Perlu Revolusi Gaya Hidup Untuk Kurangi Pemanasan Global
Surabaya ( Berita ) : Masyarakat perlu melakukan revolusi gaya hidup yang telah dilakukan selama ini, untuk mengurangi pemanasan global yang beberapa tahun terakhir cenderung meningkat.
Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur, Ridho Syaiful Ashadi kepada wartawan di Surabaya, Selasa (5/06), terkait peringatan Hari Lingkungan Hidup se dunia.
“Yang diperlukan saat ini adalah revolusi gaya hidup, sehingga akan mengurangi penggunaan energi baik listrik, bahan bakar dan air yang memang menjadi sumber utama kehidupan dan kondisinya makin berkurang,” katanya.
Menurut Syaiful, pemanasan global telah menjadi sorotan utama masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi atau gaya hidup konsumtif.
“Tidak banyak memang yang memahami dan ‘concern’ pada isu perubahan iklim, karena banyak yang bilang kalau dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif,” katanya.
“Sebagian kalangan, terutama pembuat kebijakan masih sering beranggapan masalah lingkungan tidak terlalu penting untuk dibicarakan,” tambah Syaiful.
Ia menambahkan pemicu utama perubahan iklim akibat pemanasan global, adalah meningkatnya emisi karbon akibat penggunaan energi fosil, seperti BBM, batubara dan sejenisnya yang tidak dapat diperbarui.
Tidak hanya negara-negara maju, karena negara berkembang seperti Indonesia juga turut menyumbang terjadinya perubahan iklim tersebut. Apalagi, kerusakan hutan di Indonesia sudah sedemikian parahnya.
“Dampak yang dirasakan saat ini diantaranya makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar di seluruh dunia, termasuk Indonesia,” imbuh Syaiful.
Beberapa kawasan atau daerah di Indonesia yang dulunya dikenal dingin dan sejuk, seperti Bogor, Ruteng Nusa Tenggara, Kota Batu atau Prigen Pasuruan, beberapa tahun terakhir sudah mulai terasa panas.
Meningkatnya suhu udara itu, lanjut Syaiful, berdampak makin banyaknya wabah penyakit endemik, seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, dan malaria.
“Padahal, penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani. Tapi kini justru telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi bahkan meninggal,” jelasnya.
Selain perlunya revolusi gaya hidup dengan mengurangi ketergantungan pada energi dan beralih pada energi alternatif, Syaiful juga mengingatkan kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang berorientasi pada pengurangan pemanasan global.
Kebijakan dimaksud misalnya menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia dan menghentikan secara bertahap pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan dan Sulawesi.
“Tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Kita hidup dalam ekosistem dunia ‘perahu’ yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, maka seluruh isi perahu dan penumpangnya juga terancam,” tegas Syaiful. (ant)