Deptan Targetkan 2010 Impor Daging Tinggal 10 Persen
30 April 2007 | 15:05 WIB
Jakarta ( Berita ) : Departemen Pertanian menargetkan tingkat impordaging secara nasional bisa ditekan hingga menjadi sebesar 10 persen pada 2010.
Dirjen Peternakan Deptan, Mathur Riady di Jakarta, Senin (30/04) menyatakan saat ini ketergantungan terhadap daging impor untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri mencapai 28 persen dari produksi nasional.
“Pada 2010 diharapkan tercapai swaswmbada daging sehingga ketergantungan pada impor bisa ditekan,” katanya.
Menurut dia, saat ini konsumsi daging asal ternak sapi sebesar 350.590 ton sedangkan penyediaan dari dalam negeri baru mencapai 298.591 ton.
Jadi, tambahnya, kekurangannya dipenuhi dari impor baik dalam bentuk bakalan, daging maupun jeroan sebanyak 58 ribu ton atau setara 216 ribu ekor sapi.
Mathur menyatakan, salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah untuk mencapai kecukupan daging pada 2010 yakni dengan program percepatan produksi.
Dia mengatakan, pada 2006 kebutuhan konsumsi daging sapi nasional mencapai 356,5 ribu ton sedangkan penyediaan dalam negeri 252,0 ribu ton.
Dengan kondisi tersebut terlihat selisih antara konsumsi dan produksi daging sebesar 29 persen yakni mencapai 104,4 ribu ton atau sekitar 740 ribu ekor.
Sementara itu pada 2010 konsumsi daging diperkirakan mencapai 414,1 ribu ton sedangkan produksi jika tanpa upaya percepatan akan menurun menjadi 231,8 ribu ton.
Hal itu memperlihatkan selisih antara konsumsi dan produksi semakin meningkat yakni mencapai 44 persen atau kekurangannya sebanyak 182,3 ribu ton setara 1,29 juta ekor.
Sementara itu, menurut Mathur, dengan program percepatan produksi daging nasional maka penyediaan dalam negeri pada 2010 bisa dipacu menjadi 375,8 ribu ton.
Dengan demikian tingkat kekurangannya lebih kecil dibanding 2006 yakni hanya sebesar 9 persen atau 38,2 ribu ton setara 271,3 ribu ekor sapi.
Mathur menyatakan, upaya percepatan produksi tersebut dilakukan melalui program pengembangan sapi potong rakyat yang di fokuskan pada 12 provinsi.
Ke 12 provinsi tersebut yakni Aceh Darusalam, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah dan Jogjakarta.
Selain itu Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
“Selain mengurangi ketergantungan impor program ini diharapakan juga mampu menyelamatkan devisa,” katanya.
Menyinggung, kendala untuk program pengembangan sapi potong rakyat tersebut, Dirjen mengakui yakni ketersediaan bibit sapi potong terlebih lagi tingkat pemotongan sapi betina produktif juga masih tinggi mencapai 200 ribu ekor per tahun.
Jika sapi tersebut dalam kondisi bunting, tambahnya, maka jumlahnya bisa disetarakan 300 ribu ekor.
Untuk mendukung program percepatan produksi daging maka pemerintah melakukan pengadaan sapi betina produktif yang mana pada 2006 sebanyak 1.886 ekor, sedangkan pada 2007 diharapkan naik menjadi 4000 ekor dan 2008 meningkat menjadi 20 ribu ekor.
Selain itu untuk meningkatkan angka kelahiran akan ditempuh melalui inseminasi buatan (IB) yang mana ditargetkan ternak yang di IB per tahun mencapai 1,5 juta ekor. (ant)


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.