WWF-Indonesia Fasilitasi Pembentukan KKL Di Perairan Solor-Lembata-Alor : Harian Berita Sore

WWF-Indonesia Fasilitasi Pembentukan KKL Di Perairan Solor-Lembata-Alor

30 April 2007 | 14:59 WIB

Lembata, NTT ( Berita ) : Sebuah organisasi konservasi, Yayasan WWF-Indonesia,memfasilitasi tiga kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mewujudkan pembentukan Kawasan Konservasi Laut (KKL) di Perairan Solor, Lembata dan Alor.

Upaya pembentukan KKL Solor-Lembata-Alor itu diawali dengan loka karya guna menyamakan persepsi, yang berlangsung di Lewoleba Kabupaten Lembata, Senin (30/04).

Lokakaryatersebutyang juga dihadiri Kepala Seksi Kawasan Konservasi Laut, Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Andi Rusandi, selain pejabat Pemkab Lembata, Flores Timur dan Alor ini, nantinya menghasilkan kesepakatan bersama tentang pembentukan KKL Solor-Lembata-Alor.

Wakil Direktur Program Kelautan WWF-Indonesia, Tri Agung mengatakan, pembentukan KKL itu bertujuan untuk melestarikan sumber daya perikanan, pariwisata dan keanekaragaman hayati, khususnya mamalia laut.

“Kami ingin mempertahankan berbagai potensi di perairan Solor, Lembata, Alor ini untuk anak cucu di masa depan. Kawasan konservasi ini sangat terkenal dengan ikan paus dan 14 dari 27 jenis paus di dunia ada di kawasan tersebut, ” ujarnya.

Agung mengatakan, WWF-Indonesia sebagai sebuah organisasi konservasi, akan terus mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat dalam melestarikan KKL hingga tiga tahun mendatang.

Hasil penelitian WWF-Indonesia dan pihak terkait pada tahun 2003 menyebutkan, perairan yang membentang dari Flores hingga Timor memiliki belasan jenis paus, dua diantaranya merupakan jenis langka yakni paus biru (Balaenoptera musculus) dan paus sperm (Physeter macrocephalus) atau sering disebut koteklema oleh masyarakat setempat.

KKL Solor-Lembata-Alor juga terletak di wilayah Segitiga Terumbu Karang (the Coral Triangle) yang memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Migrasi paus terjadi di wilayah ini karena merupakan perairan laut yang dalamnya lebih dari seribu meter sekaligus sebagai penghubung antara Samudera Hindia dan Pasifik.

Wakil Gubenur (Wagub) NTT, Drs Frans Leburaya, saat membuka lokakarya itu mengatakan, pembentukan KKL di perairan Laut Sawu itu akan sangat bermanfaat karena selama ini belum ada perlindumgan biota laut dan migrasi paus.

“Pemerintah daerah tentu tidak memiliki anggaran yang memadai untuk pelestarian KKL sehingga dibutuhkan dukungan banyak pihak termasuk WWF-Indonesia,” ujar Lebu Raya. (ant)

Comments

Got something to say?

You must be logged in to post a comment.