lagi, suatu cerita sedih tiada habis-habisnya.
Saya yang tidak berdaya apa-apa, karena bukan eksekutif, bukan anggota DPR dan DPRD atau DPD, bukan taipan bandar judi yang mensuplai dana untuk orang-orang yang harus disuap, tinggal membaca saja dalam media berita tentang illegal logging di Indonesia. Saya pun menghibur diri sendiri dengan membaca berita tentang luar negeri. Kantor berita Associated Press (AP) awal Juni 2007 menyiarkan tentang adanya tebang haram di Kamboja dan bahwa sanak keluarga PM Hun Sen termasuk oknum-oknum yang tertuduh. ‘Terhibur’ antara tanda kutip, lantaran kita di Indonesia bukan sendirian, melainkan orang di luar negeri juga kerjanya membabat hutannya, menebang secara haram, dengan tujuan memperkaya diri sendiri.
Tanggal 1 Juni 2007 direktur sebuah NGO (LSM) Global White bernama Simon Taylor mengatakan ‘Para pejabat pemerintah senior dan pengusaha bisnis di Kamboja ‘, termasuk keluarga PM Hun Sen, secara tidak sah menebang beberapa dari hutan yang pernah besar dan terakhir adanya.
Penebangan illegal merupakan bagian dari perampasan asset secara besar-besaran untuk keuntungan suatu elite kecil kleptokrasi (puncuri). Hutan-hutan Kamboja telah dirampok selama dasawarsa belakangan ini oleh mafia ini dengan sedikit sekali atau tidak ada sama sekali dari keuntungan mengalir kepada rakyat biasa . NGO yang berpangkalan di London itu mengeluarkan laporan setebal 95 halaman.
Taylor mengatakan penghancuran hutan telah membuat miskin penduduk pedesaan Kamboja yang sudah susah kehidupan dengan merampas dari mereka produk-produk hutan, termasuk pangan dan obat-obatan, maupun sumber air yang vital.
Dua orang yang disebutkan dalam laporan NGO tadi menyangkal semua perbuatan yang salah. Kelompok Konsultative mengenai Kambajo yang memberikan bantuan dan terdiri dari Australia, Uni Eropa, Jepang, AS dan Bank Dunia selama tahun-tahun belakangan mengutarakan kepribadian mengenai praktek-praktek Kamboja dalam soal kehutanan.
Tapi LSM Global White mengatakan kelompok konsultatif tadi tidak menerapkan cukup tekanan terhadap pemerintah untuk memulai perubahan perubahan. Taylor bilang harapan paling baik bagi hutan-hutan Kamboja yang masih tersisa ialah apabila donor-donor internasional membikin putusan keras dan bicara dengan satu suara.
Brigade 70, pasukan cadangan bagi kesatuan pengawal pribadi PM Hun Sen adalah juga jawatan pengangkutan kayu negeri dan penyelundupan, demikian menurut Global Witness yang telah memantau hutan-hutan Kamboja selama 12 tahun belakangan ini dan telah diusir dari Kamboja tahun 2005.
Laporan NGO Global Witness menyatakan bahwa sindikat atau perusahaan paling berkuasa dikepalai oleh Dy Chouch, saudara sepupu PM Hun Sen.
Dy bersama bekas isterinya Seng Keang dan suadara laki-lakinya Seng Kok Keang menjalankan sebuah perusahaan yang secara tidak sah mengambil kayu dari daerah Prey Long di bawah kedok suatu program pembangunan onderneming karet.
Prey Long tertelak di propinsi tengah Kampong Thom adalah tanah datar paling besar yang masih tinggal yang senantiasa hijau di daratan Asia Tenggara dan mengandung kehidupan liar hewan yang terancam bahaya, termasuk gajah, harimau dan beruang hitam Asia.
Tanah itu dianugerahkan kepada Seng Kuang Co oleh Menteri Pertanian Chan Sarun, ipar mitra sebuah perusahaan yang berkeluarga dengan Ty Sokun, Dirjen Administrasi Kehutanan dan seorang penasehat dari Hun Sen. Ty Sokun menyebut personil staf LSM Global Witness’ gila, tak profesional’ dengan tiada pengetahuan mengenai kehutanan dan mengatakan laporan mereka adalah keliru. Dia bilang Kamboja telah meningkatkan tutup hutannya dalam tahun-tahun terakhir.
Akan tetapi Organisasi Pangan dan Pertanian PBB memperkirakan bahwa Kamboja telah kehilangan 29 persen dari hutan-hutan tropis primernya dari tahun 2000 hingga 2005, dan kebanyakan pakar luar negeri menyatakan bahwa kerugian berlanjut dengan peningkat yang mencemaskan.
Seng Kok Seang berkata bahwa perusahaannya mempunyai izin sah untuk menebang dan mengangkut kayu keluar dari daerah Prey Long dan mengatakan bahwa tuduhan-tuduhan terhadap dirinya tidak bisa diterimanya.



Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.