India Doyan Anggur : Harian Berita Sore

India Doyan Anggur

2 Mei 2007 | 15:11 WIB

UNTUK pertama kali saya pergi keluar negeri, ketika pada tahun 1949 meliput Konperensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag yang merundingkan soal penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia. Selain saya sebagai pemimpin redaksi Pedoman hadir pula BM Diah dari Merdeka, Adinegoro dari Mimbar Indonesia, Wonohito dari Kedaulatan Rakyat, Mohammad Said dari Waspada. Di berbagai resepsi yang diadakan di Negeri Belanda itu disajikan kepada para tamu minuman alkohol seperti bir, jenever, whiskey. Tampak bahwa yang lebih disukai ialah minuman bir. Memang minum bir itu adalah ciri orang Belanda.

Lain halnya dengan bangsa Inggeris yang kesukaannya ialah minum whiskey. Kebiasaan elite Inggeris di negeri-negeri jajahan mereka dulu tidak lupa minum segelas whiskey di malam hari sehabis pekerjaan.

Doyan whiskey menular pula kepada elite pribumi negeri-negeri jajahan itu. Ketika saya sebagai wartawan pada awal 1950an mengunjungi bekas jajahan Inggeris seperti India, Pakistan, Birma saya amati betapa banyak dari rekanrekan saya paling senang minum whiskey. Gejala yang serupa saya lihat kemudian pada tokohtokoh Melayu di Kuala Lumpur atau Singapura. Demikian pula para wartawan di Manila mengikuti kebiasaan orang Amerika sangat berbahagia bila sudah minum whiskey.

Di negeri-negeri Eropa seperti Perancis, Italia, Jerman minuman yang digemari waktu makan ialah anggur, khususnya anggur merah. Rupanya anggur merah punya khasiat obat, sebab seorang dokter Amerika yang berbicara di televisi menganjurkan kepada orang-orang yang lanjut usia demi memelihara kesehatan untuk selain berolahraga jalan kaki secara teratur juga minum segelas anggur merah sebelum tidur. Saya yang sudah tergolong tua beberapa waktu lamanya mengikuti anjuran dokter tadi.

Kebiasaan itu terpaksa saya hentikan, lantaran tidak punya duit untuk terus menerus membeli sebotol anggur merah yang di Jakarta cukup mahal harganya. Baru kalau pada hari ulangtahun saya orang kasih kado sebotol anggur saya minum lagi segelas anggur merah yang bagus buat peredaran darah, katanya.

Perhatian saya tertarik kepada tulisan Amerika Gentlemen dari New Delhi yang melaporkan bahwa terjadi perubahan dalam kebiasaan minum elite India dewasa ini. Dulu mereka suka Whiskey. Kini beralih gemar minuman anggur. Penjualan anggur di India tumbuh dengan 30 persen setahun kelas menengah yang bertambah jumlahnya dengan majunya perkembangan ekonomi India, istimewa dikalangan generasi muda, berpaling kepada minuman anggur merah. Mereka beranggapan minum anggur lebih sehat daripada minum whiskey campur soda.

Kendati konsumsi anggur di India tahun yang lalu cuma 7,8 juta botol, namun pesatnya minuman itu menjadi populer telah menarik perhatian internasional. Seorang pejabat kedutaan besar Amerika di New Delhi mengatakan bahwa dalam 15 tahun yang akan datang India bakal menjadi salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Nilai ekspor total anggur Amerika ke India sekarang berjumlah satu juta dolar. Itu tidak berarti apaapa mengingat penduduk India berjumlah 1100 juta jiwa.

Tapi Samant dari Sula berkata ”Kaum perempuan juga telah mulai minum anggur. Dan hal itu memperluas pasar. Kita melihat perempuan minum anggur dalam film-film India, dalam majalahmajalah bergambar kita lihat mereka memegang gelas berisi anggur pada pesta taman hal itu adalah mustahil tujuh tahun yang lalu. Begitu banyak telah berubah di sini dalam bentuk pendek tujuh tahun”. Aman Dhall importir anggur terbesar dari India mengatakan bahwa buat kaum lakilaki juga telah terjadi perkisaran radikal dalam budaya.

Sebelumnya India adalah sangat sebuah masyarakat macho alias lelaki jantan dan minum whiskey dianggap gagah. Akan tetapi selera sedang berganti. Orang ingin menimum sesuatu bersamaan dengan makanannya ketimbang sesuatu yang membuat dirinya mabuk.

Tapi para penggemar anggur yang antusias itu masih menghadapi masalah di India. New Delhi tidak mempunyai bar anggur dan tokoh-tokoh anggur. Anggur biasanya dijual dalam toko-toko minuman keras (miras) yang dikontrol oleh negara yang tidak diperlengkapi baik untuk menyimpan botol-botol anggur di musim panas yang suhunya tinggi. Para peminum anggur juga harus berhadapan dengan sikap ambivalen India terhadap minum-minuman alkohol. Saban tahun daerah New Delhi mengalami 21 hari ‘kering’, menandai semuanya dari hari ulangtahun Mahatma Gandhi hingga Hari Kemerdekaan, ketika semua penjualan alkohol ditunda. Ketua menteri New Delhi Sheila Dikshit dari waktu ke waktu memasang iklan di koran-koran untuk mengingatkan pembaca akan semboyan Mahatma Gandhi yaitu “Minum (miras) adalah kejahatan terhadap diri anda, hentikanlah”.

Menarik untuk dicatat bahwa satu dasawarsa yang lampu hampir tidak ada kebunkebun penanam anggur. Kini mereka dengan cepat meningkatkan produksi. Di Nasik yang terletak beberapa ratus kilometer di utara Mumbai kebunkebun anggur memproduksi minuman anggur. Ketika mulai berproduksi sejumlah 60.000 botol anggur terjual. Tahun 2007 ini diharapkan akan terjual satu setengah juta botol anggur.

India juga kini mempunyai majalah anggur yang pertama. Pemimpin redaksinya Reva Singh bilang kendati berbagai kendala, namun orang India masih minum anggur dan penjualan minuman itu melonjak terus. ***

 

Comments

Got something to say?

You must be logged in to post a comment.