Memerangi Iran?
5 Juni 2007 | 15:06 WIB
SAYA lihat di tayangan televisi BBC dan CNN tanggal 1 April 2007 betapa soal
Pemerintah Inggeris berusaha melalui jalan diplomatik untuk mengembalikan ke 15 marinir yang ditawan oleh Iran itu dengan selamat. Tidak ada diperlihatkan sikap mengancam dari pihak PM Tony Blair. Iran sebaliknya bersikap keras dan menuntut, agar Inggeris mengakui kesalahannya dan meminta maaf, barulah ke 15 marinir itu dibebaskan.
Apakah sikap itu ada kaitannya dengan resolusi di Dewan Keamanan PBB yang menjatuhkan sanksi terhadap Iran, karena Iran tidak mau memenuhi permintaan meng-hentikan pengkayaan nuklir yang sedang dilakukannya?
Sebagaimana dimaklumi resolusi Dewan Keamanan yang didukung oleh Indonesia yang baru saja jadi anggota tidak tetapDewan Keamann telah menimbulkan kritik di dalam negeri ditujukan ke alamat Presiden SBY. Kenapa Indonesia ikut memberikan suara pro resolusi yang menghukum Iran itu ?
Sebuah aspek yang dipersoalkan dalam kajian televisi Barat ialah sikap apakah yang mesti diambil terhadap Iran, jika Iran terus membangkang ? Perlukah diambil tindakan militer terhadap Iran dengan membom instalasi tempat dia membuat nuklir ? Mengenai ini terdapat perbe-daan pendapat di dunia Barat. Satu pendapat bilang, jika Amerika Serikat dengan kekuatan militernya beserta negara-negara koalisinya menempuh jalan militer terhadap Iran, itu tidaklah sulit. Mereka mampu melaksanakannya. Tapi sesudah itu benarkah masalah Iran seratus persen selesai ?
Ini diragukan mengingat pengalaman Amerika di Irak, Afghanistan yang setelah mengalahkan Saddam Hussein dan Sayid Omar masih terus bergolak sebagaimana terbukti pada pemboman bunuh diri hampir saban hari di Irak dan mulai bergeraknya Taliban merebut kembali kekuasaan di Afghanistan. Pendapat lain menganjurkan, supaya bersikap hati-hati terhadap Iran yang kini lagi naik daunnya. Sukses Hisbullah di Libanon yang didukung oleh Iran dalam menahan serangan tentara Israel di Libanon musim panas yang lalu dan memaksa Israel mundur menambah GR alias gede rasa pada Iran.
Mantan Dubes AS di PBB John Bolton yang terkenal karena lidahnya yang tajam mengatakan di CNN bahwa suatu perubahan rezim di Iran diperlukan. Tapi gampang-kah begitu saja melaksanakan perubahan Rezim di Iran?
Saya membaca sebuah tulisan oleh Stephen Kinzer dalam koran The Boston Globe. Kinzer pengarang buku “Overthrow : America’s Century or Regime Change from Hawaii to Iraq†mengingatkan berbahayanya memerangi Iran. Kita mesti belajar dari sejarah, katanya. Kaum nasionalis berada dalam kekuasaan di Iran dan mereka menantang secara langsung di Barat. Beberapa kalangan di Washington ingin agar AS menurunkan mereka dengan paksaan. Haruskah begitu ? Pemerintah Presiden Bush bukanlah yang pertama yang mempertimbangkan pertanyaan tadi. Presiden Eieenhower yang memutuskan melakukan intervensi di Iran lebih dari setengah abad yang lalu terbukti keliru dalam padangannya.
Suatu serangan militer terhadap Iran sekarang mung-kin akan punya akibat yang sama dengn intervansi dinas intel CIA di Iran tahun 1953.
Pada awal 1950an PM Iran Mohammad Mossadegh mengarahkan tindakan menasionalisir industri minyak Iran. Para pemimpin Amerika dan Inggeris menganggap ini suatu perbuatan yang tidak bisa dimaafkan, lalu menggulingkan Mossadegh. Akan tetapi dari perspektif sejarah, kudeta terhadap Mossadegh tadi tidaklah tampak sebagai suatu sukses. Sebab akibatnya ialah dikembalikannya Shah Reza Pahlavi kembali ke Takhta Burung Merah (Peacock Throne). Selama 25 tahun Shah memerintah Iran dengan cara semakin brutal. Penindasannya menim-bulkan Revolusi Islam pada akhir tahun 1970an. Revolusi Islam itu menaikkan ke dalam kekuasaan Imam Khomeiny beserta sekelompok mullah yang fanatik anti Amerika.
Amerika dewasa ini sedang menghadapi sebuah krisis dengan Iran mengenai program nuklir Iran. Mungkin krisis ini tidak akan pernah muncul, dan pemerintah kaum mullah ini tidak pernah akan berkuasa, jika tadinya Amerika tidak cmapur tangan dalam urusan Iran tahun 1953. Mungkin alih-alih Iran telah menjadi suatu demokrasi yang maju di jantung Timur Tengah Muslim.
Seruan untuk mengadakan intervensi Amerika yang baru di Iran menganggap seni pelajaran-pelajaran dari intervensi tahun 1953. Menggulingkan secara kekerasan sebuah orde politik dengan harapan bahwa sesuatu yang lebih bagus akan muncul suatu permainan judi yang berbahaya.
Sekiranya Amerika menyerang, maka Iran akan menjadi begitu kacau. Maka dalam lingkungan sekuriti yang telah berubah secara radikal dari dunia modern, berurusan dengan Iran dan negeri-negeri lain yang menantang Barat menghendaki sebuah visi strategis yang baru, demikian Stephen Kinzer.
Berita akhir Mei 2007 mengatakan bahwa telah diadakan pertemuan antara lain Iran dengan Amerika. Setelah 30 tahun mereka bertemu membicarakan situasi di Irak dll. Mudah-mudahan tidak sampilah meletus perang.***


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.