Penjajahan Liberalisme Ekonomi Lebih Sengsarakan Rakyat : Harian Berita Sore

Penjajahan Liberalisme Ekonomi Lebih Sengsarakan Rakyat

30 April 2007 | 14:59 WIB

Padang ( Berita ) : Bangsa Indonesia harus mewaspadai terjadinya penjajahan baru melalui liberalisme ekonomi dalam bentuk globalisasi karena jauh lebih berbahaya dari penjajahan fisik dan lebih menyengsarakan rakyat.

Indonesia memang telah lepas dari penjajahan fisik, namun kini muncul penjajahan liberalisme ekonomi dalam bentuk globalisasi yang lebih berbahaya dan menyengsarakan rakyat, kata Direktur Pusat Kajian dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan (Puskapera) Universitas Bung Hatta, Dr Syafrizal Chan, SE, M.Si di Padang, Minggu (29/04).

Kewaspadaan ini, menurut dia, karena liberalisme akan mendorong tumbuh suburnya perekonomian kapitalis di Indonesia.

Dengan dalih investasi, kaum kapitalis akan menyerbu seluruh pelosok Indonesia sampai ke perkampungan dengan memanfaatkan tanah yang subur, upah kerja murah dan rakyat yang kurang pendidikan.

Keadaan ini semakin parah karena masyarakat selalu digiring oleh pemerintah untuk ramah dan mau bekerja sama dengan kelompok kapitalis yang mempunyai banyak uang, sehingga dapat meningkatkan lapangan kerja guna perbaikan kesejahteraannya.

Padahal, hasil produksi oleh para kapitalis tidak akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi untuk pasar dunia yang menjamin keuntungan sebesar-besarnya.

Upah tenaga kerja murah yang melimpah di Indonesia merupakan kekuatan bagi kapitalis untuk mengeruk keuntungan besar, katanya.

Dalam kondisi ini masyarakat akan semakin tertekan, tertindas dan tidak bisa berkembang. Semakin dalam kapitalisme masuk ke kehidupan masyarakat maka semakin rusak penghidupan rakyat yang sudah tidak berdaya.

Menurut Syafrizal, kalau kondisi ini tidak segera ditangkal maka tidak mustahil terulang peristiwa revolusi Prancis dengan semboyan kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan.

Akan tetapi, dalam pelaksanaannya kemerdekaan justru menindas, ketidaksamaan dan pertentangan, tambahnya.

Ia menilai, kebersamaan dalam kehidupan terlihat hanya tinggal di bibir saja karena tiap golongan kebanyakan mengejar rezeki dan keuntungan sebesar-besaranya.

Golongan didahulukan sedangkan rakyat banyak dilupakan dan dimana-mana tingkat ketidakkepuasaan tetap tinggi, serta pembangunan dirasakan belum berjalan menurut semestinya.

Ia menyebutkan, kemakmuran yang diciptakan masih jauh dari harapan sedangkan nilai uang semakin merosot dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya misteri karena tidak dinikmati rakyat banyak.

Sejalan dengan itu kemiskinan akan semakin bertambah dan masyarakat semakin tidak berdaya, tambah Syafrizal Chan. (ant)

Comments

Got something to say?

You must be logged in to post a comment.