Tanam Kayu, 10 Tahun ke Depan Indonesia Bisa Makmur
30 April 2007 | 15:56 WIB
Sidikalang ( Berita ) : Kegiatan penanaman kayu merupakan investasi masa depan bangsa dan keluarga. Menanam bibit pohon berarti menabung uang dengan bunga yang teramat besar demi generasi mendatang. Substansi ini merupakan modal menjanjikan.
Contoh, pohon sengon dapat dipanen seharga Rp 600 ribu perton pada usia 4 tahun yang identik dengan penerimaan Rp 4050 juta. Dengan kondisi itu, tentunya menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan yangtinggi bukanlah hal sulit. Demikian dikatakan MS Kaban Ketua Umum DPPPBB (Partai Bulan Bintang) pada temu kader dengan fungsionaris DPC PBB Dairi diadakan di Balai Budaya Sidikalang, Sabtu (28/04).
Sehubungan itu, andaikan semua komponen punya persepsi sama tentang pentingnya hutan yang diwujudkan dengan pelaksanaan penanaman pohon secara kontinu, diyakini Indonesia bisa meraih kemakmuran paling tidak 10 tahun ke depan.Sebab, saat ini banyak jenis tanaman yang bisa ditebangdi bawah umur 20 tahun. Industri berkembang pesat.Sebelum menebang 1 pohon sebaiknya terlebih dahulu menanamminimal 10 bibit sebagai pengganti.Kaban yang jugaMenteri Kehutananitu memaparkan, dulunya Gunung Kiduljuga sangat gersang. Tetapimelalui gerakan bersama menyertakan Universitas Gajah Mada , lokasi itu kini menjadi sumber air yang baik penuh hujan. Selanjutnya, masyarakat meraih kesejahteraan melalui produk kayu.
Kaban juga memisalkan negara Finlandia yangmampu memberi pendidikan S1,S2 dan S3 secara gratis hanya karena besarnya potensi uang negara daripenjualan kayu. Nenek moyang masyarakat di sana sedari awal telah menyadari bagaimana peran hutan. Ia minta langkah itu diikuti.
Selain itu, kata Kaban, fungsi hutan sungguh penting dalam mempertahankan keselamatan alam. Hutan adalah penyumbang ogsigen bagi pernafasan berbagai organisme. Sebaliknya, stomata mampu mengurangi emisi racun gas carbondiksida. Maraknya penggundulan hutan telah menimbulkan pemanasan global yang ditandai dengan naiknya suhu udara bumi. Seiring itu, dipintakan agar Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat mempertahankan Ditambahkan, dari hasil pembicaraan dengan pejabat eropa, dipastikan negara-negara maju itu akan memberi dana kompensasi sampai Rp 40 triliun per tahun jika konsep pelestarian hutan Indonesia bisa dipertanggungjawabkan.
Sulit Dapatkan Kayu
Pada sesi tanya jawab, beberapa peserta mengeluhkan sulitnya masyarakat mendapatkan kayu sebagai bahan bangunan termasuk untuk rumah sendiri. Kaban mengaku dapat memakluminya. Hanya saja ia mempertanyakan, apakah bencana yang tiada henti ini akan terus mendera kita karena rusaknya hutan? Ia meminta warga memanfaatkan bahan kayu yang lain diantaranya pohon kelapa dan bambu. Ia tidak keberatan atas penebangan kayu durian terutama pada tanaman yang usianya tua. Dan dalam transoportasi, pemarintah memberi keringanan yakni cukup dilengkapi surat kepala desa seputar asal usul kayu.
Hasil teknologi berupa aluminium pengganti tiang sebaiknya dipakai sehingga ketergantungan dapat diperkecil. Sesungguhnya, Indonesia amat boros pada pemakaian kayu, tandasnya. Padahal, andaikan dikelola secara baik, pohon adalah sumberkeuangan yangmenggiurkan. Dipaparkan,peti mati di Bali mampu dijual seharga Rp 150 juta kualitas ekspor. Sayangnya, kita belum meliriknya.
Dari kondisi riil hutan, sebenarnya hanya 5 persen yang dapat diolah menjadi bahan timber sedang 95 persen lagi adalah non timber.Tetapi, eksploitasi pada porsi kecil itu telah merusakkekayaan lainnyayang dilakukan dengan membabat hutan.Kabanberulang kali menekankan agar masing-masing individu memulai menanam kayu. Di ruangan itu, anggota Kabinet Indonesia Bersatu ini menerima cenderamata berupa ulos dari masyarakat disaksikan Bupati Dairi DR Master Parulian Tumanggor dan muspida. Kaban jugalebih jauh menjelaskan klasifikasi hutan lindung, hutan produksi dan taman nasional serta relevansinya dengan hak rakyat.(hab)



Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.