Hamba Seks Pakistan
15 Mei 2007 | 15:54 WIB
HAMBA seks dalam hal ini adalah terjemahan dari bahasa Inggeris ‘ sex slaves’. Kisah yang akan dipaparkan disini terjadi di Pakistan, sebuah negeri yang bersemangat kuat Islam. Kisah ini ditulis oleh kolomnis Nicholas D Kristof dari suratkabar Internasional Herald Tribune (
Syahdan disebutlah tentang Shakira Parveen, gadis
Pada lahirnya Fareed tampak lembut, orang sholeh, tasbih tak lepas dari tangannya, jarijarinya terus menghitung, mulut komatkamit. Parveen tidak kenal baik sama Fareed. Tapi dia dan keluarganya memperoleh kesan baik.
Parveen mengingat ‘Bulan pertama pernikahan adalah oke. Lalu dia bilang, kamu harus mengerjakan apa saja yang kukatakan. Jika aku bilang pada kamu untuk tidur bersama lakilaki lain, kamu mesti melakukannya’.
Ternyata Fareed menjalankan bordil alias rumah pelacuran. Dia menjual narkoba. Ia bermaksud menjadikan Parveen pelacurannya yang paling baru. Parveen berkata ‘ Tidak, aku tak mau tidur dengan lakilaki lain’. Fareed memukulnya dengan tongkat sampai pingsan. Dia patahkan tulangtulangnya dan satu ketika membakar pakaian pakaiannya. Akhirnya, Parveen menyerah dan menurutkan kata suaminya.
Fareed mengunci Parveen dalam satu kamar dan satusatunya manusia yang dilihatnya ialah pelangganpelanggan. ‘Selama dua tahun saya tak pernah meninggalkan rumah ‘ujar Parveen. Kristof menulis, jenis perbudakanbaru ini adalah nasib jutaan gadis dan wanita muda ( dan sejumlah kecil anak lelaki) diseputar dunia, istimewa di
Akhirnya Parveen bisa lolos dan kembali kepada keluarganya, tapi Fareed marah dan mulai menyiksa keluarga Parveen. Dia bilang baru akan berhenti mengganggu, bila Parveen kembali ke bordil sebagai pelacurannya. Kemudian gerombolan geng Fareed menekan Parveen dengan menculik adik lelakinya Uzman yang murid kelas
Tapi ketika Parveen dan orang tuanya pergi melapor ke polisi, mereka hanya ditertawakan oleh anggotaanggota polisi itu. Fareed dan anggotaanggota geng lain bekerja erat sama dengan polisi, kata keluarga Parveen. Malah polisi menangkap ayah Parveen yang kakinya hanya satu akibat kecelakaan kereta api. Itulah salah satu alasan kenapa keluarga itu miskin adanya. Rupanya atas perintah geng, polisi menahan ayah Parveen selama dua minggu dimana dia dipukuli dengan tiada belas kasihan. Polisi juga mencari saudarasaudara Parveen yang semuanya menghindar menyembunyikan diri.
Fareed juga mengecam akan menculik dan melacurkan adik perempuan Parveen bernama Naima yang duduk di kelas tiga SMP dan punya ranking nomor satu dalam sebuah kelas bermurid 40 orang gadis. Karena panik gelagapan orang tuanya mengeluarkan Naima dari sekolah dan mengirimnya jauh ke tempat keluarganya yang lain. Maka citacita Naima untuk menjadi dokter gagal adanya.
Jaringan untuk perdagangan seks dan korupsi polisi adalah lazim di negerinegeri sedang berkembang, tulis Kristof. Masalahnya adalah khas bukan lantaran hukum tidak memadai. Masalahnya disebabkan para pemilik rumah pelacuran membeli polisi dan pengadilan.
Tapi kisah Parveen timbul tidak hanya dari korupsi, tapi juga dari kemiskinan. ‘Jikalau saya punya uang, maka ini tidak bakal terjadi. Semuanya karena uang. Di kantor polisi tiada seorang pun mendengarkan saya. Polisi mendengarkan mereka yang menjual narkotika’ ujar ibu Parveen, Akbari Begum. ‘Tuhan tidak seharusnya mengaruniakan anakanak perempuan kepada golongan miskin. Tuhan seharusnya tidak memberikan adikadik perempuan kepada abangabangnya yang miskin. Lantaran kami miskin, kami tidak mampu berjuang untuk mereka. Sangatlah berat bagi orangorang miskin, karena mereka mengambil anakanak perempuan kami, lalu mencemarkan kehormatan mereka. Kami tidak bisa berbuat apaapa’ ujar Akbari Begum.
Namun disuatu negeri dimana perempuan-perempuan miskin dan gadisgadis dijadikan korban oleh germogermo dan oleh polisi, mereka punya satu juru selamat bernama Mukhtar Mai. Perempuan ini juga bernama Mukhtaran Bibi. Setelah dihukum untuk diperkosa beramairamai oleh sebuah dewan kesukuan atas katanya penghinaan dari saudara lakilakinya, maka Mukhtar menolak bunuh diri dan alihalih menuntut para penyerangnya.
Kemudian dia pergunakan uang ganti kerugian dan sumbangan dari para pembaca koran untuk menyelenggarakan sekolah sekolah dan sebuah organisasi bantuan bagi kaum wanita


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.