Romusha
13 April 2007 | 08:27 WIB
ROOMUSHA sebagai anda ketahui berarti ‘pekerja paksa’ di zaman penduduk Jepang (1942-1945). Ketika itu tentara Jepang yang membutuhkan ratusan ribu kuli untuk dipekerjakan dalam pembangunan kereta api di Birma sebagai tenaga pembantu tentara Dai Nippon di medan perang di Pasifik menghadapi tentara Sekutu, terutama Amerika, menculik, mengangkut secara paksa orang-orang itu dari desa-desa. Mereka dinamakan roomusha. Sebagian besar roomusha itu mati karena kelaparan, penyakit, dan sebagainya.
Bukan saja laki-laki, melainkan juga perempuan dijadikan roomusha seks oleh tentara Jepang. Gadis-gadis di berbagai negeri seperti Korea, Filipina, Indonesia dijadikan Iugun Yanfu atau pelacur untuk memuaskan hawa nafsu seks perjurit dan perwira Jepang. Mereka juga disebut ’comfort woman’.
Sebanyak 200.000 perempuan dari Asia telah dicempelungkan kedalam perbudakan seks oleh militer Jepang. Sehabis perang pihak pemerintah Jepang tidak mau mengakui perbuatannya tadi. Hal ini menimbulkan protes di berbagai negeri Asia.
Pada awal Maret 2007 PM Jepang Shinzo Abe memberikan keterangan bahwa tidak ada bukti militer Jepang dalam perang dunia II telah memaksa perempuan menjadi roomusha seks. Kontan tanggal 10 Maret datang reaksi dari tiga perempuan yang sudah nenek-nenek dengan membeberkan pengalaman pahit mereka sebagai pekerja seks.
Seorang perempuan Taiwan berusia 90 tahun, seorang dari Korea Selatan di Seoul berusia 78 tahun dan seorang Indo-Belanda berusia 84 tahun yang kini berdiam di Adelaide, Australia melancarkan protes depan gedung konsulat Jepang di Sydney.
Wu Hsiumei (90) yang spesial terbang dari Taipai ke Sydney berkata ’Saya diambil dengan paksa oleh para perwira Jepang dan seorang dokter militer Jepang memaksa saya membuka pakaian untuk memeriksa saya sebelum saya dibawa pergi. Bagaimanakah PM Abe bisa berbohong kepada dunia seperti itu ?’
Saya tertarik kepada laporan wartawan Norimitsu Onishi yang menulis dari Sydney tentang kisah mantan roomusha perempuan itu, karena cerita ini sudah lama sekali diungkapkan di masa lampau.
Telah terjadi penyangkalan oleh pemerintah Jepang, kemudian ada juga permintaan maaf, walaupun dengan setengah hati, selanjutnya kritik dari komunitas internasional terhadap sikap Jepang tadi yang berlagak pilon atau seolah tak tahu sama sekali, seterusnya Jepang bersedia membayar ganti kerugian kepada mantan Iugun Yanfu tadi, tapi hanya sekelompok kecil yang mau menerimanya, dan bagaikan api dalam sekam kemarahan, kejengkelan terhadap sikap Jepang tidak habis-habisnya. Sampai saat ini, masih begitu.
Kisah perempuan Indo-Belanda Jan Ruff O’Herne (84) yang kini berdiam di Adelaide mengenai pengalaman-nya di Jawa melukiskan tingkah laku militer Jepang. Ruff beserta keluarganya tinggal di Hindia Belanda ketika Jepang menyerbu Jawa tahun 1942. Dia dimasukkan ke dalam kamp interniran.
Setelah dua tahun di sana para perwira Jepang pada suatu hari mengunjungi kamp itu. Mereka paksa gadis-gadis yang ada di sana berdiri dalam barisan, lalu memilih sepuluh orang diantara yang dinilai cukup cantik. Dalam rombongan itu terdapat Ruff, berusia 21 tahun.
Pada malam pertama, kata Ruff, datang seorang perwira berpangkat tinggi untuk mengadakan hubungan seks. Perwira itu punya pedang (samurai) yang bagus. Tempat perempuan-perempuan roomusha seks itu dior-ganisir dengan bagus sekali. Seorang dokter militer datang secara teratur ke rumah kami tinggal untuk memeriksa apakah kami ketularan penyakit raja singa alias siphilis.
’Saja katakan kepada anda bahwa sebelum saya diperiksa, dokter itu terlebih dahulu memerkosa saya. Itulah kenapa saya bilang semuanya diorganisir dengan bagus’ ujar Ruff.
Setelah dibebaskan dari rumah pekerja seks tadi Ruff balik ke kamp interniran. Orang tuanya bilang supaya dia jangan bercerita apa-apa mengenai apa yang sudah terjadi atas dirinya. Akan tetapi di kamp interniran itulah dia bertemu dengan bakal suaminya yakni perjurit Inggeris Tom Ruff yang bersama tentara Sekutu di bawah pimpinan Letjen Christison mendarat di Tanjung Periok akhir September 1945.
Tom mendapat tugas sebagai tentara Inggeris yang menjadi kamp interniran. Dia ceritakan riwayat hidupnya kepada Tom satu kali sebelum mereka kawin, lama sebelum mereka memperoleh dua orang putri dan pindah ke Australia.
’Tapi saya perlu berbicara tentang hal itu ’ujar Ruff. Saya tidak pernah dapat berbicara mengenai hal itu dengan suami saya. Saya cinta Tom dan saya ingin menikah dan punya rumah. Saya menginginkan sebuah keluarga, kepingin punya anak, tetapi tidak ingin seks.
Dia terpaksa harus bersabar dengan saya. Dia seorang suami yang baik hati. Tapi lantaran kami tidak bisa membicarakannya, segala-galanya menjadi begitu sulit dan berat’.Putrinya Carol (55) berkata ’Mama, ’kan bisa ngomong dengan Papa tentang hal itu’.
’Tidak bisa. Inilah yang selalu saya katakan. Hanya satu kali saya ceritakan kisah itu kepada Papa. Hal itu tak pernah lagi dibicarakan. Bagi generasi tersebut, kisah-nya terlalu besar. Bapakku tidak mampu menanganinya. Ibuku begitu juga tak bisa menanggulanginya. Tom tak bisa menanggulanginya. Semua mereka hanya men-diamkannya.
Tapi sekarang ini, kita bisa segera dapat pertolongan nasehat atau counselling. Kamu tak tahu betapa beratnya memikul beban luar biasa ini di dalam batin kita, yang ingin kita teriakkan kepada dunia luar, namun tak bisaÓ ujar Ruff.


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.