Festival Film Cannes
12 Juni 2007 | 15:30 WIB
PADA Festival Film Cannes ke-60 tanggal 16-27 Mei 2007
Di antara film-film Indonesia yang dibawa ke Cannes untuk dijajakan kepada para pembeli dari manca negara terdapat ‘Nagabonar Jadi 2’ yang dibintangi oleh Dedi Mazwar dan merupakan box office di Indonesia, ‘Hantu Jeruk Purut’ yang juga berhasil menarik banyak penonton, yang saya lihat sendiri waktu diputar di Negaria, tapi saya tinggalkan setelah menonton 15 menit, ‘Heart’ produksi perusahaan Parwez ketua umum PPFI yang saya lihat dan nilai cukup bagus, ‘Mendadak Dangdut’ selanjutnya produksi PT Rapi Film ‘Pertarungan’ dan ‘Tiada Titik Balik’ dan sebagainya.
Menurut berita pers, delegasi yang dibawa oleh Menteri Jero Wacik ke
Sebenarnya bukan buat pertama kali Indonesia punya stan di Film Market Festival Cannes. Pada tahun 1981 Dewan Film Nasional membentuk Pokjatap Prosar (kelompok kerja tetap untuk promosi dsan pemasaran film) yang ketuanya Drs Baginda Siregar dan wakil ketua Rosihan Anwar. Pokjatap membuka stan di Cannes. Sebelum itu di Festival Film Berlin Pokjatap Prosar juga membikin stan untuk memasarkan film Indonesia. Ketika itu Raam Punjabi dan Gope Samtani menjadi ‘salesmen’ dan mereka menjual beberapa film Indonesia ke berbagai negeri. Yang kebanyakan laku film laga (action). Raam dan Gope bersama Harris tiap tahun pergi ke Pasar Film Festival Cannes. Tahun ini pun mereka ikut serta dalam delegasi ke Cannes.
Saya tidak ingin mengatakan semua itu sudah saya alami sendiri sehingga tidak ada lagi sesuatu yang baru dari Festival Cannes. Ada bagian kopetisi komplit dengan juri internasional, ada pula bagian Pasar dengan puluhan stand dari berbagai negeri yang sibuk berpromosi dan memasarkan film yang mereka bawa.
Pada tahun 1999 terbit buku saya ‘Reportase Wartawan Film Meliputi Festival Film Indonesia Internasional’. Buku tebal 280 halaman yang diterbitkan oleh Pustaka Antara Utama (dari kantorberita ‘Antara) tidak begitu mendapat perhatian kalangan publik. Saya berikan informasi di situ bahwa di Cannes Pokjatap Prosar tidak memaki anggaran biaya yang cukup banyak, pasti tidak sebesar yang dikeluarkan oleh delegasi film Australia.
Cuma mengeluarkan uang untuk membayar tiket pesawat terbang anggotanya (tiga orang), memberikan lump sum untuk bayar hotel dan makan dan menyediakan sejumlah uang pas untuk membayar sewa kios atau stan di dalam gedung Palais des Festivals dan jasa teknikus operator Perancis.
Selanjutnya saya informasikan bahwa film Jaka Sembung (produksi Rapi Film) yang paling laris terjual di Cannes, mengalami transaksi dengan negara pembeli West Indies, Pakistan, Belgia, Jerman Barat, Mexico, Belanda, Perancis, Spanyol atas peredaran dunia dengan nilai US $ 67.000 seluruhnya. Film Membakar Matahari mengalami enam transaksi, Cewek Jagoan tujuh transaksi. Selama di Cannes dapat dilangsungkan seluruhnya 29 transaksi dari sembilan film Indonesia, semuanya dari jensi film laga (action) dengan penghasilan total US $ 141.000. Demikian keadaan pada tahun 1982.
Bagaimana hasil penjualan film Indonesia di Cannes tahun ini saya belum tahu saat menulis kolom ini. Raja sinetron Raam Punjabi kabarnya telah berhasil menembus tembok industri film India dengan film ‘Kuntilanak’. Film tersebut telah diputar di Filipina. Bagi Raam, inilah saatnya produksi film Indonesia dipasarkan ke luarnegeri.
Rudy Sunyoto Wakil Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2PN) yang ikut ke Cannes berbicara bahwa di Festival itu kita bisa mengetahui apa tren (kecenderungan) filmdunia saat ini. Misalnya, saat ini banyak diproduksi film honor dan dipasarkan di Cannes. Itulah tren dunia. Warga dunia ini sedang senang-senangnya ditakut-takuti, ujar Rudy.
Membaca keterangan ini, maka tidaklah mengherankan, bilamana para sineas Indonesia latah dan ikut-ikutan membikin film honor, mistik, hantu, jelangkung, lantaran film jenis itu punya daya tarik terhadap penonton.
Tapi di Bagian Kompetisi Festival Cannes tahun ini film-film yang disukai oleh para pengritik adalah dari jenis cerita serius, penuh bermuatan tema. Film yang mengkaji soal aborsi (pengguguran janin), pelacuran, seks, darah kental, kekerasan tampak dominan.***


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.