Penderita Kusta Di Pulau Rangsang Butuh Bantuan : Harian Berita Sore

Penderita Kusta Di Pulau Rangsang Butuh Bantuan

30 April 2007 | 14:58 WIB

Bengkalis, Riau ( Berita ) : Puluhan warga yang menderita penyakit kusta (Leprae) di Puau Rangsang Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau membutuhkan bantuan pengobatan dan penyembuhan penyakit tersebut.

Warga yang menderita kusta di Pulau Rangsang, pulau yang berada di perbatasan Riau-Malaysia tepatnya Desa Bungur Kecamatan Rangsang telah berlangsung lama dan pada Minggu (29/04) dikunjungi Wakil Gubernur Riau H. Wan Abu Bakar MS.

Para penderita umumnya berasal dalam lingkungan satu keluarga, hidup mereka terkucilkan dan tidak berobat karena ketiadaan biaya sehingga penyakit yang disebabkan kuman Mycobacterium Laprae itu telah menyebabkan cacat fisik pada penderita.

Beberapa penderita yang ditemui Wakil Gubernur dirumah mereka mengakui penyakit tersebut telah lama mereka derita dan tidak diobati karena ketiadaan biaya serta tidak adanya obat.

“Kami bukan tidak mau berobat sejak awal, tetapi biayanya tdak ada,” ujar M. Daeng (53) seorang warga Bungur yang mengaku telah sejak 20 tahun menderita penyakit kusta.

Jari jemari kakinya telah mengerut begitu juga jemari tangan. Dan sejak delapan bulan lalu ia dibantu anaknya dapat menjalani pengobatan ke Puskesmas di Selatpanjang. Sejak menjalani pengobatan itulah luka yang dideritanya mengering, seluruh bercak putih disekujur tubuhnya juga menghilang.

“Walau luka dikaki telah sembuh tetapi mati rasanya,” katanya ketika ditanya Wakil Gubernur perihal penyakit yang dideritanya.

Ia mengakui, baru dalam beberapa bulan terakhir dapat berobat karena selama ini ia tidak mampu mencari uang dan biayanya berobat ditanggung oleh anak menantunya.

Kondisi yang tragis dialami Raja (13) anak pasangan Rofini (30) dan Kholijah (29). Bocah laki-laki yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal itu sekujur tubuhnya memutih dan mati rasa sedangkan kakinya telah cacat permanen akibat kuman kusta.

Penyakit kusta basah yang dideritanya membuat anak kedua dari delapan bersaudara itu terisolasi dan tidak pernah bergaul atau bermain bersama teman-teman sekampungnya.

“Tolonglah obat anak saya Pak. Kami miskin jangankan untuk berobat makan saja susah Pak,” ujar Kholijah berurai air mata ketika Wakil Gubernur mendatangi rumahnya yang amat sederhana dan dalam kondisi lapuk.

Ia mengatakan, saat lahir Raja berkulit bersih dan masa kecilnya lincah. Namun, sejak tiga tahun lalu hingga kini anaknya tidak lagi lincah bergaul tetapi berubah pemurung dan ketika bertemu orang lain amat pemalu.

Sebelum Raja terserang kusta, ayahnya Rofini juga mengalami gejala menderita kusta yakni berupa bercak-bercak putih di tubuhnya yang mati rasa. Tetapi ia cepat berobat sehingga kuman kusta yang mengerogoti tubuhnya tidak berkembang biak.

“Saya makan obat selama enam bulan. Saya telah sembuh tetapi tahu-tahu terjangkit pada anak saya,” ujar Rofini yang sehari-hari bekerja sebagai buruh di panglong arang.

Karena ketiadaan biaya, kondisi anaknya dibiarkannya hingga kini si anak menderita kusta basah.

Menanggapi banyaknya warga yang menderita kusta di daerah terisolir itu, Wakil Gubernur juga amat prihatin padahal pemerintah aderah telah mencanangkan pelayanan kesehatan yang baik termasuk mengratiskan biaya berobat terutama pada penderita kusta.

Tetapi, lanjut dia, program tersebut tidak sampai di masyarakat bahkan untuk berobat ke Puskesmaspun masyarakat harus merogoh saku Rp50.000.

“Penyakit ini berkembang biak telah menahun dan penanganannya tidak berjalan baik,” kesalnya.

Menurut dia, kesalahan merebaknya kasus penyakit itu terutama karena kelalaian dari para petugas kesehatan yang ditempatkan didaerah itu untuk mensosialisasikan kepada masyarakat agar mau berobat dan penyakit tersebut dapat disembuhkan.

Ia mengaku, masyarakat yang menderita penyakit kusta tidak hanya mengalami penderitaan fisik karena cacat permanen tubuh merekatetapi juga penderitaan psikis dan terasingkan. Itu yang menyebabkan mereka enggan berobat dan bertemu orang lain.

“Faktor utamanya adalah kemiskinan,” ujar Wan Abu Bakar perihal sulitnya memberantas penyakit kusta di pulau yang berada di perairan Selat Melaka itu dengan kondisi alamnya rawa gambut.

Ia mengatakan, akan meminta perhatian lebih dari Dinas Kesehatan Riau untuk memberantas penyebaran kuman kusta di daerah itu dan ia juga langsung memerintahkan petugas puskesmas pembantu di daerah itu tidak memungut bayaran dari masyarakat yang berobat.

Sementara itu Kepala Desa Bungur Abdul Wahid mejelaskan, sejak diberitakan melalui LKBN Antara pada dua pekan lalu perihal penderita kusta di daerahnya, baru Jumat (27/4) kemarin petugas dari Dinas Kesehatan Bengkalis datang memeriksa penderita.

“Selama ini jika kami laporkan kondisi daerah terutama masalah kesehatan dan meminta obat untuk penderita kusta, selalu tidak ditanggapi. Tapi sejak ibuk memberitakan banyaknya penderita kusta di daerah kami ini barulah petugas datang,” kata Wahid kepada Wartawan. (ant)

Comments

Got something to say?

You must be logged in to post a comment.